Dari Konferensi Asia Afrika ke Gerakan Taiwan dalam bingkai cetak saring

16/03/2026 15:08(Diperbaharui 16/03/2026 17:10)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Syaiful Ardianto dari Cut and Rescue (kanan) memberi contoh praktik sablon dalam lokakarya "Bandung Fantasized" yang digelar di Open Contemporary Art Center Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 15 Maret 2026)
Syaiful Ardianto dari Cut and Rescue (kanan) memberi contoh praktik sablon dalam lokakarya "Bandung Fantasized" yang digelar di Open Contemporary Art Center Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 15 Maret 2026)

Taipei, 16 Mar. (CNA) Kolektif seni visual asal Jakarta, Cut and Rescue menggelar lokakarya cetak saring atau sablon di Open Contemporary Art Center (OCAC) Taipei, Minggu (3/15), sebagai bagian dari rangkaian acara dari proyek penelitian "Bandung Fantasized", tentang gerakan Taiwan di luar negeri dan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955.

Kepada CNA, peneliti dan kritikus seni asal Taiwan, Rikey Tēnn (鄭文琦), pemrakarsa penelitian tersebut, menyatakan lokakarya ini dibuat mengingat praktik kerja Cut and Rescue yang fokus merespons arsip dan praktik cetak. Senada juga dengan aktivitas di OCAC sebagai salah satu ruang kreatif yang ada di Taipei sejak lebih dari 20 tahun lalu.

Sementara itu, kata Tēnn, konsep besar proyek ini adalah penelitian yang ia gagas pada Mei 2025 dan berlangsung selama satu tahun, serta melanjutkan eksplorasinya dalam karya yang ia kerjakan pada Festival Seni Hak Asasi Manusia Green Island 2025, yang menyoroti upaya Liao Wen-yi (廖文毅) mendirikan Pemerintahan Sementara Republik Taiwan di Tokyo.

Di festival tersebut, Cut and Rescue juga membuat sebuah karya cetak yang menghubungkan Green Island di Taiwan dan Pulau Buru di Indonesia sebagai tempat penahanan tahanan politik di masa lalu.

Dalam proses lokakarya ini, Cut and Rescue membawa tiga cetakan yang berisi sejumlah gambar karya mereka yang diambil dan disarikan dari sejumlah arsip yang mereka dapat terkait KAA di Bandung tahun 1955.

Menurut Tēnn, KAA jadi fokus karena merupakan sebuah momen penting bagi negara-negara Asia dan Afrika yang saat itu baru saja merdeka. Hubungannya dengan Taiwan, ujarnya, adalah asumsi bahwa Chen Chih-hsiung (陳智雄), seorang aktivis kemerdekaan Taiwan, pernah di Bandung terkait konferensi itu. 

"Penelitian ini mengambil dua latar utama: narasi resmi Konferensi Bandung 1955 dan gerakan diaspora Taiwan di luar negeri yang dipimpin Liao Wen-yi pada tahun 1950-an. Dengan kerangka tersebut, penelitian ini mencoba membuka kembali pemikiran kita mengenai imajinasi politik antara Taiwan dan Asia Tenggara pada masa Perang Dingin," kata Tēnn.

Sebagai penyelenggara, Tēnn mengaku terkesan dengan lokakarya ini karena bahkan berlangsung lebih lama dari rencana dan mendapat respons yang baik dari para pengunjung baik orang Taiwan, orang Indonesia, dan pengunjung asing lainnya.

Tēnn pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam acara ini. "Membuat suasananya terasa seperti sebuah perayaan seni rahasia," ucapnya.

Angga Cipta dari Cut and Rescue (kanan) memberi contoh praktik sablon dalam lokakarya "Bandung Fantasized" yang digelar di Open Contemporary Art Center (OCAC) Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 15 Maret 2026)
Angga Cipta dari Cut and Rescue (kanan) memberi contoh praktik sablon dalam lokakarya "Bandung Fantasized" yang digelar di Open Contemporary Art Center (OCAC) Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 15 Maret 2026)

Angga Cipta, seniman dari Cut and Rescue menyebut lokakarya ini mencakup pada penjelasan terkait materi yang dicetak, yakni sejumlah arsip yang masuk dalam penelitian "Bandung Fantasized" dan teknik cetak saring.

Arsip-arsip ini, menurutnya, mulai dikumpulkan sejak April tahun lalu dan mulai diolah sejak awal tahun ini. Arsip tersebut didapat dari Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional Republik Indonesia. 

"Dari situ kami jelaskan bagaimana cara melakukan proses cetaknya, praktiknya, dan kemudian mereka mulai menjalankan sablonnya sendiri," kata Angga.

Seperti Tēn, Angga juga terkesan dengan antusiasme penonton. Menurutnya, peserta lokakarya yang berjumlah lebih dari 30-an orang terbilang baru dengan praktik ini. Namun, dari beberapa contoh yang Cut and Rescue berikan selama lokakarya, proses cetak yang tadinya berjalan searah mulai berlangsung interaktif.

"Ada yang mempersiapkan cetakannya sendiri, ada yang enggak puas dengan cetakan pertamanya kemudian mencoba lagi. Seru banget," kata Angga.

Lokakarya “Bandung Fantasized” oleh kolektif Cut and Rescue yang digelar di Open Contemporary Art Center Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 15 Maret 2026)
Lokakarya “Bandung Fantasized” oleh kolektif Cut and Rescue yang digelar di Open Contemporary Art Center Taipei, Minggu. (Sumber Foto : CNA, 15 Maret 2026)

Senada, Syaiful Ardianto seniman Cut and Rescue menyebut sejak awal proyek ini dirumuskan bersama Tēn, pihaknya telah berpikir tentang lokakarya ini. Beberapa hal yang jadi pertimbangan adalah karena proses cetak saring atau sablon adalah bagian dari kerja kreatif kolektifnya.

Selain itu, mereka juga melakukan desain dan memberi sentuhan pada video presentasi yang diputar di acara presentasi penelitian pada Sabtu di Honggah Museum Taipei.

"Akhirnya karya yang kami buat bisa dimiliki oleh mereka yang datang ke acara ini juga," kata pria yang akrab disapa Ipul itu.

Ipul juga menyebut acara lokakarya ini dibuat dinamis, sehingga semua orang yang hadir bisa aktif berpartisipasi, mencoba, dan melakukan eksperimennya masing-masing. Bahkan, teman seniman dari Taiwan membawa karyanya sendiri untuk ikut dicetak di acara ini. 

"Terbukti dari yang harusnya sampai jam 5 sore, lokakarya berlangsung sampai malam hari," kata Ipul.

Rahmat Arham, mahasiswa Indonesia di Taiwan yang ikut ambil bagian dalam lokakarya ini mengaku terkesan, bahwa selain mendapatkan karya Cut and Rescue dan mencetaknya di material yang ia bawa, yang lebih penting adalah membangun jejaring seni antara sesama orang Indonesia, Taiwan, dan warga asing lainnya.

"Sebenarnya yang lebih berkesan adalah kumpul-kumpulnya," kata Rahmat.

(Oleh Muhammad Irfan)

Selesai/JC

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.