Mahkamah Agung Taiwan pertahankan vonis 15 tahun untuk pekerja migran atas pembunuhan

23/02/2026 18:20(Diperbaharui 23/02/2026 18:20)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 23 Feb. (CNA) Mahkamah Agung Taiwan telah mempertahankan hukuman 15 tahun penjara terhadap seorang pekerja migran asal Filipina yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan seorang rekan senegaranya dan membahayakan nyawa orang lain pada 2023.

Putusan yang dikeluarkan pada 11 Februari dan bersifat final tersebut mempertahankan hukuman pengadilan tingkat bawahnya setelah tidak menemukan kesalahan hukum dalam putusan tersebut.

Menurut putusan awal, Pengadilan Distrik Changhua menyatakan warga negara Filipina, Dizon Benjie San Agustin, bersalah atas pembunuhan dan tindakan membahayakan karena membunuh seorang pekerja migran di Kabupaten Changhua dan membahayakan nyawa orang lain.

Menurut pengadilan distrik, Agustin tampaknya memutuskan untuk membunuh korbannya ketika upayanya untuk berdamai dengan istrinya yang telah pisah ranjang dengannya gagal.

Ia mencoba menyelamatkan pernikahannya dengan kembali ke Filipina dari Desember 2022 hingga Januari 2023, tetapi dalam perjalanan tersebut ia mengetahui bahwa korban telah memberi tahu sang istri bahwa Agustin memiliki pacar di Taiwan, sebagaimana tercantum dalam putusan awal.

Setelah upaya rekonsiliasi gagal, Agustin membeli bensin, obor, dan sabit di Taiwan antara 18 November hingga 22 November 2023, dan menyembunyikan barang-barang tersebut di dalam asrama pekerja.

Sekitar pukul 12 dini hari pada 23 November 2023, Agustin menyiramkan bensin ke kamar yang ditempati korban dan seorang teman sekamarnya.

Setelah membakar kamar tersebut, ia memblokir pintu dari luar untuk mencegah para penghuni melarikan diri.

Korban dan teman sekamarnya itu akhirnya berhasil mendobrak pintu, tetapi Agustin dilaporkan menyerang korbannya dengan sabit untuk memaksanya kembali ke kamar.

Meskipun kedua penghuni akhirnya berhasil keluar dari kamar, target utama Agustin mengalami luka sayatan dan patah tulang di kepala dan dada, serta luka bakar di wajah dan tubuhnya.

Upaya penyelamatan korban gagal, dan ia meninggal dunia pada 16 Desember 2023.

Sementara itu, teman sekamarnya selamat dari insiden tersebut dengan luka bakar di lengan dan punggungnya.

Putusan pengadilan Changhua juga menyebutkan bahwa setelah membakar kamar tersebut, Agustin kemudian membawa cairan mudah terbakar ke kamar kedua di dalam asrama dan menyemprotkannya ke wajah pekerja migran lain yang mengalami syok.

Meskipun petugas pemadam kebakaran setempat berhasil memadamkan api dan menyelamatkan asrama, putusan tersebut menyatakan lokasi tetap mengalami kerusakan properti pada sekat dinding dan unit pendingin udara.

Pengadilan Distrik Changhua akhirnya menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada Agustin atas pembunuhan pada 7 Agustus 2025, dan tambahan enam bulan penjara atas tindakan membahayakan, yang dapat diganti dengan denda.

Agustin kemudian mengajukan banding atas kasusnya, tetapi Pengadilan Tinggi Taiwan Cabang Taichung mempertahankan putusan Pengadilan Distrik Changhua.

Dengan Mahkamah Agung juga menguatkan putusan asli pada 11 Februari tersebut, hukuman untuk Agustin telah final.

(Oleh Hsieh Chun-lin, James Lo, dan Jason Cahyadi)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.