Festival Budaya Indonesia di Taipei hadirkan jaranan dan peragaan busana

13/09/2026 15:04(Diperbaharui 13/09/2026 15:04)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Festival Budaya Pejuang Formosa III di depan National Taiwan Museum, Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 13 September 2026)
Festival Budaya Pejuang Formosa III di depan National Taiwan Museum, Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 13 September 2026)

Taipei, 13 Sep. (CNA) Sekitar 400 orang berkumpul di depan National Taiwan Museum, Taipei, Minggu (13/9), untuk menyaksikan Festival Budaya Pejuang Formosa III yang menghadirkan berbagai kesenian Indonesia, dengan jaranan sebagai ikon utama tahun ini.

Festival yang digelar untuk ketiga kalinya oleh Uters tersebut menampilkan beragam kesenian Nusantara, mulai dari tari, angklung, flash mob, hingga peragaan busanayang diikuti 65 peserta, yang mayoritas merupakan pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan.

Berdasarkan pantauan CNA di lokasi, para peserta peragaan busana tampak sibuk mempersiapkan penampilan mereka. Busana yang dikenakan tidak hanya berupa pakaian tradisional seperti kebaya, tetapi juga diperkaya berbagai ornamen dan aksesori yang membuat penampilan mereka lebih semarak.

Sejumlah peserta tampil dengan konsep yang terinspirasi dari berbagai budaya di Indonesia. Salah satunya memerankan Dewi Sri, dewi padi dalam mitologi Jawa, lengkap dengan ornamen padi. Peserta lainnya mengenakan kebaya encim, yang berkembang dalam budaya peranakan Nusantara, dipadukan dengan payung bergaya Tionghoa.

Di antara berbagai pertunjukan tersebut, jaranan menjadi sajian yang paling ditunggu sekaligus ikon utama festival tahun ini.

Jaranan merupakan kesenian tradisional Jawa yang memadukan tari, musik, dan properti berbentuk kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kuda kepang. Para penari biasanya bergerak mengikuti iringan musik tradisional dengan gerakan yang dinamis. Dalam sejumlah tradisi jaranan, pertunjukan juga dapat melibatkan unsur trance atau kesurupan.

Menurut Ketua Uters Dance sekaligus Ketua Panitia Festival Budaya Pejuang Formosa III, Diah Nur Anisa, jaranan tahun ini menggantikan Reog Ponorogo yang menjadi ikon pada penyelenggaraan festival tahun lalu.

Persiapan, kata Dian, telah dilakukan sejak Januari. Para anggota panitia dan penampil harus membagi waktu antara persiapan acara dengan pekerjaan dan perkuliahan mereka di Taiwan.

"Kebanyakan rapat virtual, dan kami menggunakan waktu libur kami untuk berlatih," kata Dian, yang telah tiga tahun tinggal di Taiwan dan bekerja sebagai perawat di Hsinchu.

Menurut Dian, salah satu sajian unggulan festival tahun ini adalah flash mob "The Beauty of Nusantara", yang koreografinya digagas Uters Dance.

Flash mob tersebut melibatkan peserta yang melakukan koreografi secara bersama-sama di ruang publik, sehingga menjadi pertunjukan yang menarik perhatian pengunjung festival.

Terkait aksi jaranan, Dian mengatakan keberadaan berbagai komunitas seni Indonesia di Taiwan membuat pihaknya relatif mudah menemukan kelompok yang dapat berkolaborasi dalam menghadirkan pertunjukan tersebut.

"Dan kami sebagai sesama WNI yang mencintai seni sudah sering berkolaborasi dan juga memiliki jaringan, sehingga acara ini bisa tercipta," ujar Dian.

Untuk fashion show, panitia menerima 65 peserta dari jumlah pendaftar yang lebih banyak. Mayoritas peserta merupakan PMI di Taiwan.

"Yang daftar lebih banyak, tetapi karena waktu terbatas, kami hanya bisa menerima 65 peserta saja," kata Dian.

Sementara itu, Wakil Ketua Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Johanes Andi Susanto mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut.

Menurut Andi, kegiatan semacam ini menjadi ruang bagi PMI di Taiwan untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus mempertahankan hubungan dengan budaya Indonesia.

"Harapannya acara ini akan terus berlangsung ke depannya," kata Andi.

Festival Budaya Pejuang Formosa III mengusung tema "Hilang Budaya, Hilang Entitas Bangsa". Selain peragaan busana dan jaranan, rangkaian acara mencakup Karnaval Budaya "The Beauty of Nusantara", Tari Rejang Anyar, Gema Angklung, Tari Kreasi Prau Layar, Tari Gandrung, penyuluhan HIV/AIDS, hingga penampilan Dangdut Mletre Music.

Keseruan menonton jaranan di Taiwan disampaikan tiga PMI asal Lampung yang CNA temui di tempat acara. Kuswanti, salah satu dari mereka menyebut, semula mereka berniat menghabiskan liburan bulan ini untuk makan bersama. Namun, rencana itu beralih ketika tahu ada acara jaranan ini.

"Jarang sekali bisa ketemu acara seperti ini," kata Kuswanti yang diiyakan oleh Sundari. Keduanya adalah kawan lama sejak sebelum berangkat ke Taiwan. Kini, mereka bekerja di Taipei sebagai perawat lansia.

Sementara Dedi, yang bekerja di sebuah pabrik di Taoyuan, menyebut di Lampung sering ada acara seperti ini. Oleh karena itu, adanya jaranan di Taipei mengobati rasa kangen pada tanah airnya.

"Jadi walaupun belum bisa pulang, lumayan bisa melepas kangen," kata Dedi, yang asyik menonton festival sembari piknik bersama dua rekannya.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.