Taipei, 28 Jan. (CNA) Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung (林佳龍) menegaskan bahwa hubungan Taiwan–Indonesia seharusnya tidak dibatasi oleh prinsip “satu Tiongkok”, melainkan didasarkan pada kerja sama pragmatis dan saling menguntungkan, disampaikan dalam sebuah wawancara dengan media Indonesia Tempo.
Kementerian Luar Negeri (MOFA) Taiwan dalam sebuah siaran pers hari Selasa (27/1) menyampaikan bahwa Lin pada 9 Januari lalu menerima wawancara daring dengan Majalah Tempo, yang menjadi wawancara pertamanya dengan media Asia Tenggara sejak menjabat sebagai menteri luar negeri.
Dalam wawancara tersebut, Lin menyatakan bahwa Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir terus meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, termasuk melalui pengerahan pesawat militer, manipulasi informasi, dan operasi perang kognitif, sebagai bagian dari strategi hibrida untuk mengubah status quo di Selat Taiwan.
Menurut Lin, ambisi geopolitik Beijing juga telah meluas ke Jepang dan Filipina, bahkan menantang tatanan internasional pasca-Perang Dunia II melalui klaim seperti pernyataan bahwa Kepulauan Ryukyu merupakan bagian dari Tiongkok.
Lin menilai tindakan tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi sumber utama yang merusak perdamaian dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Menghadapi situasi ini, ia menegaskan bahwa pemerintah Taiwan akan tetap mempertahankan status quo, sembari terus mendorong reformasi pertahanan dan memperkuat ketahanan pertahanan seluruh masyarakat guna meningkatkan daya tangkal serta menjaga stabilitas dan perdamaian di Selat Taiwan.
Meski demikian, Lin menekankan bahwa Taiwan tidak berniat meningkatkan konfrontasi. Ia mengatakan tujuan utama Taiwan adalah menjaga perdamaian kawasan dan kebebasan navigasi internasional.
Terkait hubungan Taiwan dan Indonesia, Lin kembali menegaskan bahwa interaksi bilateral tidak seharusnya dibatasi oleh prinsip “satu Tiongkok” yang didorong Beijing. Menurutnya, hubungan kedua pihak perlu dikembalikan pada pendekatan yang pragmatis dan berorientasi pada kepentingan bersama.
Sebagai contoh, Lin menyinggung proyek kereta cepat Jakarta–Bandung yang dibangun oleh Tiongkok. Ia menyebut proyek tersebut kerap diiringi janji-janji besar, namun menimbulkan berbagai kontroversi terkait kualitas, pembiayaan, serta pelaksanaan lanjutan.
Sebaliknya, Lin menegaskan bahwa Taiwan selalu menjunjung tinggi prinsip integritas, mengutamakan kerja sama jangka panjang, dan berfokus pada hasil yang konkret. Ia mengimbau pemerintah Indonesia untuk memandang Taiwan sebagai mitra yang setara dan dapat dipercaya.
Lin juga menyoroti bahwa di era ketika semikonduktor menjadi aset strategis, teknologi, ekonomi, dan keamanan kini tidak lagi dapat dipisahkan. Menurutnya, paradigma lama “ekonomi bergantung pada Tiongkok, keamanan bergantung pada Amerika Serikat” sudah tidak lagi relevan.
Sebagai simpul penting dalam rantai pasok semikonduktor global, Lin mengatakan Taiwan siap berperan sebagai jembatan untuk membantu Indonesia terhubung dengan “rantai pasok non-merah”, yakni jaringan pasok yang dipimpin Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi serta memenuhi standar keamanan siber dan kepercayaan.
Dikutip dari Tempo.co, Lin juga menyatakan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi mitra penting Taiwan dalam pengembangan industri semikonduktor di Asia Tenggara. Namun, peluang tersebut mensyaratkan sikap Indonesia yang jelas dalam memandang Taiwan sebagai mitra setara, terutama di tengah meningkatnya keterkaitan antara teknologi, ekonomi, dan keamanan global.
“Indonesia, dengan populasi besar dan potensi pasar yang luar biasa, sangat cocok untuk bergabung dalam kerangka ini,” ujar Lin, sebagaimana dikutip Tempo.co.
Di akhir wawancara, Lin menegaskan bahwa ruang kerja sama antara Taiwan dan Indonesia masih sangat luas. Ia mengatakan Taiwan akan terus memperkuat perannya di panggung internasional serta siap mendukung Indonesia untuk memainkan peran kepemimpinan yang lebih besar di ASEAN, guna bersama-sama membangun kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka, dan aman.
(Yang Yao-ju dan Jennifer Aurelia)
Selesai/IF