Kunjungi Penghu, Kepala KDEI dialog dengan ABK dan tinjau musala

23/09/2026 15:27(Diperbaharui 23/09/2026 15:29)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Kepala KDEI, Arif Sulistiyo (mengenakan peci dan kemeja merah) berfoto bersama PMI dan ABK di depan kontainer yang dijadikan musala. (Sumber Foto : KDEI Taipei).
Kepala KDEI, Arif Sulistiyo (mengenakan peci dan kemeja merah) berfoto bersama PMI dan ABK di depan kontainer yang dijadikan musala. (Sumber Foto : KDEI Taipei).

Taipei, 23 Sep. (CNA) Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Arif Sulistiyo mengunjungi Kepulauan Penghu pada 12 dan 13 September untuk mengadakan layanan Mobile Sevice sekaligus berdialog bersama anak buah kapal (ABK) dan meresmikan musala di kawasan Pelabuhan Magong, tulis rilis pers KDEI.

Tinjau Fasilitas Pelabuhan dan Berdialog dengan ABK

Didampingi jajaran KDEI, Direktorat Jenderal Perikanan (FA) Taiwan, dan Biro Pertanian dan Perikanan Penghu, Arif pada 12 September mengunjungi Pelabuhan Lamkang (Neiannan) dan Pelabuhan Fenggui Timur untuk meninjau kelayakan fasilitas dasar yang tersedia di pelabuhan.

Hasil pengamatan KDEI di Pelabuhan Lamkang (Neiannan) menunjukkan kamar mandi telah tersedia dilengkapi fasilitas air panas, serta tersedianya sarana tempat ibadah berupa musala meskipun belum dapat dikatakan layak. 

Sedangkan di Pelabuhan Fenggui Timur, belum tersedia kamar mandi dengan fasilitasi air panas, serta kesulitan air bersih di tempat ibadah musala. Arif pun meminta bantuan dari FA agar dapat memperhatikan dan memperbaiki kekurangan fasilitas dasar di dua pelabuhan tersebut.

Arif Sulistiyo, kepala KDEI berbincang bersama salah satu ABK Penghu. (Sumber Foto : KDEI Taipei).
Arif Sulistiyo, kepala KDEI berbincang bersama salah satu ABK Penghu. (Sumber Foto : KDEI Taipei).

Saat mengunjungi dua pelabuhan tersebut, Arif juga berkesempatan melihat aktifitas para ABK Indonesia seperti membenahi jaring yang rusak, ada pula yang memperbaiki alat tangkap, serta merapikan alat pancing.

Pertemuan dilanjutkan dengan dialog dalam suasana akrab dan menjadi kesempatan untuk mendengarkan secara langsung pengalaman, kondisi kerja, serta berbagai aspirasi yang disampaikan para pekerja. 

“Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk hadir lebih dekat dengan PMI, mendengarkan secara langsung kondisi dan kebutuhan mereka, serta memastikan komunikasi antara perwakilan Indonesia dan para pekerja tetap terjaga,” ujar Arif.

KDEI Taipei bersama jajarannya berfoto bersama ABK Penghu di pelabuhan Magong. (Sumber Foto : KDEI Taipei).
KDEI Taipei bersama jajarannya berfoto bersama ABK Penghu di pelabuhan Magong. (Sumber Foto : KDEI Taipei).

Dalam dialognya, para ABK menyampaikan sejumlah hal terkait kehidupan dan pekerjaan mereka di Taiwan. Arif mengingatkan para pekerja untuk selalu menjaga keselamatan, mematuhi ketentuan yang berlaku, serta memanfaatkan saluran komunikasi resmi apabila menghadapi kendala selama bekerja.

Peresmian musala Miftahul Jannah

Pada 13 September, Arif meresmikan musala Miftahul Jannah di kawasan Pelabuhan Magong, dihadiri perwakilan FA, Biro Pertanian dan Perikanan Penghu, pengelola pelabuhan, perwakilan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan Ranting Penghu, dan perwakilan ABK migran Indonesia. 

Dalam sambutannya, Arif menyampaikan apresiasi kepada otoritas Taiwan dan pengelola Pelabuhan Magong atas tersedianya fasilitas ibadah tersebut. Menurutnya, keberadaan musala tidak hanya menyediakan tempat untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang yang nyaman dan ramah bagi masyarakat Indonesia khususnya ABK yang beraktivitas di kawasan Pelabuhan Magong.

KDEI Taipei berdialog bersama ABK Penghu di dalam kontainer yang diubah menjadi musala. (Sumber Foto : KDEI Taipei).
KDEI Taipei berdialog bersama ABK Penghu di dalam kontainer yang diubah menjadi musala. (Sumber Foto : KDEI Taipei).

Menurut keterangan pers KDEI, Pelabuhan Magong merupakan salah satu kawasan penting di Penghu yang menjadi tempat aktivitas masyarakat, termasuk pekerja di sektor perikanan dan kemaritiman.

Bagi PMI dan ABK Indonesia yang menjalankan aktivitas pekerjaan di sekitar pelabuhan, ketersediaan tempat ibadah memberikan kemudahan untuk melaksanakan ibadah tanpa harus meninggalkan kawasan pelabuhan dalam waktu yang cukup lama, menurut KDEI.

Di akhir kegiatan, Arif juga berkesempatan menyumbangkan paket perlengkapan salat dan Alquran yang diterima perwakilan ABK.

Layanan Mobile Service dua hari

Kunjungan-kunjungan di kepulauan luar Taiwan tersebut dilakukan seiring KDEI membawakan layanan Pelayanan dan Perlindungan warga negara Indonesia (WNI) selama dua hari, yang melayani 123 pemohon, sehingga WNI di Penghu dapat mengurus dokumen perjalanan tanpa harus menempuh perjalanan ke Taipei, tulis keterangan tersebut.

Rangkaian berikutnya berupa sosialisasi ketentuan keimigrasian sekaligus penyuluhan hukum mengenai pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan tindak pidana penyelundupan manusia/migran (TPPM).

Masyarakat diingatkan untuk menjaga keabsahan izin tinggal, tidak menyerahkan dokumen perjalanan kepada pihak mana pun, dan mengenali ciri perekrutan yang tidak wajar, tulis rilis pers KDEI. 

Kepada CNA, Arif mengatakan bahwa rangkaian kegiatannya di Penghu merupakan layanan Mobile Service sepanjang 2026 setelah Kinmen, Kaohsiung, dan Changhua.

Di Penghu ada sekitar 2.600 WNI dan mayoritasnya adalah ABK, kata Arif, menambahkan bahwa Mobile Service merupakan wujud nyata komitmen KDEI untuk menghadirkan pelayanan yang lebih dekat, lebih mudah, lebih cepat, dan lebih responsif bagi masyarakat Indonesia di Taiwan khususnya pulau terluar.

Perwakilan KDEI Taipei berdiri di depan para pengunjung mobile service di Penghu untuk melakukan sosialisasi. (Sumber Foto : KDEI Taipei).
Perwakilan KDEI Taipei berdiri di depan para pengunjung mobile service di Penghu untuk melakukan sosialisasi. (Sumber Foto : KDEI Taipei).

“Kami menyadari bahwa tidak semua WNI dapat dengan mudah datang langsung ke Taipei untuk mendapatkan layanan. Banyak di antara saudara-saudara kita yang bekerja, belajar, maupun tinggal jauh dari Taipei, dengan keterbatasan waktu dan kesibukan masing-masing,” ujar Arif.

“Karena itu, melalui Mobile Service, KDEI Taipei berupaya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, sehingga saudara-saudara tidak selalu harus datang ke kantor KDEI Taipei untuk mendapatkan layanan yang dibutuhkan,” sambungnya. 

Arif juga mengatakan, pelayanan kepada WNI bukan hanya mengenai administrasi dan dokumen. Lebih dari itu, juga merupakan bagian dari kehadiran negara dalam memberikan pelindungan dan memastikan hak-hak WNI di luar negeri tetap mendapatkan perhatian.

Salah satu layanan mobile service di Penghu. (Sumber Foto : KDEI Taipei).
Salah satu layanan mobile service di Penghu. (Sumber Foto : KDEI Taipei).

Dalam diskusinya dengan WNI di Penghu, Arif menyampaikan untuk tidak ragu berkomunikasi dengan KDEI karena pihaknya ingin membangun pelayanan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga humanis, solutif, dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh WNI di Taiwan.

“Saya juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia di Taiwan untuk mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku di Taiwan, menjaga kerukunan sesama WNI, serta saling membantu dan mengingatkan dalam kebaikan,” kata Arif.

“Kita ingin WNI dan PMI di Taiwan tidak hanya terlindungi, tetapi juga dapat berkembang, mandiri, produktif, dan menjadi bagian dari masyarakat yang memberikan kontribusi positif bagi hubungan Indonesia dan Taiwan,” ujarnya.

(Oleh Miralux)

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.