Taipei, 25 Sep. (CNA) Amerika Serikat (AS) seharusnya melanjutkan pemberitahuan penjualan senjata untuk Taiwan setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) pada Kamis (24/9), kata seorang purnawirawan senior Angkatan Laut AS pada Jumat.
Mark Montgomery, seorang laksamana muda purnawirawan Angkatan Laut AS, mengatakan kepada wartawan di Taipei bahwa pertemuan puncak Trump-Xi telah menunda pengumuman penjualan yang diusulkan, dan ia berharap pertemuan ini tidak akan berdampak lebih lanjut, mendesak Washington untuk menghindari penundaan lebih lanjut.
"Kita perlu membuat pemberitahuan penjualan senjata agar Taiwan bisa masuk dalam antrean, sehingga mereka bisa mendapatkan senjata ini ketika mereka siap," kata Montgomery.
Gedung Putih tidak memberikan komentar apakah Taiwan bahkan dibahas dalam pertemuan tersebut.
Pihak Tiongkok mengatakan Xi menyerukan kepada AS untuk menentang "kemerdekaan Taiwan" dan "menangani masalah Taiwan dengan hati-hati," menurut Xinhua News Agency, tetapi tidak ada penyebutan tentang pembahasan penjualan senjata.
Montgomery mengatakan para anggota parlemen AS khawatir tentang penundaan penjualan dan membedakan antara memberi tahu Kongres tentang kesepakatan yang diusulkan dan pengiriman senjata.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio baru-baru ini mengaitkan penundaan dengan kebutuhan militer AS sendiri akan senjata, kata Montgomery, tetapi ia berpendapat bahwa kendala pengiriman seharusnya tidak menghambat pemberitahuan.
Beberapa senjata yang diusulkan untuk Taiwan tidak dibutuhkan militer AS, tambahnya.
Montgomery mendesak Washington untuk segera mengirimkan pemberitahuan kepada Kongres, dengan menyarankan bahwa penjualan senjata senilai US$14 miliar (Rp250,6 triliun) yang telah tertunda sejak awal 2026 dapat dibagi menjadi beberapa paket kecil yang diumumkan selama beberapa minggu.
Ketika ditanya tentang pernyataan Xi mengenai Taiwan selama pertemuan puncak, Montgomery mengatakan pemimpin Tiongkok tersebut memang berkepentingan untuk mengangkat isu tersebut. Namun, yang lebih penting, katanya, adalah bagaimana Trump merespons dan apa yang dilakukan pemerintah AS setelahnya.
Montgomery mengatakan kepatuhan berkelanjutan terhadap Undang-Undang Hubungan Taiwan dan Enam Jaminan harus tercermin dalam tindakan AS, termasuk menyediakan senjata bagi Taiwan untuk pertahanan diri dan mempersiapkan potensi krisis regional.
Namun, ia berpendapat bahwa penjualan senjata saja tidak cukup, dengan mengatakan bahwa kedua militer perlu meningkatkan kemampuan mereka untuk beroperasi bersama melalui latihan udara dan laut, pelatihan, dan perencanaan bersama.
"Sangat sulit untuk bekerja sama dan bertempur bersama di masa perang jika Anda tidak bekerja sama di masa damai," kata Montgomery.
Selesai/JC