Taipei, 29 Nov. (CNA) Sejumlah perusahaan Taiwan di Sumatera Utara yang memproduksi sarung tangan karet serta ubin dan semen terdampak cukup besar oleh bencana banjir di sana beberapa hari ke belakang, kata Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei (TETO) di Indonesia kepada CNA pada Jumat (28/12) malam.
Banjir bandang telah merendam sebagian provinsi Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat sejak Senin, diakibatkan hujan dan angin kencang yang dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dilansir BBC News Indonesia.
Per Jumat malam, Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bencana ini telah mengakibatkan sebanyak 174 orang meninggal dunia, 79 hilang, dan 12 lainnya luka-luka, dilansir CNN Indonesia.
Sumatera Utara mencatat jumlah korban meninggal tertinggi, yaitu 116 orang, sementara 42 lainnya masih dicari, KOMPAS.com melaporkan pada Jumat malam.
Kepada CNA, TETO mengatakan mereka telah menguasai informasi terkait bencana tersebut dan secara proaktif menghubungi para pengusaha Taiwan di Sumatra, khususnya di Sumatra Utara, wilayah dengan jumlah investasi terbanyak dari negara tersebut, untuk menyampaikan perhatian dan kepedulian.
Gudang perusahaan, jalan penghubung kawasan industri, serta jalur logistik pelabuhan pengusaha Taiwan terendam banjir sehingga pengiriman barang tidak dapat dilakukan secara normal, kata TETO.
Namun, para pekerja dan tempat tinggal mereka dalam keadaan aman, dan setelah banjir surut, aktivitas operasional dapat dipulihkan secara bertahap, tambah kantor tersebut.
Hingga Jumat malam, belum ada kebutuhan akan bantuan dari pemerintah Taiwan, kata TETO, menambahkan bahwa mereka akan terus menjalin komunikasi dengan para pengusaha Taiwan di Sumatra Utara serta memberikan pertolongan yang diperlukan.
Selesai/