Oleh Huang Kai-chieh, Chung Yu-chen, Rick Yi, Huang Po-wei, Wang Yu-wen, dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA
Jika kehidupan membawamu ke kegelapan, masih adakah jalan menuju cahaya? Hsu Hung-Wei (許汯洧), seorang anak imigran baru Indonesia di Taiwan, berhasil menemukannya. Setelah melewati masa kelam, ia bangkit dan menekuni riset kecerdasan buatan (AI) hingga meraih Penghargaan Pendidikan Presiden Taiwan.
Dalam wawancara dengan CNA baru-baru ini, Hsu yang tengah menempuh studi doktoral di Departemen Teknik Elektro National Yang Ming Chiao Tung University, mengatakan dirinya telah terlibat dalam 13 proyek penelitian. Salah satunya adalah sistem pemantauan AI di peternakan babi di Kabupaten Yunlin.
Dengan analisis citra, Hsu membantu merancang sistem yang mampu mendeteksi babi yang sakit berdasarkan indikator pergerakan dan suhu ternak, yang menekan risiko penyebaran penyakit dan melindungi industri peternakan babi Taiwan.
"Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran penyakit seperti demam babi dan mengisolasi babi yang terindikasi sakit. Jika ada babi yang terjangkit dan tidak ada yang menyadarinya, penyakit tersebut bisa menular ke babi lain. Kerugian yang ditanggung oleh peternak bisa sangat besar," ucapnya.
Namun, perjalanan Hsu di dunia AI tidak selalu mulus. Ada masa di mana laki-laki kelahiran Kabupaten Pingtung itu mengalami depresi hingga mesti minum obat medis.
Jurang
Hsu memasuki masa-masa kelam di hidupnya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, di mana ia mengalami perundungan sementara juga mesti kehilangan ibundanya yang berasal dari Indonesia.
"Saya ingat ketika saya kecil, ibu harus menjalani kemoterapi dan itu membuat rambutnya rontok. Maka, setiap kali melihat rambut ibu akhirnya mulai tumbuh lagi, tetapi kemudian harus dipangkas, itu membuat saya merasa sedih. Ia juga harus memakai topi untuk menutupinya," kata Hsu.
"Setiap kali mengingatnya, saya merasa tidak tega," ucap Hsu. Ia mengaku sangat terguncang ketika sang ibunda tutup usia.
Dengan perundungan yang tidak berhenti hingga ke sekolah menengah atas, kondisi mental Hsu memburuk, dan prestasi akademiknya merosot. Setelah berkuliah, ia turut mengalami insomnia.
"Saat itu, saya merasakan tekanan yang besar. Saya hanya berbaring di kasur asrama tanpa ada yang tahu maupun peduli. Teman sekamar jarang berada di kamar. Saya bahkan tidak terlalu mengenal mereka. Jadi, ada masa yang panjang di mana saya mengabaikan diri sendiri," ungkapnya.
Bangkit
Beruntung, kata Hsu, ia menemukan kesempatan untuk bertransformasi. "Perlahan-lahan saya sadar hidup tidak boleh berhenti hanya di tahap ini. Kita harus terus melangkah dan bangkit kembali."
Dalam perjalanan mencari kembali dirinya, Hsu mendapat dukungan dari para guru. Juga ada satu sosok yang tak pernah pergi: ayahnya, Hsu Ching-tien (許慶添).
Kepada CNA, sang ayah menceritakan bahwa masa-masa itu cukup sulit. Ada kalanya, mereka harus pergi ke Kaohsiung setiap pekan untuk menemui psikolog dan menjalani konseling. Namun, ia setia mendampingi.
Di mata Hsu, ayahnya sedikit cerewet dan gemar menonton video pendek. Namun, di balik omelan kecil sehari-hari, ada perhatian dan kepedulian mendalam di antara keduanya.
Setiap kali ada waktu luang, Hsu selalu pulang ke kampung halamannya, Kelurahan Donggang. Bagi banyak orang, wilayah pesisir Pingtung itu identik dengan pelabuhan, ikan, dan nelayan migran. Namun, baginya, ini adalah rumah yang menemaninya tumbuh sekaligus sumber kekuatan untuk bangkit.
Di sisi lain, cinta dan dukungan mendiang ibunda selalu menemani perjalanan Hsu. Ia masih ingat pergi ke Indonesia bersama ibunya, serta bagaimana mendiang menceritakan keluh kesah dalam bahasa Indonesia.
"Hal yang lucu dari ibu adalah, kalau ada hal-hal kecil yang tidak menyenangkan atau membuatnya kesal, ia menggunakan bahasa yang tidak kupahami untuk mengungkapkannya," kata Hsu.
Setelah melalui titik terendah, Hsu tidak berhenti melangkah. Tanpa keajaiban maupun jalan pintas, ia mulai dari hal paling sederhana: tidur lebih awal hingga berolahraga. Prestasinya pun melonjak.
Terbayarkan
Pada 2025, kisah kebangkitan dan kontribusi Hsu melalui teknologi membawanya meraih Penghargaan Pendidikan Presiden dari Presiden Lai Ching-te (賴清德), bersama 59 pelajar lainnya.
"Daripada menunggu takdir berubah, lebih baik kita yang mengubah diri sendiri," kata Hsu di panggung penghargaan pada 4 Juli tahun itu.
Dalam sambutannya, Lai saat itu memuji para penerima penghargaan yang disebutnya berhasil mengatasi berbagai kesulitan hidup dengan tekad kuat dan tindakan nyata.
"Mereka tidak hanya berhasil menapaki jalan terang mereka sendiri, tetapi juga menunjukkan semangat hidup yang patut dikagumi," kata Lai. "Dari kisah kehidupan mereka, kita dapat melihat harapan."
Penghargaan Pendidikan Presiden bertujuan untuk mendorong dan membina pelajar agar mampu menghadapi keadaan sulit dengan sikap positif serta mengembangkan sisi positif kemanusiaan, menurut Kementerian Pendidikan.
Kala itu, ayah dan adik Hsu hadir mendampinginya dengan bangga. "Kami semua sangat senang," ucap sang ayahanda.
Ditanya CNA apa yang ingin disampaikan kepada ibundanya andai saja mendiang ada di sana, Hsu mengatakan: "Ibu, jangan khawatir."
"Karena sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan saya, seperti soal peluang kerja saya di masa depan, apakah saat kuliah saya akan menghadapi banyak hambatan, banyak rintangan, atau kesulitan apa pun. Namun, saya ingin mengatakan kepadanya bahwa sebenarnya dia bisa tenang," kata Hsu.
Terus melangkah
Hsu mengaku belum yakin akan masa depannya -- bertahan di dunia akademik atau masuk ke industri. Namun, yang pasti, ia merasa proyek-proyek yang berdampak bagi masyarakat seharusnya tetap dilanjutkan.
Proyek-proyek seperti ini, menurut Hsu, tidak harus mengambil jalan penelitian. Misalnya, ia pada pertengahan Juni membawakan kelas bagi anak-anak di daerah terpencil Kaohsiung agar mereka lebih melek terhadap AI.
Seberat apa pun tantangan di masa depan, bagi Hsu, selalu ada tempat untuk berhenti sejenak. Teluk Dapeng di Donggang, contohnya, menjadi tempat yang paling tenang di hatinya.
"Saya rasa nantinya akan ada saatnya saya harus meluangkan waktu untuk bersantai. Di momen seperti itu saya teringat akan tempat ini: tempat yang membuat waktu terasa lebih lambat, seperti suasana pedesaan, terutama Teluk Dapeng dan pantai yang pernah saya kunjungi. Tempat itulah yang memberi saya ketenangan," ucapnya.
Kehidupan imigran
Per 31 Juli, jumlah imigran baru di Taiwan mencapai 621.834 orang, sementara generasi keduanya 510.304 orang, menurut statistik Direktorat Jenderal Imigrasi (NIA) dan Departemen Registrasi Rumah Tangga Kementerian Dalam Negeri.
Untuk mendukung pengembangan potensi anak-anak imigran baru di berbagai bidang serta mendorong mereka agar berani mewujudkan cita-cita dan mengembangkan keunggulan masing-masing, NIA terus menjalankan berbagai program terkait, kata ditjen tersebut dalam pernyataan kepada CNA.
Melalui beasiswa dan bantuan pendidikan, pelatihan pengembangan potensi, serta sumber daya untuk mewujudkan impian, program-program tersebut membantu anak-anak imigran baru memanfaatkan keunggulan dalam keberagaman budaya, memperluas kesempatan belajar dan pengembangan karier, serta mendapatkan pengakuan dalam prestasi dan pencapian, kata NIA.
Selesai/IF