Taipei, 7 Okt. (CNA) Serikat pekerja yang mewakili para pekerja di satu-satunya pabrik produsen makanan ringan Kuai Kuai Co. di Taiwan mengakhiri aksi mogok kerja selama lima hari pada hari Selasa (6/10) setelah mencapai kesepakatan dengan manajemen mengenai kompensasi atas rencana relokasi perusahaan tersebut.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada Selasa sore setelah dua hari perundingan, dengan perusahaan setuju untuk memberikan kompensasi lebih besar dari yang awalnya ditawarkan, menurut pernyataan bersama dari Konfederasi Serikat Buruh Taoyuan dan serikat pekerja Kuai Kuai.
Isi kesepakatan
Berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada hari Selasa, anggota serikat yang mengundurkan diri dalam dua tahun ke depan setelah dipindahkan di dalam pabrik Zhongli di Taoyuan akan menerima pesangon sesuai undang-undang ditambah kompensasi setara dengan gaji penuh selama empat bulan, menurut pernyataan tersebut.
Anggota serikat yang mengundurkan diri sebelum 30 September 2028 karena relokasi perusahaan mengharuskan mereka meninggalkan pabrik Zhongli akan menerima pesangon sesuai undang-undang ditambah gaji penuh selama delapan bulan.
Selain itu, pekerja dengan masa kerja minimal 12 tahun di bawah sistem pensiun tenaga kerja baru Taiwan akan menerima tambahan NT$100.000 (Rp56 juta), kata pernyataan tersebut.
Kesepakatan tersebut juga memuat "klausul anti-penumpang gelap", yang berarti manfaat hasil negosiasi hanya berlaku bagi anggota serikat.
"Hasil yang dicapai oleh serikat pekerja Kuai Kuai dalam aksi mogok ini harus dikreditkan kepada semua anggotanya, yang bersatu mendukung serikat dan menjaga barisan piket," kata Konfederasi Serikat Buruh Taoyuan.
Dikatakan bahwa dukungan mereka memungkinkan perwakilan serikat "tidak mudah berkompromi atau mundur" selama negosiasi pada hari Senin dan Selasa.
Alasan pekerja mogok
Aksi mogok dimulai pada hari Jumat lalu di tengah perselisihan tentang bagaimana pekerja akan diperlakukan dalam rencana relokasi pabrik Kuai Kuai di Zhongli.
Sekitar 130 dari 155 anggota serikat memulai aksi mogok yang awalnya direncanakan hanya satu hari. Mereka kemudian memilih untuk memperpanjang aksi tersebut tanpa batas waktu.
Pekerja mengetahui dari laporan berita pada bulan Juli bahwa Kuai Kuai, yang telah dikendalikan oleh San-Ti Group sejak 2019, telah menjual lokasi Zhongli kepada Advanced Semiconductor Engineering, Inc. seharga NT$5,67 miliar. Perusahaan menyewa kembali sebagian properti tersebut hingga dua tahun saat bersiap untuk relokasi.
Serikat pekerja mengkhawatirkan bahwa karyawan bisa dipaksa keluar jika mereka tidak dapat mengikuti pabrik ke lokasi baru yang mungkin jauh dari Zhongli. Perusahaan belum mendapatkan lokasi untuk pabrik baru, dan pekerja yang mengundurkan diri bisa saja tidak mendapatkan pesangon atau kompensasi lainnya.
Untuk mengatasi masalah ini, serikat pekerja menuntut kompensasi relokasi. Mereka berpendapat bahwa memindahkan pabrik bisa lebih sulit bagi banyak pekerja paruh baya dan lansia, yang mungkin kesulitan mencari pekerjaan baru atau beradaptasi dengan lokasi kerja baru.
Kuai Kuai mengatakan pada hari Jumat lalu bahwa mereka tidak akan melakukan PHK selama dua tahun dan pekerja yang di-PHK setelah periode tersebut akan menerima pesangon sesuai undang-undang ditambah gaji dua bulan.
Pekerja migran
Serikat pekerja Kuai Kuai juga mengucapkan terima kasih kepada pekerja migran di pabrik tersebut. Dikatakan bahwa meskipun mendapat tekanan dari agen tenaga kerja mereka, para pekerja migran tidak melewati barisan piket setelah berkomunikasi dengan serikat pada hari Jumat saat mogok berlangsung.
Serikat pekerja menuduh bahwa seorang agen dua kali membawa pekerja migran ke barisan piket dan menanyakan apakah mereka ingin masuk ke pabrik untuk bekerja.
Menurut serikat, pabrik saat ini memiliki sekitar 160 karyawan Taiwan, termasuk 155 anggota serikat, dan sekitar 60 pekerja migran, terutama dari Vietnam dan Indonesia. Tidak ada pekerja migran yang menjadi anggota serikat.
Serikat pekerja mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan terus mengawasi hak-hak pekerja migran di Kuai Kuai.
CNA telah menghubungi Kuai Kuai untuk dimintai komentar, namun belum menerima tanggapan hingga berita ini diturunkan.
Selesai/ja