WAWANCARA /Penulis Taiwan temukan hidup saat hadapi kematian

22/02/2026 20:20(Diperbaharui 22/02/2026 20:20)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Penulis Taiwan, Avis Wu. (Sumber Foto : Theday studio CO.)
Penulis Taiwan, Avis Wu. (Sumber Foto : Theday studio CO.)

Oleh Chiu Tsu-yin dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

Penulis Taiwan Avis Wu (吳娮翎) mengalami banyak titik balik setelah didiagnosis kanker. Namun, ia memilih menghadapi semuanya dengan optimisme, berani mencoba hal-hal baru, dan tidak menunda daftar hidupnya hingga detik terakhir. Baginya, waktu yang paling tepat untuk mewujudkan hidup adalah "sekarang".

Wu, seorang konselor psikolog dan penulis kolom, memiliki hidup yang penuh warna dan bermakna. Namun, pada usia 30 tahun ia harus memulai perjalanan panjang melawan kanker selama sepuluh tahun.

Pemeriksaan rutin setiap tiga bulan, puncak risiko kambuh selama tiga tahun, serta tantangan tingkat kelangsungan hidup lima tahun, menjadi beban yang tak tertahankan bagi masa muda dan energi Wu.

Wu menyadari hidup begitu rapuh dan waktu begitu terbatas, dan banyak hal, jika tidak dilakukan sekarang, mungkin tidak akan pernah terlaksana. Mengenang semua "keinginan" yang pernah dimilikinya, ia memilih untuk tidak menunggu dan langsung bertindak, "Karena kita tidak pernah tahu kapan momen itu akan tiba."

Baru-baru ini, Wu menerbitkan buku berjudul "Berangkat Sekarang Juga" (現在就出發). Dalam wawancara dengan CNA, ia mengatakan bahwa banyak "keinginan" dalam hidup sebenarnya tidak selalu benar-benar kehendak diri sendiri, melainkan termasuk harapan sosial dan kemauan yang tidak perlu.

Oleh karena itu, kata Wu, ia beralih pada eksplorasi diri, mulai mendaki gunung dan mempelajari psikologi. Dalam perjalanan mendaki berulang kali, ia menyaksikan pemandangan yang megah dan hatinya semakin luas.

Terutama saat menikmati keindahan Himalaya dan mencapai kamp pangkalan Gunung Everest, kata Wu, ia memahami bahwa karena keterbatasan fisik, tidak semua bisa dicapai dengan cepat. Namun, selama masih bisa berjalan, ia tidak akan terjebak di tempat, dan selalu ada jalan maju. "Berjalan", baginya, membuat hidup bergerak.

Avis Wu. (Sumber Foto : Theday studio CO.)
Avis Wu. (Sumber Foto : Theday studio CO.)

Wu juga berbagi perjalanan batinnya melawan kanker: "Saya termasuk orang yang relatif lapang dada. Daripada bertanya, 'Mengapa saya?', saya lebih ingin tahu bagaimana memiliki hidup yang tak menyisakan penyesalan. Saya mencari jawaban untuk hati saya, agar tidak ada yang tersisa menyesal."

Menghadapi pertanyaan yang sama seperti banyak pasien lain, Wu menyatakan bahwa meski tidak tahu bagaimana dirinya terkena kanker, setidaknya ia berusaha mencegah penyakitnya kambuh.

"Ini adalah respons paling positif saya terhadap hidup. Di pola hidup saya dahulu, saya sering melakukan hal-hal mendasar dengan buruk -- tidak makan dengan baik, tidak cukup tidur, selalu menempatkan pekerjaan di depan diri sendiri." Setelah didiagnosis kanker, ia belajar menempatkan dirinya sebagai prioritas utama.

"Pekerjaan bukanlah prioritas utama dalam hidup. Di tempat kerja, tidak ada yang tak tergantikan, tetapi hidup sendiri hanya sekali dan tidak bisa diganti." Wu mendefinisikan hidupnya pascakanker sebagai "hidup kedua", di mana ia ingin tidak ada penyesalan dan menjadi bahagia.

Wu juga menegaskan yang menakutkan dari kanker bukan penyakitnya, melainkan "kematian". Namun, didorong kata-kata filsuf Jerman Martin Heidegger, Wu mengatakan bahwa cara ia menghadapi kanker adalah dengan "Menghadapi kematian, dan tetap hidup."

Heidegger pernah mengatakan bahwa, "Jika aku menerima kematian dalam hidupku, mengakuinya, dan menghadapinya secara langsung, aku akan membebaskan diriku dari kecemasan akan kematian dan kekecilan hidup -- dan hanya dengan demikian aku akan bebas untuk menjadi diriku sendiri."

Meski begitu, saat Wu mengira hatinya telah tenang, ia tetap meneteskan air mata selama perjalanannya di India. "Ternyata ketenangan yang saya kira ada, masih menyimpan kesedihan dan air mata untuk diri sendiri -- air mata yang tertahan lama selama melawan kanker."

Wu menambahkan, selama ini ia selalu menyuruh dirinya kuat dan bahagia, sehingga kesedihannya justru terkubur lebih dalam. Belakangan, ia tak lagi menahan air mata, melainkan menerima bahwa "Air mata itu adalah bagian dari diri saya."

Selesai/

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.