London, 8 Sep. (CNA) Menteri Kebudayaan Taiwan, Li Yuan (李遠), menyoroti meningkatnya visibilitas internasional sastra Taiwan pada sebuah forum di London pada Senin (7/9), di mana "Taiwan Travelogue", pemenang International Booker Prize menjadi sorotan.
Berbicara di forum "Taiwanese Literature Through a Global Gaze" di King's College London, Li mengatakan bahwa sebagai penulis yang lahir setelah Perang Dunia II, ia telah lama bertanya pada dirinya sendiri, "Apa itu Taiwan?"
Ia mengatakan para penulis Taiwan telah mengeksplorasi pertanyaan tersebut dari perspektif yang semakin beragam, termasuk ekologi, sejarah, identitas masyarakat adat, sastra queer, dan komunitas lokal.
Pengakuan internasional terhadap "Taiwan Travelogue," karya Yang Shuang-zi (楊双子) yang memenangkan International Booker Prize 2026, telah memberikan sastra Taiwan peluang yang sangat penting, kata Li.
"Ini adalah waktu yang sangat baik. Dunia akhirnya bisa melihat Taiwan," ujarnya.
Natasha Brown, ketua panel juri International Booker Prize 2026, mengatakan para juri membaca sekitar 130 karya terjemahan dari seluruh dunia. Ketika ia membaca "Taiwan Travelogue," ia merasa buku itu "akan menang."
Brown mengatakan daya tarik novel tersebut tidak hanya terletak pada penulisannya, tetapi juga pada terjemahannya, yang membuat referensi budaya yang asing menjadi mudah diakses dan menarik bagi pembaca berbahasa Inggris.
Li juga merenungkan kompleksitas seputar identitas Taiwan.
"Jika saya mengatakan saya orang Taiwan, seseorang mungkin mengatakan Taiwan bukan negara," katanya, seraya mencatat bahwa ketegangan semacam itu adalah salah satu isu yang ia harap dapat dibantu oleh sastra dan dialog.
Forum tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 orang dan juga menampilkan penyair dan kritikus Irlandia John McAuliffe serta Anna Goode, direktur pelaksana British Centre for Literary Translation.
Selama kunjungannya ke London pada Senin, Li juga mengunjungi V&A East Storehouse di Museum Victoria and Albert, yang dibuka untuk umum pada Mei 2025 dan memungkinkan pengunjung mengakses koleksi museum dengan lebih luas.
Li menyebut pendekatan tersebut sebagai "sebuah revolusi di museum," seraya mengatakan bahwa hal itu memberikan ide bagi Taiwan saat mempertimbangkan fasilitas penyimpanan bersama untuk koleksi budaya.
Menteri tersebut memulai kunjungannya ke Eropa pada Minggu. Selain ke Inggris, Li juga akan mengunjungi Prancis sebelum berangkat pada 15 September dan kembali ke Taiwan keesokan harinya, menurut Kementerian Kebudayaan.
Selesai/IF