Oleh Muhammad Irfan, Staf Repoter CNA
Trio pop/rock Indonesia Sheila on 7 telah hampir tiga dekade konsisten menjadi salah satu band papan atas Indonesia dengan banyak lagu yang menjadi latar kehidupan banyak orang, dan dalam wawancara eksklusif dengan CNA, tiga personelnya, Duta, Eross, dan Adam, mengulas bagaimana mereka tetap relevan di berbagai generasi hingga kisah di balik adaptasi lagu “Sephia” ke dalam bahasa Mandarin pada 2002.
Vokalis band tersebut, Duta langsung berbinar ketika CNA menyinggung versi Mandarin “Sephia”, lagu dari album kedua Sheila on 7, “Kisah Klasik Untuk Masa Depan” (2000), yang di Taiwan dirilis dengan judul “Sophia” sebagai trek kedua dalam album “Out of Print” (呼喚) milik penyanyi Taiwan Chyi Chin (齊秦).
Dalam penelusuran CNA, Chyi Chin adalah penyanyi, penulis lagu, dan musisi Taiwan yang menjadi salah satu ikon penting Mandopop sejak 1980-an. Ia pernah memenangkan Golden Melody Award untuk Best Mandarin Male Singer pada 1997, dan dikenal melalui lagu-lagu seperti “Wolf” (狼) dan “The Great Wall” (大約在冬季).
Sementara lirik versi Mandarin ditulis oleh Hsu Chang Te (許常德), penulis lirik dan figur penting dalam industri musik pop Taiwan yang menulis lirik untuk banyak penyanyi terkenal, termasuk Chang Yu-sheng (張雨生), A-Mei (張惠妹), Tarcy Su (蘇慧倫), Valen Hsu (許茹芸), dan lainnya. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “我是一棵秋天的樹” (I Am a Tree in Autumn) yang dinyanyikan Chang Yu-sheng.
“Kalau itu sebenarnya dari label (rekaman) ya,” kata Eross, gitaris Sheila on 7 menjawab tentang lagu tersebut. Saat itu, Sheila on 7 masih bekerja sama dengan Sony Music, sebagai label yang menaungi mereka selama 16 tahun dan merilis delapan album studio dari band ini.
Menurut Eross, Chyi Chin penyanyi yang di Taiwan juga dinaungi oleh label yang sama. Tidak heran maka ada kerja sama di antara mereka.
Namun, Eross mengaku tak pernah mengenal Chyi Chin secara personal. “Waktu itu aku cuma diceritain mereka susah kalau mau pronounce Sephia. Jadi diganti “Sophia”. Ya cuma sebatas itu tahunya,” kata Eross.
Saat itu, sambung Eross, Sheila on 7 sangat bangga karena ada artis dari luar yang mau mengadaptasi lagu mereka ke bahasa mereka. “Kalau zaman sekarang mungkin banyak yang kebalik. Maksudnya, yang dari lagu luar diadaptasi ke Indonesia. Tapi (lagu) dari Indonesia ke luar tuh ya Alhamdulillah,” kata dia.
Duta menambahkan, bisa jadi secara tidak sadar, notasi lagu “Sephia” relevan dengan lagu-lagu Mandarin. Sehingga ketika kemudian diadaptasi oleh penyanyi Taiwan ke dalam bahasa Mandarin, lagu yang juga dibuatkan musik videonya ini tidak terasa asing bagi pendengar lokal.
“Maksudnya progresinya secara tidak sadar gitu. Jadi emang setelah disadur oleh penyanyi Taiwan dengan bahasa Mandarin, enggak terasa asing aja gitu. Maksudnya kayak nge-blend aja. Kayak seolah-olah itu lagu memang lagunya dia. Bukan lagu saduran dari lagu Indonesia. Bagi kami sih it's a good thing gitu,” kata Duta.
Jujur pada musik dan berkah penggemar
Bagi Sheila on 7, tidak ada resep khusus untuk tetap relevan dari zaman ke zaman. Sejak awal, band asal Yogyakarta yang semula berformasi lima orang ini tidak pernah berusaha membuat karya yang mengikuti tren musik yang sedang berkembang.
“Lebih jujur saja dalam membuat karya. Kita enggak pernah berusaha membuat karya yang sesuai dengan tren musik yang ada,” ujarnya.
Menurutnya, sejak awal tujuan Sheila on 7 ketika membuat lagu bukanlah semata-mata untuk menjadi populer. Musik dibuat untuk dinikmati, dimainkan bersama, sekaligus menjadi medium untuk bercerita.
Karena itu, kata Duta, lagu-lagu Sheila on 7 memiliki karakter dan tema yang beragam. Ada lagu yang terasa tepat untuk didengarkan ketika seseorang sedang menghadapi perpisahan, ada yang cocok menemani masa pacaran, dan ada pula yang terasa pas ketika dinikmati bersama teman-teman, atau bahkan dalam hubungan dengan orang tua dan anak.
Contohnya cukup kuat, Sheila on 7 misalnya, punya lagu “Kisah Klasik untuk Masa Depan”, yang telah lama menjadi lagu yang diasosiasikan dengan perpisahan dan kenangan masa sekolah. Lagu-lagu tersebut kemudian mendapatkan kehidupan baru ketika dinikmati oleh pendengar untuk merepresentasikan pengalaman pribadi mereka.
“Semua boleh memilih lagu Sheila on 7 yang mana pun untuk berbagai macam scene dalam kehidupan,” kata Duta.
Menurut Sheila on 7, keberlangsungan musik mereka selama bertahun-tahun juga tidak semata-mata merupakan hasil kerja band. Ada peran besar dari para pendengar yang terus memperkenalkan lagu-lagu mereka kepada generasi berikutnya.
Di Indonesia, misalnya, Sheila on 7 kini dapat didengarkan oleh satu keluarga sekaligus. Orang tua yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka memperkenalkannya kepada anak-anak yang bahkan lahir jauh setelah masa kejayaan lagu tersebut.
“Banyak sekali orang yang selalu bilang, ‘Saya dengar dari ibu saya’, ‘Saya dengar dari kakak saya’, ‘Saya dengar dari tante saya’, ‘Saya dengar dari teman saya’,” kata Duta.
Karena itu, menurutnya, status Sheila on 7 sebagai band lintas generasi justru bukan sesuatu yang mereka ciptakan secara sengaja. Status tersebut terbentuk melalui para penggemar yang dengan bangga memperkenalkan musik Sheila on 7 kepada orang-orang di sekitar mereka.
Langkah baru lewat “Sederhana”?
Di tengah perjalanan panjang tersebut, Sheila on 7 juga masih terus menghasilkan karya baru. Pada tahun ini, mereka merilis single “Sederhana”, menyusul “Memori Baik” yang lebih dulu dirilis.
Duta menjelaskan, kedua lagu tersebut sebenarnya bukan karya yang baru dibuat pada tahun perilisan. “Sederhana” dan “Memori Baik” berasal dari satu periode produksi yang sama. Beberapa lagu dari periode tersebut telah direkam dan kemudian dipilih untuk dirilis secara bertahap.
Saat ditanya apakah ini berarti persiapan untuk album baru, Duta mewakili Sheila on 7 menjawab “belum”. Namun, ia memastikan masih ada kemungkinan karya-karya lain dari periode yang sama akan dirilis. “Waktunya belum ditentukan, bisa pada akhir 2026, awal tahun berikutnya, atau bahkan lebih lama lagi,” kata Duta.
Perjalanan hampir 30 tahun membuat musik Sheila on 7 berkembang seiring usia dan pengalaman para personelnya. Tema yang mereka pilih pun mengikuti fase kehidupan, tanpa berusaha mengejar tren atau terdengar lebih muda.
“Kita juga enggak mau sok muda. Kami tidak pernah berusaha menjadi sesuatu yang lain,” ujar Duta.
Meski tetap memberi sentuhan agar musik mereka mudah diterima pendengar muda, Sheila on 7 memilih berkembang secara alami. Eross menambahkan, perubahan itu justru sering lebih mudah dirasakan oleh pendengar dari luar band.
“Kadang yang bisa lebih menilai itu orang luar,” katanya.
Bagi Sheila on 7, kuncinya sederhana: tidak memaksakan diri dan tetap menjadi diri sendiri. “Kita bawanya enak, pantas, ya sudah, gas,” ujar mereka.
Selesai/ja