Washington, 25 Sep. (CNA) Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio hari Rabu (23/9) menegaskan kembali bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan masih dalam peninjauan, dengan mengatakan AS harus menyeimbangkan keputusan tersebut dengan kebutuhan negaranya sendiri.
Setelah empat senator Partai Republik menyuarakan kekhawatiran sebelumnya pada hari itu tentang tertundanya penjualan senjata AS dan bantuan militer lainnya ke Taiwan, Rubio mengatakan ini adalah isu multidimensi.
"Orang-orang berpikir ... kami melihat penjualan senjata hanya dari satu sudut pandang tertentu. Banyak dari hal ini juga melibatkan penyeimbangan kapasitas industri kami dan basis industri militer kami," kata Rubio kepada wartawan di New York.
"Ini bukan soal Taiwan secara khusus, tetapi ketika kami menjual sesuatu, itu berarti kami tidak memilikinya lagi," katanya.
Rubio mengatakan keputusan Washington terkait penjualan senjata ke Taiwan masih dalam peninjauan.
"Setiap kali kami melakukan penjualan - bukan hanya ke Taiwan, ke siapa pun - itu selalu diseimbangkan dengan kebutuhan kami sendiri di berbagai belahan dunia dan apakah kami mampu menjual sesuatu, karena kami mungkin membutuhkannya untuk diri kami sendiri. Jadi proses itu sedang berlangsung," katanya.
Rubio menyampaikan komentar tersebut sebagai tanggapan atas pertanyaan wartawan mengenai isu ini setelah empat senator Partai Republik menulis surat kepadanya dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Rabu tentang kewajiban Washington untuk membantu kemampuan pertahanan diri Taiwan.
Senator Mitch McConnell, John Cornyn, Lisa Murkowski, dan Thom Tillis menyatakan kekhawatiran tentang apakah Departemen Luar Negeri bermaksud memenuhi kewajibannya untuk menyediakan US$300 juta (Rp5,38 triliun) dalam pendanaan militer asing untuk Taiwan, dan US$1 miliar dalam pendanaan untuk Inisiatif Kerja Sama Keamanan Taiwan.
Mereka juga mempertanyakan keputusan Washington untuk menunda penjualan militer asing senilai US$14 miliar ke Taiwan.
"Kami prihatin dengan pernyataan Presiden Trump yang menggambarkan Taiwan sebagai 'alat tawar-menawar yang sangat baik' dalam pertemuan dengan [Presiden Tiongkok] Xi Jinping dan Partai Komunis Tiongkok," tulis keempat senator tersebut.
"Sulit membayangkan bagaimana Amerika Serikat dapat secara kredibel memproyeksikan pengaruh di Indo-Pasifik jika harga untuk menjaga penampilan diplomatik adalah menolak mitra kami kemampuan penangkal utama," tambah mereka.
Sementara itu, ketika ditanya tentang isu ini pada Rabu, seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan kepada CNA bahwa Presiden AS Donald Trump tahun ini mengatakan ia akan memutuskan "dalam waktu yang cukup singkat mengenai paket senjata baru untuk Taiwan."
Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa pada bulan Desember lalu, Trump telah menyetujui "paket senjata terbesar yang pernah ada untuk Taiwan" senilai US$11,1 miliar.
"Pada masa jabatan pertamanya, Presiden Trump menyetujui lebih banyak penjualan senjata ke Taiwan daripada Presiden mana pun dalam sejarah," kata pejabat yang tidak disebutkan namanya itu dalam surel.
"Pada masa jabatan keduanya, Presiden Trump menyetujui lebih banyak dalam tahun pertamanya daripada seluruh empat tahun di bawah Presiden Biden."
Xi tiba di Washington pada Rabu untuk menghadiri KTT dengan Trump.
Di bawah hukum AS, Washington berkewajiban menyediakan Taiwan sarana untuk mempertahankan diri.
Selesai/JC