Taipei, 25 Sep. (CNA) Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di salah satu pabrik di Taichung meninggal dunia diduga karena dianiaya oknum sebuah perguruan pencak silat milik warga negara Indonesia (WNI), Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei menyebut menyerahkan proses penyelidikan ke pihak berwajib di Taiwan.
Seorang aktivis organisasi Dharma Ayu yang enggan disebut namanya menceritakan kepada CNA bahwa korban yang diketahui bernama Dodo adalah bagian dari organisasi tersebut dan bertugas sebagai pengurus bendahara II,
Kejadian yang menimpa Dodo bermula saat korban menirukan gerakan pencak silat milik salah satu perguruan dan diunggah di media sosial.
Merasa tak terima, oknum perguruan pencak silat tersebut menilai bahwa mendiang melakukan penghinaan, apalagi yang bersangkutan bukan anggota mereka, menurut aktivis yang juga rekan korban.
Akibatnya, mendiang diminta untuk meminta maaf secara khusus kepada organisasi tersebut dan dilakukan mediasi oleh salah satu aktivis dari organisasi PMI terbesar di Taiwan itu. Namun, meskipun korban sudah menyampaikan permintaan maaf, beberapa hari kemudian masalah tersebut dianggap belum selesai oleh pihak perguruan silat itu.
Beberapa oknum di perguruan pencak silat pun meminta mendiang untuk menjadi anggotanya, yang kemudian ia sanggupi. Namun, selang beberapa waktu, ia mengeluh ke teman-temannya bahwa ia tak sanggup meneruskan latihan karena ada tindak kekerasan yang ia terima selama latihan. Ini membuatnya mengundurkan diri pada pertengahan September, menurut aktivis itu.
Tidak lama kemudian, Dodo dikabarkan masuk rumah sakit setelah diduga mendapat penganiayaan dari perguruan silat tersebut.
Dodo sempat mendapatkan perawatan karena menderita memar dan masuk ke sebuah rumah sakit di Taichung pada Minggu (21/9) siang hingga dikabarkan meninggal pada Selasa pukul 3 sore, menurut informasi dari aktivis tersebut.
Di kalangan organisasi Dharma Ayu, Dodo dikenal sebagai orang yang baik dan sangat humoris. Dodo juga pernah berkata akan menikah April tahun depan. Namun takdir berkata lain, pria asal Kedokan, Indramayu, Jawa Barat ini telah tutup usia.
Saat dihubungi CNA, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei, Arif Sulistiyo mengatakan bahwa pihaknya turut berduka cita atas kejadian tersebut dan akan berkoordinasi dengan dengan otoritas terkait untuk memastikan jenazah ditangani dengan baik.
"Atas nama KDEI Taipei, kami menyampaikan rasa duka mendalam dan turut berduka cita atas wafatnya salah satu saudara kita, PMI atas nama Widodo," kata Arif.
"Sejak hari Minggu kemarin sampai dengan hari ini, KDEI Taipei telah berkoordinasi untuk memastikan jenazah ditangani dengan baik dan KDEI Taipei terus berkoordinasi dengan rumah sakit, kepolisian, kejaksaan dan juga agensi serta majikan, selain itu juga KDEI Taipei telah melakukan komunikasi dengan keluarga. Penyebab meninggalnya sedang dalam penyelidikan otoritas berwenang," ujarnya.
"Saya mengajak semua ormas/komunitas WNI di Taiwan, untuk tetap menjaga solidaritas dan persaudaraan dalam bentuk dukungan doa. Saya juga minta seluruh ormas/komunitas untuk menjaga kerukunan, tidak terprovokasi, dan bersama-sama menciptakan suasana yang damai dan tentram," kata Arif.
"Mari kita serahkan sepenuhnya pada proses hukum Taiwan. Siapa pun yang terbukti bersalah akan diproses sesuai hukum setempat,” sambungnya.
Selesai/JC/IF