Taiwan kritik Tiongkok karena 'glorifikasi kekerasan' setelah serangan terhadap komentator

09/07/2026 13:51(Diperbaharui 09/07/2026 13:51)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Komentator politik yang berbasis di Taiwan, Akio Yaita. Foto arsip CNA
Komentator politik yang berbasis di Taiwan, Akio Yaita. Foto arsip CNA

Taipei, 9 Juli (CNA) Dewan Urusan Daratan Taiwan (MAC) pada hari Rabu (9/7) mengkritik Tiongkok karena "glorifikasi kekerasan" setelah Beijing menggambarkan penyerangan terhadap komentator politik yang berbasis di Taiwan, Akio Yaita, sebagai tindakan yang didorong oleh "kemarahan yang benar."

Yaita, CEO Indo-Pacific Strategic Thinktank, dipukul di wajah pada hari Senin di Taichung oleh seorang warga Hong Kong bermarga Liu (廖), dalam kasus yang menurut otoritas Taiwan diduga melibatkan "represi transnasional" dan undang-undang persatuan etnis baru Tiongkok.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu, MAC, lembaga pemerintah tertinggi Taiwan yang menangani urusan lintas selat, mengatakan bahwa Beijing gagal mengutuk penyerangan tersebut dan malah "menglorifikasi kekerasan" dengan menggambarkannya sebagai tindakan yang didorong oleh "kemarahan yang benar".

"Apa yang dikatakan Partai Komunis Tiongkok hari ini adalah kebohongan terang-terangan atau upaya untuk memperlakukan rakyat Taiwan seperti orang bodoh," kata MAC.

Lembaga tersebut merujuk pada pernyataan yang dibuat sebelumnya pada hari itu oleh Chen Binhua (陳斌華), juru bicara Kantor Urusan Taiwan Tiongkok (TAO), yang mengatakan bahwa Liu bertindak karena "kemarahan yang benar" dan bahwa insiden tersebut adalah kasus keamanan publik "biasa" yang terjadi secara kebetulan.

Chen menuduh pemerintah Partai Progresif Demokratik (DPP) menggunakan insiden tersebut untuk "manipulasi politik" dan mendistorsi Undang-Undang Promosi Persatuan dan Kemajuan Etnis yang baru diterapkan untuk "memicu konfrontasi lintas selat" serta "menyesatkan dan mengintimidasi" masyarakat di Taiwan.

Dengan Liu yang kini ditahan oleh otoritas Taiwan setelah penangkapannya, Chen juga memperingatkan otoritas DPP bahwa "hak dan kepentingan sah" Liu tidak boleh dirugikan, dan keselamatan pribadi serta harta bendanya harus dilindungi.

Dalam pernyataannya, MAC mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali insiden sosial besar di Taiwan menarik perhatian publik, TAO dengan cepat membela pihak atau tersangka yang terlibat, sambil menuduh Taiwan melakukan "persekusi politik" atau "penindasan politik".

Juru bicara Kantor Urusan Taiwan, Chen Binhua, berbicara pada konferensi pers di Beijing pada hari Rabu. Foto CNA 8 Juli 2026
Juru bicara Kantor Urusan Taiwan, Chen Binhua, berbicara pada konferensi pers di Beijing pada hari Rabu. Foto CNA 8 Juli 2026

120 kasus represi transnasional

Sementara itu, Perdana Menteri Cho Jung-tai (卓榮泰) mengatakan kepada Senator AS Tammy Duckworth yang berkunjung pada hari Rabu bahwa Tiongkok telah berupaya melakukan represi transnasional terhadap pegawai negeri sipil Taiwan, aparat kehakiman, anggota keluarga yang tidak bersalah, dan warga negara asing di Taiwan, dengan 134 orang dalam 120 kasus telah menerima ancaman sejauh ini.

Dalam pertemuan dengan senator dari Partai Demokrat tersebut, Cho juga membahas serangan terhadap Yaita, dengan mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan segala upaya untuk melindungi masyarakat dan warga negara asing di Taiwan, terlepas dari apakah pelaku bertindak sendiri atau sebagai bagian dari upaya terorganisir, atau apa motif dan metodenya.

Ia mengatakan bahwa sebagai tanggapan atas undang-undang persatuan etnis baru Tiongkok, Yuan Eksekutif telah membentuk platform koordinasi antar-lembaga dan berharap dapat terus bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk melawan tekanan lintas batas dan tindakan zona abu-abu Tiongkok.

Setelah Yaita diserang di sebuah hotel di Taichung sekitar tengah hari pada hari Senin, polisi kemudian pada sore harinya menangkap Liu di Bandara Internasional Taichung saat ia diduga sedang bersiap untuk naik pesawat ke Busan, Korea Selatan.

Masih belum jelas apakah serangan tersebut terkait dengan undang-undang persatuan etnis baru Tiongkok, yang terutama ditujukan untuk "membangun rasa kebersamaan yang kuat bagi bangsa Tionghoa," mengingat Yaita secara etnis adalah orang Jepang, meskipun ia sering memberikan komentar kritis terhadap Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir sebagai komentator politik.

Pengadilan distrik di Taichung pada hari Selasa menyetujui permintaan jaksa untuk menahan Liu seiring penyelidikan yang masih berlangsung.

(Oleh Li Ya-wen, Lai Yu-chen, C.C. Li, dan Muhammad Irfan)

>Versi Bahasa Inggris

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.