Oleh Sunny Lai dan Jennifer Aurelia, reporter staf CNA
Di pagi hari kerja yang biasanya tenang di Distrik Wanhua, Taipei, suatu Kamis terdengar riuh. Suara kotak-kotak yang dipindahkan dan canda tawa ceria dari rumah seorang wanita tua membuyarkan keheningan yang sering menyelimuti jalanan.
"Oh tidak, air seninya telah tumpah ke mana-mana," seru seorang pria berusia 70-an setelah secara tidak sengaja menumpahkan pot tanaman di rumah wanita yang butuh bantuan.
Chen (陳), nama pria itu, telah membersihkan rumah-rumah untuk orang tua dan orang berkebutuhan khusus sejak Agustus 2022, dan merupakan satu dari 3.000 tunawisma yang terdaftar di Taiwan.
Pekerjaan yang mempertemukan mereka yang membutuhkan
Diluncurkan pada 2020 oleh Do You a Flavor, program "Helping Hand Work Team" menghubungkan tunawisma di Taipei dengan penduduk yang membutuhkan bantuan untuk membersihkan rumah mereka.
Manajer proyek Chen Ying-chieh (陳盈婕) menjelaskan kepada CNA dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa kesempatan tersebut memberi orang tunawisma peluang untuk mencari nafkah.
Tim tersebut menangani sekitar tujuh hingga delapan pekerjaan berdurasi tiga jam setiap minggunya, katanya, seraya menambahkan setiap orang yang membersihkan dibayar NT$900 (Rp436,009) per shift dalam bentuk tunai.
Stereotip tunawisma
Chen, yang telah membersihkan lebih dari 100 rumah sejauh ini, mengatakan dia sekarang tidak takut menghadapi banyak kecoa. Namun, kekhawatirannya yang terbesar adalah dituduh mencuri.
Sebuah insiden yang jarang tetapi menyakitkan baginya adalah ketika NT$3,000 hilang dari rumah seorang penduduk dan tim tersebut dituduh. "Dituduh sebagai pencuri saat bekerja sangat tidak nyaman," kenangnya.
Hambatan hambatan untuk kembali bekerja
Chen mengatakan kepada CNA bahwa ia masih merasa "Nyaman" setelah mengisi 21 kantong plastik dengan sampah dari rumah perempuan paruh baya di Wanhua.
Uang tunai yang dia terima dari pekerjaan tersebut, bersama dengan upah dari beberapa pekerjaan kasual lainnya, memungkinkannya untuk mulai menyewa rumah pada Januari 2023.
Namun ia tak memungkiri banyak juga tunawisma rekanannya yang bekerja di bidang ini tak bisa mengelola penghasilan dengan baik.
Chen Ying-chieh menilai bahwa banyak individu tunawisma yang bisa bekerja seperti ini dan tergolong rajin, tetapi pengalaman hidup mereka mungkin telah mempengaruhi keterampilan komunikasinya.
Di sudut lain Wanhua, cerita lainnya terungkap.
Tung (董), seorang pria berusia 60-an asli dari Kabupaten Hualien, berakhir di Taipei sekitar sembilan tahun lalu setelah rumah keluarganya harus dijual karena masalah keuangan.
Saat tidak memiliki pekerjaan dan menjadi tunawisma, dia sering menghabiskan malamnya dengan minum alkohol di Taman Bangka dan kemudian tidur di rumput di siang hari, katanya.
Bangkit dan pergi
Musim panas lalu, kehidupan Tung berubah ketika dia melihat seorang tunawisma lainnya bekerja sebagai navigator kota untuk membantu turis di sekitar Stasiun Utama Taipei.
Program navigator kota tersebut, dimulai pada 2019, bertujuan untuk membantu tunawisma mendapatkan kepercayaan diri dan membangun keterampilan yang dibutuhkan untuk tempat kerja. Mereka bekerja di dan sekitar Stasiun Utama Taipei dan Stasiun Kuil Longshan - dua tempat yang sering dikunjungi oleh turis.
Tung mengatakan dia saat ini bekerja empat jam sehari, lima hari seminggu, dan mendapatkan sekitar NT$3,500 setiap minggu. Dia berharap bisa menghemat cukup uang untuk menyewa tempat tinggal.
Setelah bekerja sebagai navigator kota selama lebih dari sembilan bulan, ia mengatakan pekerjaan itu mendorongnya untuk berhenti minum karena penting untuk memiliki pikiran yang jernih.
"Jika anda minum alkohol, otak anda akan kacau dan anda akan kesulitan memberikan arah yang benar," tambahnya.
Dukungan komprehensif
Wang Ding-hung (王椗煌), seorang pengawas di Meja Layanan Ketenagakerjaan Distrik Wanhua kantor tersebut, mengatakan program tersebut membantu meningkatkan harga diri tunawisma.
Menurut dia, seragam dan bantuan yang diterima oleh tunawisma membantu mereka melarikan diri dari identitas tunawismanya.
"Alih-alih melihat diri mereka sebagai seseorang yang kotor tidur di jalanan, kami mengubah mereka menjadi navigator yang bersih dan mampu yang mampu membantu orang lain," kata Wang.
Ia menilai peningkatan kepercayaan diri ini dapat membantu membuka jalan bagi mereka untuk kembali ke pasar kerja.
Kantor tersebut juga memberikan bantuan pekerjaan kepada individu tunawisma lainnya, termasuk mencocokkan mereka dengan lowongan pekerjaan dan menyediakan sumber daya yang diperlukan seperti kamar mandi bagi mereka untuk membersihkan diri dan pakaian sebelum wawancara kerja, katanya.
Kembali bangkit
Menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, Taiwan memiliki 2,934 individu tunawisma terdaftar pada 2023, angka yang tetap stabil sejak 2019.
Berdasarkan data kantor tersebut, mereka telah mencocokkan lowongan pekerjaan untuk individu tunawisma sebanyak 653 kali pada 2023. Sebanyak 359 orang kemudian dipekerjakan, sebagian besar bertugas di bidang kebersihan atau keamanan, dengan gaji bulanan rata-rata NT$27,000.
Sekitar 60 persen individu tunawisma di Taiwan bekerja, tetapi itu tidak berarti mereka memiliki pekerjaan yang stabil dan jangka panjang, kata Yu Szu-hsien (余思賢), seorang asisten profesor di Departemen Pekerjaan Sosial di Universitas Soochow.
Dia menjelaskan bahwa mempertahankan pekerjaan yang stabil sulit bagi banyak tunawisma. Mereka menghadapi tantangan khusus dari hidup di jalanan, seperti tidak memiliki tempat tinggal tetap, yang sering membuat mereka "Bekerja selama beberapa hari, berhenti sebentar, dan kemudian mulai bekerja lagi."
"Orang tunawisma bekerja sangat keras dan sangat bertekad untuk memperbaiki situasi mereka, yang mungkin sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang," ucap Yu.
Selesai/IF