Oleh Miralux, reporter staf CNA
Henry Hsu (徐夢含), seorang petugas kepolisian Taiwan, entah berapa kali telah berpartisipasi dalam kegiatan kebudayaan Indonesia. Dalam wawancaranya bersama CNA, Henry mengatakan ia mempunyai banyak teman Indonesia yang mengajarkannya tentang budaya dan kuliner khas Nusantara hingga permasalahan yang dialami pekerja migran.
Di depan National Taiwan Museum, terlihat beberapa pengisi acara yang menari diiringi lagu Indonesia sembari mengenakan baju batik. Tak disangka, salah satu penari tersebut adalah Henry, seorang polisi berkewarganegaraan Taiwan.
Di wawancara eksklusif dengan CNA, Henry mengungkapkan dirinya lulus dari akademi kepolisian tahun 2013 silam, dan kemudian aktif sebagai anggota kepolisian divisi urusan luar negeri di wilayah Taipei. Karena pekerjaannya, ia banyak bertemu orang Indonesia dan mulai tertarik dengan budaya Nusantara.
Mengenal Indonesia dari malam kebudayaan
Henry mengatakan ia merasa sangat beruntung karena dalam perjalanan hidupnya, ia bertemu dengan banyak orang yang sangat membantu dan memberikan kesempatan. Misalnya, seorang penerjemah bahasa Indonesia mengundangnya tampil dalam malam keakraban Sino-Indonesia Cultural and Economic Association pada 2022.
Sejak saat itu, Henry mulai mengenal Indonesia melalui kebudayaan Nusantara sekaligus memperluas pertemanannya. Melalui kegiatan tari, ia juga semakin sering berinteraksi dengan warga Indonesia yang tinggal di Taiwan, termasuk pekerja migran Indonesia (PMI).
Menurut Henry, orang Indonesia sangat ramah dan hangat. Dengan diperkenalkan satu sama lain, ia telah mengenal semakin banyak teman dari Indonesia.
Begitu antusiasnya untuk memahami kebudayaan Indonesia, Henry sering memanfaatkan waktu istirahat makan siang untuk pergi ke toko Indonesia.
“Saya sendiri juga memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap budaya Indonesia. Karena itu, saya sering mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Indonesia,” kata Henry.
“Melalui berbagai kegiatan seperti seminar, pemutaran film, festival budaya dengan pertunjukan tari dan nyanyian, pembacaan atau pidato puisi, serta belajar bahasa Indonesia,” ungkapnya.
Henry pun mengatakan ia ingin memberikan kesempatan kepada teman-teman Indonesia yang mencintai Taiwan dan mencintai budayanya untuk menunjukkan kemampuan serta kebudayaan mereka, sehingga semakin banyak orang Taiwan dapat merasakan keindahan Indonesia.
“Saya tertarik karena budaya Indonesia itu unik dan hidup! Kita bisa menari bersama tarian Indonesia, menyanyikan lagu-lagu Indonesia bersama, melihat pertunjukan Tari Barong yang menampilkan kisah-kisah legenda Indonesia secara langsung di depan mata, bahkan bisa makan nasi langsung dengan tangan,” ucapnya.
Berbagai permainan tradisional Indonesia juga mengambil peran di hati Henry, misalnya yang disuguhkan dalam perayaan Hari Kemerdekaan, termasuk lomba makan krupuk.
Bantu masalah PMI
Saat ditanya pemahamannya tentang permasalahan PMI, Henry mengaku sangat mengetahui. Salah satu yang paling sering ditemui, menurutnya, adalah ketidakcocokan dengan majikan. Namun, masalah ini bukan hanya dialami oleh orang Indonesia, siapa pun bisa saja mengalaminya, ucapnya.
Ketika menerima laporan kasus seperti ini, kata Henry, ia terlebih dahulu memahami situasinya, kemudian mencari kemungkinan sumber daya sosial yang dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Misalnya, jika masalahnya disebabkan komunikasi yang kurang baik, seperti perbedaan budaya Muslim atau kendala bahasa, kata Henry, ia akan menjelaskan kepada majikan mengenai perbedaan tersebut, kemudian melihat bagaimana aturan hukumnya dan mencari tahu lembaga atau organisasi mana yang dapat membantu.
Henry mengingatkan, di Taiwan sendiri terdapat layanan siaga seperti 1990 dan 1955 yang memang disediakan khusus untuk warga negara asing dan pekerja migran guna membantu menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, kata Henry, bagaimana cara memperoleh izin tinggal permanen, apa saja persyaratan untuk menjadi pekerja dengan keterampilan tingkat menengah, atau apa yang harus dilakukan jika menjadi korban penipuan.
Perbedaan kebiasaan
Henry juga menceritakan salah satu kebiasaan orang Indonesia yang belum terbiasa baginya: makan makanan pedas. Saat diajak suatu keluarga pergi ke Taipei Underground Mall untuk mencoba makanan Indonesia, misalnya, mereka mengatakan makanan yang disajikan tidak pedas, tetapi ia tetap makan sampai berkeringat sekujur tubuh.
Henry pun menceritakan salah satu ungkapan Indonesia tentang makanan yang menarik baginya: "makan" tidak terhitung jika tidak disertai nasi.
Henry juga mengatakan ia telah membiasakan diri dengan konsep waktu ala Indonesia yang molor. Pernah di suatu ketika, ia membuat janji dengan PMI untuk berlatih menari dan menelepon mereka untuk berjanji datang tepat waktu, tetapi mereka ternyata masih santai-santai saja sambil makan.
Henry juga menuturkan bahwa ia penyuka batik, yang disebutnya sangat unik, dan kerap dipakainya bahkan dengan memadukannya dengan celana pendek, untuk menunjukkan kecintaannya terhadap Indonesia sekaligus membuat suasana tidak terlalu formal.
Perbedaan kebudayaan lainnya yang pernah disaksikan Henry adalah adat pernikahan. “Saya juga sangat senang pernah diundang oleh teman Indonesia untuk menghadiri pernikahan antara orang Indonesia dan orang Taiwan. Itu adalah pertama kalinya saya melihat upacara pernikahan dengan tata cara Muslim.”
“Dalam acara tersebut, kedua mempelai dan keluarga juga membaca Alquran bersama. Tradisinya sangat berbeda dengan pernikahan tradisional Taiwan,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengamati perbedaan kebiasaan dalam perayaan hari jadi. Menurutnya, sementara orang Indonesia yang berulang tahun kerap memberikan sesuatu untuk dibawa pulang, orang Taiwan biasanya hanya menerima hadiah dan tidak memberikan sesuatu kepada tamu.
Henry juga mengatakan menarik bahwa orang Indonesia terkadang bisa menggunakan nasi tumpeng untuk menggantikan kue ulang tahun.
Di sisi lain, kata Henry, ia pernah mengira perempuan Muslim tidak berenang karena harus berpakaian tertutup. Ternyata, suatu kali, seorang temannya mengajaknya ikut dalam perjalanan wisata bersama rombongan orang Indonesia, dan mereka bermain air dan bersenang-senang meskipun dengan pakaian tertutup.
Kebiasaan khas lainnya yang diamatinya dari orang Indonesia, menurut Henry, adalah menyanyikan lagu kebangsaan. Sambil bercanda, ia mengatakan jika orang Taiwan ingin membaur dengan orang Indonesia, cukup belajar dua lagu: "Indonesia Raya"dan "Hari Merdeka".
Belajar menari Indonesia
Henry ternyata juga senang belajar menari tarian tradisional Indonesia. Baginya, bisa bernyanyi dan menari bersama teman-teman Indonesia, serta bersenang-senang bersama, adalah penghargaan terbesar.
Oleh karena itu, seperti pada Formosa Warriors Cultural Festival yang diselenggarakan kelompok tari Indonesia Uters pada 13 September tahun ini, ia berlatih sangat giat untuk dapat tampil.
Tak hanya menjadi penari, Henry juga kerap kali diminta untuk membantu tentang perizinan kegiatan Indonesia. Seperti pada tahun ini, ia didaulat untuk membantu mengajukan permohonan izin kegiatan festival dan pawai yang diadakan komunitas Indonesia.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang Indonesia yang memilih datang ke Taiwan untuk bekerja dan memberikan kontribusi di sini,” kata Henry.
“Saya juga percaya bahwa setiap orang adalah sesuatu yang sangat berharga. Pekerjaan tetaplah pekerjaan, tetapi saya berharap setiap orang dapat menjalani kehidupan di sini dengan bahagia dan merasa aman serta tenang,” ungkapnya.
Selesai/JC