San Francisco, 9 Okt. (CNA) Mantan Presiden Tsai Ing-wen (蔡英文) hari Kamis (8/10) mengatakan tidak ada ancaman atau paksaan yang akan menggoyahkan tekad Taiwan untuk berinteraksi dengan dan berkontribusi kepada dunia, dalam sebuah forum yang diselenggarakan Hoover Institution di Stanford University.
Dalam sambutannya, Tsai berbicara tentang bagaimana Taiwan mengelola perbedaan, merespons krisis, dan membangun ketahanan masyarakat.
Diskusi tentang Taiwan sering kali berfokus pada semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), hubungan lintas selat, dan risiko konflik, serta kadang-kadang menyinggung makanan dan minuman populernya, kata Tsai.
Namun, topik-topik tersebut hanyalah sebagian dari cerita, ujar Tsai, dengan menunjuk pada 23 juta penduduk Taiwan dan pengalaman mereka membangun demokrasi di bawah situasi yang menantang.
"Pengalaman itu telah membentuk siapa kita dan terus membentuk bagaimana kita menghadapi masa depan," katanya.
Disinformasi berbasis AI, ancaman terhadap demokrasi
Tsai mengatakan bahwa negara-negara demokrasi menghadapi tantangan yang semakin besar baik dari luar maupun dari dalam, karena kampanye pengaruh otoriter yang semakin canggih bertepatan dengan populisme domestik dan polarisasi politik.
Perpecahan domestik tersebut membuat semakin sulit untuk mencapai konsensus tentang bagaimana merespons ancaman dari luar, ujarnya.
Tsai juga memperingatkan bahwa kemajuan dalam AI telah menurunkan hambatan bahasa, sehingga lebih mudah untuk menyebarkan disinformasi lintas batas.
"Pelaku yang berniat buruk, terutama dari luar, menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan informasi palsu dan menyesatkan guna memecah-belah sesama warga, antara masyarakat dan pemerintah mereka, bahkan antarnegara," katanya.
Namun, puluhan tahun tekanan eksternal dan persaingan politik domestik yang intens telah mengajarkan Taiwan bagaimana menjaga demokrasi sambil tetap menjaga institusinya terbuka dan masyarakatnya tangguh, kata Tsai.
Tsai mengatakan Taiwan beralih dari pemerintahan otoriter ke pemilihan presiden langsung pertama pada 1996 dan akhirnya menjadi demokrasi yang dinamis seperti sekarang.
"Transisi itu mengajarkan kita bagaimana menghadapi perbedaan politik yang mendalam tanpa membiarkan perbedaan tersebut membuat kemajuan demokrasi menjadi mustahil," katanya.
Menjaga status quo
Tsai mengatakan bahwa mengelola hubungan dengan Tiongkok memerlukan kesiapan dan juga penahanan diri, seraya menambahkan bahwa puluhan tahun tekanan dari Beijing telah membuat Taiwan lebih tangguh dan pragmatis.
Meskipun masyarakat di Taiwan memiliki pandangan yang berbeda tentang bentuk hubungan masa depan dengan Tiongkok, ada konsensus untuk mempertahankan status quo lintas selat, menghindari provokasi yang tidak perlu, dan melindungi demokrasi serta keamanan Taiwan, katanya.
"Demokrasi, ketahanan, dan kemitraan adalah fondasi masa depan kolektif kita," kata Tsai, seraya menambahkan bahwa tidak ada ancaman atau paksaan yang dapat menggoyahkan tekad Taiwan untuk terlibat dan berkontribusi kepada dunia.
Tsai menjabat sebagai presiden perempuan pertama Taiwan antara 2016 dan 2024.
Ia tiba di Amerika Serikat pada Senin waktu setempat, dan dijadwalkan kembali ke Taiwan pada hari Minggu waktu Taiwan.
Selesai/JC