Taipei, 13 Feb. (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德) memperingatkan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa jika Tiongkok, yang ia sebut ekspansionis, berhasil mengambil alih Taiwan, maka negara-negara tetangganya akan menjadi sasaran berikutnya.
"Jika Taiwan diambilalih oleh Tiongkok, ambisi ekspansionis Tiongkok tidak akan berhenti di situ," kata Lai kepada AFP dalam wawancara yang dipublikasikan Kamis (12/2).
Lai memperingatkan bahwa jika Taiwan jatuh, hal itu akan memberanikan Beijing untuk mengambil tindakan yang lebih agresif.
"Negara-negara berikutnya yang terancam adalah Jepang, Filipina, dan negara lain di kawasan Indo-Pasifik, dengan dampak yang pada akhirnya akan mencapai Amerika dan Eropa," ujarnya, seraya menambahkan bahwa di dunia yang saling terhubung saat ini, peristiwa di satu negara pasti akan memengaruhi komunitas global.
Hubungan Tiongkok-Jepang memburuk setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi pada November mengatakan serangan Tiongkok terhadap Taiwan akan menjadi situasi yang mengancam kelangsungan hidup bagi Jepang dan dapat memicu respons militer dari Tokyo. Sejak saat itu, Beijing meningkatkan tekanan militer terhadap Negeri Matahari Terbit.
Sementara itu, ketegangan tinggi terjadi antara Tiongkok dan Filipina di perairan yang disengketakan di Laut Cina Selatan, dengan beberapa insiden tabrakan antara kapal penjaga pantai kedua negara dilaporkan sejak 2024.
Dalam wawancara, Lai mengatakan hubungan Taiwan-Amerika Serikat tetap kokoh, seraya menambahkan bahwa ia yakin AS tidak perlu menggunakan Taiwan sebagai "alat tawar-menawar" dalam pembicaraan dengan Tiongkok.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) pada April di Beijing, di mana mereka diperkirakan akan membahas perdagangan bilateral dan isu-isu lainnya.
"Dalam konteks persaingan perdagangan AS-Tiongkok, Tiongkok menginginkan jauh lebih banyak dari AS dibandingkan sebaliknya," kata Lai kepada AFP.
Lai mengatakan Taiwan menyambut baik setiap pembicaraan antara kedua pemimpin yang dapat membantu menjaga status quo dan ia percaya Presiden Trump sedang "Melakukan upaya membangun perdamaian yang sulit."
Ia juga memaparkan visinya untuk rantai pasok semikonduktor global, dengan produksi berlangsung di Eropa, Jepang, dan AS, di mana operasi Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) telah berkembang, namun Taiwan tetap memimpin sektor ini dengan mempertahankan proses manufaktur paling maju.
Perencanaan semikonduktor Taiwan di AS merupakan area penting dalam hubungan bilateral. Dalam negosiasi perdagangan yang akan segera diselesaikan dengan AS, Taiwan telah berjanji untuk berinvestasi langsung sebesar US$250 miliar (Rp4,21 kuadriliun) di sektor semikonduktor, energi, dan kecerdasan buatan di AS.
Selesai/IF