Penyalaan pohon Natal hotel Taipei diterangi harapan perekrutan adil pekerja migran

28/11/2025 16:01(Diperbaharui 28/11/2025 16:01)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Penyalaan pohon Natal setinggi hampir 12 meter di Hotel Regent Taipei hari Kamis. (Sumber Foto : CNA, 27 November 2025)
Penyalaan pohon Natal setinggi hampir 12 meter di Hotel Regent Taipei hari Kamis. (Sumber Foto : CNA, 27 November 2025)

Taipei, 28 Nov. (CNA) Rencana diizinkannya pekerja migran terampil tingkat menengah untuk bekerja di industri perhotelan Taiwan akan membentuk siklus positif berupa "perlakuan adil", yang membantu meningkatkan citra internasional negara, kata Ketua Silks Hotel Group Steven Pan (潘思亮), Kamis (27/11).

Yuan Eksekutif baru-baru ini menyetujui rencana pembukaan tenaga teknis asing untuk perhotelan, yang perekrutannya harus ditempuh melalui pusat rekrutmen Kementerian Ketenagakerjaan di luar negeri, bukannya agensi. Untuk setiap satu pekerja migran tambahan, pemberi kerja juga diwajibkan menaikkan gaji satu pegawai lokal sebesar NT$2.000 (Rp1,063 juta).

Baca juga: Taiwan akan rekrut pekerja migran untuk sektor perhotelan

Dalam wawancara setelah upacara penyalaan pohon Natal setinggi hampir 12 meter di Hotel Regent Taipei hari Kamis, Pan mengatakan pihaknya akan mendukung kebijakan tersebut secara aktif.

Ciri khas kebijakan ini adalah bahwa untuk setiap perekrutan seorang pekerja migran, perusahaan juga harus meningkatkan gaji tenaga kerja lokal, sehingga menciptakan siklus positif "perlakuan yang adil", menurutnya.

Pemerintah juga untuk pertama kalinya melakukan perekrutan langsung di luar negeri, membangun preseden internasional untuk "perekrutan yang adil", yang dapat mencegah pekerja migran menanggung utang besar akibat biaya agensi, serta meningkatkan citra internasional Taiwan, kata Pan.

Kekurangan tenaga di industri perhotelan yang mencapai 20–30 persen dapat ditutup sekitar setengahnya oleh kebijakan yang mengizinkan perusahaan mempekerjakan pekerja migran hingga 10 persen dari seluruh pegawai, kata Pan, menambahkan bahwa setelah jumlah tenaga kerja terpenuhi, hotel dapat menerima lebih banyak bisnis.

Terkait subsidi pariwisata domestik, Pan menyatakan hal itu memang membantu, tetapi solusi fundamentalnya adalah pelaku industri harus meningkatkan diri, menyelaraskan kualitas pariwisataan dengan standar internasional agar dapat mempertahankan konsumen Taiwan.

Ia juga menegaskan kembali bahwa masalah utama pariwisata domestik adalah kekurangan tenaga kerja, yang telah membuat para pegawai yang ada bekerja berlebihan dan lebih banyak pekerja mengundurkan diri, yang semakin memperburuk kekurangan sumber daya manusia dan menciptakan siklus negatif.

Tingginya perputaran pegawai ini menyebabkan kualitas layanan tidak stabil, dan menjadi alasan utama kritik terhadap kualitas pariwisata Taiwan, menurut Pan.

"Industri pariwisata Taiwan sebenarnya terbelenggu oleh masalah kekurangan tenaga kerja," dan menuntaskannya merupakan titik awal yang sangat penting untuk menyelesaikan problem pariwisata Taiwan secara keseluruhan, kata Pan.

Jika kekurangan tenaga kerja tidak diselesaikan, kebijakan libur tiga hari per pekan -- yang telah diajukan masyarakat melalui petisi daring meski belum ditanggapi secara resmi oleh pemerintah -- tetap tidak akan menghasilkan nilai ekonomi pariwisata karena tidak ada yang memberikan layanan, ujarnya.

Ketua Silks Hotel Group, Steven Pan. (Sumber Foto : CNA, 27 November 2025)
Ketua Silks Hotel Group, Steven Pan. (Sumber Foto : CNA, 27 November 2025)

Pan juga mengatakan kesan bahwa kamar hotel di dalam negeri mahal sebagian besar berasal dari harga tinggi selama libur panjang, padahal Taiwan terbilang cukup kompetitif, bahkan bisa lebih rendah jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Asia Utara.

Terkait prospek pasar wisata dari luar negeri, Pan menyatakan tahun depan Taiwan harus mengejar keseimbangan antara kualitas dan kuantitas, bukan hanya jumlah wisatawan.

Salah satu tantangannya, menurutnya, adalah banyak warga Taiwan yang bepergian ke luar negeri dan memakan kapasitas kursi pesawat pada penerbangan pulang, sehingga meningkatkan biaya tiket pesawat bagi wisatawan asing yang ingin datang.

Selain itu, Pan menyinggung bahwa Taman Nasional Taroko, yang termasuk dalam tiga objek wisata paling terkenal di mata wisatawan asing di samping National Palace Museum dan Taipei 101, merupakan mesin penggerak utama perekonomian kabupaten Hualien–Taitung di Taiwan timur.

Penutupan Taroko sejak gempa besar pada 3 April 2024 menimbulkan dampak besar pada pariwisata di Hualien–Taitung, dengan tingkat okupansi hotel yang tinggal separuh dari sebelum bencana tersebut, kata Pan.

Baca juga: Kisah mengerikan korban selamat gempa bumi: Batu-batu jatuh seperti peluru

Setelah 1,5 tahun perbaikan, sebagian jalan di kawasan taman telah selesai diperbaiki, kata Pan, yang menganjurkan penggunaan manajemen berbasis sains serta pembukaan kawasan secara proporsional, guna menghindari penutupan berskala besar dan membantu pemulihan pariwisata Hualien–Taitung.

(Oleh Chiang Ming-yen dan Jason Cahyadi)

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.