Sopir bus berprestasi Taipei kenang perjumpaan haru dengan lansia dan PMI

17/11/2025 14:50(Diperbaharui 17/11/2025 14:50)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Wu Wei-chi (kanan), sopir di Taipei Bus, menerima penghargaan dari Wali Kota Taipei Chiang Wan-an (tengah), Sabtu. (Sumber Foto : CNA, 15 November 2025)
Wu Wei-chi (kanan), sopir di Taipei Bus, menerima penghargaan dari Wali Kota Taipei Chiang Wan-an (tengah), Sabtu. (Sumber Foto : CNA, 15 November 2025)

Taipei, 17 Nov. (CNA) Mata Wu Wei-chi (吳維祈), sopir di Taipei Bus, memerah ketika mengingat memorinya bersama seorang mendiang teman yang didapatnya saat bertugas di bus, penumpang lansia yang selalu ditemani pekerja migran Indonesia (PMI).

Wu hari Sabtu (15/11) menerima penghargaan pengemudi teladan dari Departemen Transportasi Kota Taipei, menjadi yang ketiga kalinya selama 17 tahun ia memegang setir.

Sebelum acara, Wu mengatakan kepada CNA bahwa ia senang setiap kali mendapatkannya, tetapi selalu langsung melupakannya, karena menurutnya yang lebih penting adalah tetap bekerja dengan sepenuh hati setiap hari.

Mengenang pengalaman yang tak terlupakan dalam kariernya, Wu bercerita bahwa sebelum merebaknya COVID-19, ada seorang lansia yang selalu naik bus di halte dan waktu yang sama, ditemani seorang perawat migran Indonesia.

Lama-kelamaan mereka saling mengenal, dari hanya sekadar menyapa hingga sering mengobrol di dalam bus, layaknya teman baik, kata Wu. Namun, beberapa bulan kemudian, pada suatu hari kerja biasa, ucapnya, ia tiba di halte itu tetapi hanya melihat perawat tersebut naik sendirian.

Ia bertanya-tanya dan akhirnya mengetahui bahwa lansia itu dirawat di rumah sakit, yang membuatnya merasa sangat sedih dan memutuskan akan menjenguk ke rumah sakit. Namun, tak lama kemudian, sang perawat memberitahunya bahwa temannya itu telah meninggal.

Beberapa waktu setelah itu, di halte yang sama, perawat tersebut naik bus bersama keluarga sang lansia, untuk mengucapkan salam perpisahan dan berterima kasih kepada Wu, seiring sang PMI akan pulang ke Indonesia. Itulah terakhir kalinya bertemu mereka.

Meski itu peristiwa lima tahun lalu, Wu masih menahan air mata ketika mengingat waktu yang ia habiskan bersama lansia itu dan perawatnya. Ia mengatakan bahwa itu adalah pengalaman paling menyedihkan sekaligus paling mengharukan selama 17 tahun menjadi pengemudi.

Wu mengenang bagaimana ia menyaksikan perawat tersebut merawat sang lansia dengan penuh kasih, dan melihat pihak keluarga memperlakukan PMI itu dengan baik. Bagi Wu, semua itu menjadi simbol mengapa ia memandang pekerjaannya sebagai sebuah misi.

Saat wawancara berlangsung, seorang wanita dari kejauhan melambaikan tangan memberi isyarat agar Wu memasuki ruangan. Wartawan pun penasaran dan bertanya siapa sosok itu. Wu langsung tersenyum lebar dan berkata bahwa ia adalah istrinya, "Dan kami kenalan di dalam bus, lo."

Wu bercerita bahwa itu terjadi pada tahun pertamanya bekerja sebagai pengemudi bus. Saat itu, istrinya masih menjadi penumpang yang setiap hari naik bus yang sama antara Xindian dan Tucheng di New Taipei.

Suatu kali, kata Wu, istrinya ketiduran dan melewatkan halte tujuannya, lalu ia membangunkannya dan sejak saat itu hubungan mereka mulai terjalin.

Ketika ditanya apakah ia akan mendorong anak muda yang ingin mencari belahan jiwa untuk menjadi sopir bus, Wu tertawa dan mengakui saat itu ia memang mendapat "keuntungan posisi strategis", tetapi tetap saja jodoh itu soal takdir. Di sampingnya, sang istri tersenyum dan mengangguk.

Departemen Transportasi mengatakan, bus-bus di Taipei melayani lebih dari 1,08 juta penumpang setiap hari. Para pengemudi menghubungkan setiap perjalanan di kota ini, sekaligus menjadi penjaga kehidupan sehari-hari para lansia, pelajar, dan keluarga, kata mereka.

Sebanyak 150 pengemudi teladan yang menerima penghargaan tahun ini telah menjadikan profesionalisme dan antusiasme sebagai tindakan nyata, sehingga layanan bus menjadi lebih aman dan ramah, kata departemen tersebut.

Wali Kota Taipei Chiang Wan-an (蔣萬安) dalam pidatonya sebelum penyerahan penghargaan menyampaikan bahwa selain mewakili warga untuk berterima kasih atas kontribusi para sopir bagi kota ini, juga ingin berterima kasih kepada keluarga yang mendukung mereka dari belakang.

Pemerintah kota, ujarnya, akan terus mempromosikan budaya saling menghormati dan keramahan agar Taipei menjadi semakin hangat.

(Oleh Chen Yu-ting dan Jason Cahyadi)

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.