Taipei, 6 Okt. (CNA) Gelombang kecerdasan buatan (AI) mendorong nilai produksi industri mesin serta peralatan produksi elektronik dan semikonduktor Taiwan mencapai rekor NT$252,2 miliar (Rp142,09 triliun) pada 2025, naik 20,2 persen dari tahun sebelumnya, kata Kementerian Urusan Ekonomi (MOEA) hari Senin (5/10).
Pertumbuhan tahunan melebar menjadi 40,1 persen pada Januari–Juli, dan nilai produksi sepanjang tahun ini diperkirakan kembali mencetak rekor, kata Departemen Statistik MOEA dalam rilis pers.
Pesatnya perkembangan 5G, AI, dan komputasi berkinerja tinggi (HPC) mendorong rantai pasok memperluas kapasitas dan berinvestasi pada peralatan, kata departemen tersebut.
Setelah turun 13,2 persen pada 2023 akibat lemahnya permintaan dan penyesuaian persediaan, nilai produksi kembali tumbuh pada 2024 dan terus menguat seiring gelombang AI, kata Departemen Statistik.
Menurut Departemen Statistik, upaya memperluas kapasitas serta peningkatan proses manufaktur canggih membuat peralatan produksi semikonduktor, papan sirkuit cetak (PCB), dan elektronik lainnya sama-sama tumbuh lebih dari 40 persen pada Januari–Juli.
Peralatan dan komponen produksi semikonduktor kini menyumbang 83,1 persen dari total nilai produksi industri itu, naik 21,4 poin persentase dibanding 2021, kata departemen tersebut.
Sebaliknya, peralatan produksi layar panel datar turun 35,6 persen pada 2025 dan masih turun 11,3 persen pada Januari–Juli akibat lesunya permintaan panel, tambah Departemen Statistik.
Peningkatan teknologi dan kemampuan produksi mandiri produsen lokal, ditambah ekosistem semikonduktor Taiwan yang sangat terintegrasi, juga menarik produsen peralatan internasional besar memperdalam investasi di Taiwan, kata departemen tersebut.
Porsi penjualan domestik industri ini untuk pertama kalinya melampaui 60 persen pada 2025, naik dari 50,3 persen pada 2021, sementara ketergantungan impor turun dari 88,9 persen menjadi 85,2 persen, kata Departemen Statistik.
Sementara itu, nilai ekspor pada Januari–Agustus 2026 mencapai US$2,628 miliar (Rp47,13 triliun), naik 44,7 persen secara tahunan, menurut departemen tersebut.
Ekspor ke ASEAN melonjak 109,1 persen dengan porsi 37,7 persen, sehingga wilayah tersebut menggeser Tiongkok dan Hong Kong sebagai tujuan ekspor terbesar, menurut Departemen Statistik.
Porsi Tiongkok dan Hong Kong turun menjadi 33,3 persen karena sengketa teknologi AS-Tiongkok mendorong produsen memindahkan basis produksi kembali ke negara asal atau memperluas basis produksi di luar Tiongkok, kata Departemen Statistik.
(Oleh Hsieh Yi-hsuan dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC