Berlin, 29 Jan. (CNA) Penerjemah veteran Jerman, Karin Betz, yang saat ini sedang menerjemahkan novel Taiwan pemenang penghargaan "Taiwan Travelogue" (台灣漫遊錄), telah menghabiskan puluhan tahun memperkenalkan sastra Taiwan dan Tiongkok kepada para pembaca di Jerman.
Bagi para pembaca Jerman sastra Tiongkok, namanya sulit untuk dilewatkan.
Dari peraih Nobel Sastra Mo Yan (莫言) dan peraih Nobel Perdamaian Liu Xiaobo (劉曉波), hingga novelis fiksi ilmiah Liu Cixin (劉慈欣) dan ikon fiksi silat Louis Cha Leung-yung (金庸), Betz telah menerjemahkan karya-karya lintas zaman dan genre, memperkenalkan sastra Tiongkok ke pasar bahasa Jerman yang memiliki lebih dari 200 juta pembaca.
Pada tahun 2024, ia menerima Helmut M. Braem-Übersetzerpreis atas terjemahannya dari karya penulis Hong Kong Xi Xi "My City: A Hong Kong Story" (我城), sebagai penghormatan atas kontribusinya selama puluhan tahun dalam penerjemahan sastra.
Pertemuan dengan sastra Taiwan
Perjalanan Betz dengan sastra Taiwan dimulai dari karya-karya Sanmao (三毛).
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan CNA, ia mengenang saat menemukan bahwa "Stories of the Sahara" (撒哈拉歲月) karya Sanmao belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1991.
Buku tersebut, yang kaya akan pengalaman hidup perempuan dan tema kolonisasi serta hubungan lintas budaya, langsung menarik perhatiannya sebagai karya yang akan beresonansi dengan pembaca Barat. Betz pun memutuskan untuk menerjemahkan karya tersebut dan menawarkannya ke penerbit Jerman.
"Sastra dapat membawa pembaca ke dalam lanskap budaya yang berbeda, memungkinkan mereka memahami bagaimana orang hidup dan berpikir," ujarnya. "Tidak ada buku panduan wisata atau berita yang bisa menggantikannya."
Wawasan inilah yang membimbingnya dalam menerjemahkan sastra Taiwan, yang kini ia lakukan lebih sering dalam beberapa tahun terakhir.
Terjemahan sastra Tiongkok ke dalam bahasa Jerman sebagian besar berasal dari Tiongkok, catat Betz, sehingga karya-karya Taiwan masih kurang terwakili.
Namun, itu tidak berarti karya-karya Taiwan kurang kreatif. "Ada banyak karya sastra Taiwan yang menarik dan matang," ujar Betz, menjelaskan bahwa sastra Taiwan seringkali memiliki gaya yang berbicara kepada audiens yang lebih muda, membahas isu gender, identitas, dan nilai sosial dengan pendekatan yang alami.
Dibandingkan dengan sastra Tiongkok, penulis Taiwan menggambarkan tema LGBTQ+ dengan lebih alami, merangkainya ke dalam hubungan antar karakter dan alur cerita sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, tambahnya.
Menjembatani kesenjangan budaya
Bagi Betz, novel berfungsi sebagai jembatan antar budaya, menyampaikan detail terkecil dari sebuah masyarakat asing ke dalam imajinasi pembaca.
Pada tahun 2024, ia menerjemahkan novel kriminal karya penulis Taiwan Katniss Hsiao (蕭瑋萱) "Before We Were Monsters" (成為怪物以前).
Sebuah deskripsi dalam buku tersebut membuatnya bingung: "Di depan pintu masuk kuil, seseorang sedang bermain dengan dua balok kayu berbentuk seperempat bulan."
"Ternyata ini merujuk pada ritual umum di Taiwan, melempar balok ramalan (擲筊杯), saat berdoa kepada dewa," kata Betz.
Detail budaya seperti ini memerlukan riset dan verifikasi yang mendalam, namun ia menyebutnya sebagai bagian paling memuaskan dari penerjemahan. "Detail-detail ini membuat sebuah masyarakat menjadi nyata, membantu pembaca memahami kehidupan religius sehari-hari masyarakat lokal."
Betz juga mencatat adanya perubahan besar dalam bahasa sastra Taiwan kontemporer. Jika karya-karya lama didominasi bahasa Mandarin, banyak penulis modern kini sengaja memasukkan unsur Hoklo, Jepang, dan Inggris, menggunakan bahasa itu sendiri sebagai wadah identitas dan sejarah.
"Tapi ini juga menjadi tantangan besar bagi penerjemah," ujar Betz. Dengan keterbatasan alat riset dan kamus, ia sering meminta bantuan teman atau langsung kepada penulis untuk mendapatkan konteks isu-isu Taiwan.
Ia mengatakan, kompleksitas dan interseksionalitas bahasa membuat sastra Taiwan berbeda di dunia sastra Tionghoa.
Betz saat ini sedang menerjemahkan "Taiwan Travelogue" karya Yang Shuang-zi (楊雙子), sebuah karya yang mengeksplorasi sejarah kolonial dan pertukaran bahasa dari perspektif perempuan.
Bagi Betz, buku ini menjadi contoh bagaimana sastra Taiwan mengomunikasikan pengalaman uniknya kepada dunia. Buku ini juga memberikan kesempatan bagi pembaca Jerman untuk memahami lapisan sejarah Taiwan yang rumit.
"Jika seorang pembaca Jerman jatuh hati pada penulis Taiwan, atau sastra Taiwan, mereka mungkin juga ingin memahami tanah yang melahirkan cerita itu, dan masa depannya," kata Betz.
Selesai/ML