Taipei, 7 Okt. (CNA) Para advokat buruh hari Rabu (7/10) menyerukan reformasi untuk mempermudah pembentukan serikat pekerja di Taiwan, dengan alasan bahwa perundingan bersama yang lebih kuat diperlukan untuk mengatasi masalah upah rendah yang terus-menerus dialami pekerja muda, di luar kenaikan upah minimum tahunan.
Berbicara dalam konferensi pers di Taipei dalam rangka memperingati Hari Kerja Layak Sedunia, Direktur Eksekutif Taiwan Labour and Social Policy Research Association, Chang Feng-yi (張烽益), mengatakan tingkat serikat pekerja di antara pegawai di Taiwan telah lama berada di bawah 10 persen, dengan mengutip hambatan struktural termasuk ambang batas 30 orang untuk membentuk serikat pekerja.
"Ambang batas bagi pekerja untuk bergabung dengan serikat pekerja sangat tinggi, dan risiko yang mereka hadapi juga tinggi," kata Chang.
Chang mengusulkan sistem yang lebih pluralistik di mana serikat yang mendapatkan dukungan mayoritas dari pekerja dapat memperoleh hak perundingan bersama.
Sekretaris Jenderal Taiwan Labour Front, Yang Shu-wei (楊書瑋), mengatakan kepada CNA bahwa salah satu perubahan yang diusulkan adalah mengizinkan serikat industri dan profesional dari luar untuk masuk ke tempat kerja guna merekrut anggota, sebuah praktik yang menurutnya diizinkan di beberapa negara lain tetapi tidak di Taiwan.
Ia juga mengatakan bahwa meskipun gaji awal untuk pekerja muda secara bertahap meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar peningkatan tersebut dihasilkan dari kenaikan upah minimum.
Upah minimum bulanan di Taiwan saat ini sebesar NT$29.500 (Rp16,5 juta) dan akan naik menjadi NT$30.900 mulai 1 Januari 2027. Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) umumnya mendefinisikan pekerja muda sebagai mereka yang berusia 15-29 tahun dalam statistik ketenagakerjaannya.
"Perusahaan membutuhkan mekanisme untuk kenaikan gaji yang sistematis. Hal ini tidak dapat diatasi hanya melalui kenaikan upah minimum," kata Yang, sambil menunjuk pada transparansi upah yang lebih besar sebagai salah satu cara untuk mendukung kenaikan gaji secara berkala.
Data MOL yang dikutip dalam acara tersebut menunjukkan bahwa 17,2 persen karyawan pertama kali pada tahun 2025 memulai dengan upah minimum bulanan saat itu sebesar NT$28.590, sementara median gaji bulanan di antara semua pekerja baru adalah NT$36.000.
Yang mengatakan serikat juga dapat membantu pekerja bernegosiasi untuk kenaikan gaji. Namun, ia mencatat bahwa Taiwan menghadapi masalah yang lebih mendasar dibandingkan beberapa negara, di mana serikat sudah ada tetapi pekerja muda mungkin enggan untuk bergabung.
Lin Yueh-chin (林月琴), legislator Partai Progresif Demokratik yang berkuasa, juga mendesak MOL untuk menaikkan batas nilai upah di mana di bawahnya, pemberi kerja diwajibkan mengungkapkan kisaran gaji dalam lowongan pekerjaan.
Ambang batas ini, yang saat ini adalah NT$40.000, harus meningkat seiring dengan kenaikan upah minimum, menurut Lin.
Tanggapan MOL
Dalam pernyataan yang dikeluarkan kemudian pada Rabu, MOL mengatakan Undang-Undang Serikat Pekerja menjamin hak pekerja untuk membentuk dan bergabung dengan serikat, serta menambahkan bahwa pekerja di perusahaan dengan kurang dari 30 pegawai dapat bergabung dengan pekerja lain untuk membentuk atau bergabung dengan serikat industri atau profesional yang sudah ada.
MOL menambahkan pihaknya akan meninjau aturan serikat pekerja yang relevan setelah Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Taiwan-AS (ART) menyelesaikan prosedur persetujuan yang diperlukan, termasuk mengumpulkan pandangan dari para pemangku kepentingan dan berkonsultasi dengan kelompok pekerja dan pengusaha.
Menurut kementerian, perjanjian tersebut mencakup ketentuan tentang penguatan hak-hak buruh dan aturan terkait ambang batas pembentukan serikat pekerja.
Terkait ambang batas upah di mana di bawahnya pemberi kerja harus mengungkapkan informasi gaji dalam lowongan pekerjaan, MOL mengatakan sedang mempelajari amandemen untuk menaikkannya dari yang saat ini NT$40.000, dengan nilai baru yang mungkin ditetapkan pada "kelipatan tertentu dari upah minimum."
Selesai/