Taipei, 26 Apr. (CNA) Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍) tiba di Eswatini pada Sabtu (25/4) pagi, beberapa hari setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te (賴清德) terpaksa membatalkan rencana perjalanannya ke Afrika bagian selatan karena adanya laporan campur tangan dari Tiongkok.
Lai dijadwalkan mengunjungi Eswatini dari Rabu hingga Sabtu, namun Kantor Kepresidenan mengatakan pada malam keberangkatannya bahwa perjalanan tersebut ditangguhkan setelah Seychelles, Mauritius, dan Madagaskar mencabut izin terbang di wilayah udara mereka, dengan Seychelles dan Madagaskar menyatakan kepatuhan pada prinsip "satu Tiongkok" dari Beijing.
Namun, dalam sebuah video yang diunggah di halaman Facebook pemerintah Eswatini pada Sabtu pagi, Lin terlihat berjalan di landasan pacu setelah tiba di satu-satunya sekutu diplomatik Taiwan di Afrika.
"Yang Mulia Lin Chia-lung berada di negara ini untuk merayakan Ruby Jubilee atas masa pemerintahan Yang Mulia dan perayaan ulang tahun ke-58," demikian keterangan pada video tersebut, seraya menambahkan bahwa ia tiba di Bandara Internasional King Mswati III.
"[Lin] disambut hangat oleh Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Senator Pholile Shakantu dan Menteri Perdagangan, Industri dan Perdagangan Manqoba Khumalo," demikian isi keterangan tersebut.
Tak lama setelah video tersebut diunggah, Kantor Kepresidenan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Lai telah menunjuk Lin sebagai utusannya ke Eswatini.
Penunjukan ini "menunjukkan bahwa kami sangat menghargai persahabatan antara Taiwan dan Eswatini" dan mencerminkan upaya berkelanjutan Taiwan untuk memperdalam kerja sama dengan sekutunya dalam semangat saling menguntungkan, kata juru bicara Kantor Kepresidenan Karen Kuo (郭雅慧).
Lai dijadwalkan berangkat pada hari Rabu untuk kunjungan luar negeri keduanya sejak menjabat pada Mei 2024, namun Kantor Kepresidenan mengatakan kunjungan tersebut ditangguhkan setelah Beijing menekan tiga negara Afrika tersebut untuk mencabut izin terbang di wilayah udara mereka.
Selesai/