Taipei, 26 Jan. (CNA) Sekitar 24,6 persen karyawan di Taiwan mengatakan bahwa mereka diminta untuk bekerja di luar jam kerja, kata Kementerian Tenaga Kerja (MOL) pada hari Jumat (24/1).
MOL mengatakan survei tentang kehidupan dan kondisi kerja pekerja pada tahun 2025 menunjukkan bahwa angka ini turun 0,9 poin persentase dari tahun 2024.
Menurut MOL, mereka mengumpulkan 4.029 kuesioner yang valid untuk survei tahun 2025.
Survei tersebut menemukan bahwa para pekerja ini menerima perintah dari perusahaan mereka untuk melakukan tugas di luar jam kerja melalui telepon, internet, atau aplikasi pesan seperti LINE.
Dari para pekerja tersebut, survei menunjukkan, 5,1 persen mengatakan mereka diminta untuk segera mengerjakan tugas tersebut, turun 4,4 poin persentase dari survei tahun 2024.
MOL mengatakan bahwa 36,6 persen responden bekerja lembur pada tahun 2025, hampir tidak berubah dari 36,3 persen pada survei tahun 2024.
Pada tahun 2025, rata-rata jumlah jam kerja lembur mencapai 16,2 jam per bulan, naik dari 14,7 jam pada tahun 2024, menurut survei tersebut.
Industri publikasi video dan audio serta informasi dan komunikasi melaporkan 48,2 persen karyawannya bekerja lembur tahun lalu, diikuti oleh industri listrik dan bahan bakar (47,6 persen) serta industri keuangan dan asuransi (45,1 persen), menurut survei tersebut.
Menurut survei, 88,1 persen dari mereka yang bekerja lembur tahun lalu mengatakan mereka mendapat kompensasi berupa upah lembur atau cuti tambahan.
Namun, 21,8 persen dari kategori "lainnya" di sektor jasa, seperti laundry, perawatan kecantikan, layanan pemakaman, dan layanan pekerjaan rumah tangga, mengatakan mereka tidak menerima upah lembur atau tidak diberikan cuti kompensasi.
Sementara itu, lebih dari 20 persen di industri real estat, publikasi video/audio, serta informasi dan komunikasi juga mengatakan hal yang sama.
Selesai/ML