Studi NTUH: Kanker paru-paru gunakan saraf untuk lemahkan sistem kekebalan tubuh

12/07/2026 10:35(Diperbaharui 12/07/2026 10:35)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Anggota tim penelitian berpose untuk foto pada konferensi pers tentang studi kanker paru-paru mereka di Taipei pada hari Rabu. (Sumber Foto : CNA, 8 Juli 2026)
Anggota tim penelitian berpose untuk foto pada konferensi pers tentang studi kanker paru-paru mereka di Taipei pada hari Rabu. (Sumber Foto : CNA, 8 Juli 2026)

Taipei, 12 Juli (CNA) Sebuah tim peneliti internasional dengan partisipasi dari Taiwan telah mengidentifikasi mekanisme yang sebelumnya tidak diketahui, di mana kanker paru-paru mengaktifkan saraf sensorik untuk melemahkan respons imun tubuh, sebuah temuan yang dapat menawarkan jalur baru untuk pengobatan kanker.

Studi tersebut "mengungkap mekanisme regulasi neuro-imun pada kanker paru-paru" dan dapat mengarah pada arah pengobatan kanker baru berdasarkan "memutus aliran listrik" ke tumor, kata Chen Jin-shing (陳晉興), kepala Departemen Bedah Rumah Sakit Universitas Nasional Taiwan (NTUH), merujuk pada pemblokiran sinyal saraf yang membantu pertumbuhan kanker.

Chen mengatakan dalam konferensi pers di Taipei bahwa belum ada tim peneliti yang sebelumnya mempublikasikan temuan tentang apakah modulasi neuro-imun -- gagasan "memutus aliran listrik" ke kanker -- dapat membuat pengobatan menjadi lebih efektif.

Taruhannya sangat tinggi karena "kanker paru-paru telah menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di Taiwan selama lebih dari dua dekade," dan penyakit ini membunuh lebih dari 10.000 orang di Taiwan di tahun lalu, kata Chen, mengutip data Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan.

Di antara berbagai jenis kanker paru-paru, ia mengatakan adenokarsinoma paru-paru tetap menjadi perhatian utama karena menyumbang lebih dari 70 persen kasus dan masih memiliki prognosis yang buruk ketika didiagnosis pada stadium lanjut.

Saraf yang membantu pertumbuhan tumor

Hadir untuk menjelaskan mekanisme yang ditemukan tim peneliti adalah Leanne Li, kepala Laboratorium Neurosains Kanker di Francis Crick Institute di Inggris yang meraih gelar kedokteran dari Universitas Nasional Taiwan.

Menurut Chen, tim yang dipimpin Li mulai bekerja sama dengan NTUH dan peneliti internasional lainnya beberapa tahun lalu untuk meneliti apakah saraf di sekitar tumor paru-paru dapat memengaruhi perkembangan kanker.

Menjelaskan temuan studi tersebut, Li mengatakan saraf sensorik nosiseptif biasanya mendeteksi sinyal bahaya di lingkungan dan membantu mengoordinasikan respons imun yang sesuai.

Sebagai contoh, orang mungkin secara naluriah menahan napas ketika mencium sesuatu yang tidak biasa atau batuk saat terpapar asap, katanya.

"Pertanyaan kami adalah, jika rangsangan lingkungan ini dianggap sebagai sinyal bahaya, apakah tumor yang tumbuh di paru-paru juga dapat dilihat oleh saraf ini sebagai semacam sinyal bahaya," kata Li.

Studi tersebut menemukan bahwa seiring perkembangan adenokarsinoma paru-paru, saraf sensorik nosiseptif di sekitar tumor menjadi lebih aktif dan melepaskan calcitonin gene-related peptide (CGRP).

CGRP sering dikaitkan dengan sakit kepala migrain, karena ketika CGRP dilepaskan, ia menyebabkan peradangan di otak dan rasa sakit kepala, menurut situs web Migraine Australia.

Li mengatakan bahwa dalam studi timnya, pelepasan CGRP ditemukan mencegah pembentukan struktur limfoid tersier (TLS) di dekat tumor.

Struktur tersebut adalah tempat berkumpulnya sel imun yang membantu tubuh mengatur serangan terhadap sel kanker dan dikaitkan dengan hasil yang lebih baik pada pasien adenokarsinoma paru-paru.

Arah pengobatan yang mungkin

Pada model tikus, pemblokiran sinyal saraf terkait CGRP memulihkan pembentukan TLS, memperkuat imunitas anti-tumor, dan memperlambat pertumbuhan tumor, menurut studi tersebut.

Tim juga menemukan bahwa ekstrak asap rokok mengaktifkan jalur yang sama, menunjukkan bahwa merokok dapat memicu kanker paru-paru tidak hanya dengan menyebabkan mutasi gen, tetapi juga dengan menstimulasi berlebihan saraf perasa nyeri dan dengan demikian melemahkan respons imun di sekitar tumor.

Pada tikus yang terpapar asap, pemblokiran CGRP dengan obat yang menargetkan jalur yang sama seperti beberapa pengobatan migrain membuat tumor lebih responsif terhadap imunoterapi dan memperpanjang kelangsungan hidup, kata studi tersebut.

Li mengatakan salah satu kontribusi utama NTUH dalam studi ini adalah menyediakan sampel adenokarsinoma paru-paru dari pasien, memungkinkan tim untuk memverifikasi bahwa kadar CGRP lebih tinggi pada tumor paru-paru manusia dan meneliti apakah CGRP memengaruhi sel imun di lingkungan mikro tumor.

Ia menambahkan bahwa uji klinis untuk menguji pengobatan berdasarkan mekanisme baru yang diidentifikasi ini belum dimulai, tetapi tim kini sedang berdiskusi dengan rumah sakit di Inggris tentang kemungkinan studi di masa depan dan berharap dapat melakukan kolaborasi serupa dengan NTUH.

Studi tersebut, berjudul "Nociceptive innervation limits tertiary lymphoid structures to promote lung cancer," dipublikasikan secara daring di jurnal ilmiah terkemuka Cell pada pertengahan Mei dan melibatkan peneliti dari Francis Crick Institute, NTUH, Harvard Medical School, dan Columbia University.

(Oleh Sunny Lai dan Miralux) 

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.