Taipei, 10 Okt. (CNA) Sebuah survei menunjukkan 35 persen murid sekolah menengah pertama (SMP) dan atas (SMA) di Taiwan mengalami kecemasan terhadap penampilan mereka, termasuk hampir setengah dari siswi perempuan, kata Child Welfare League Foundation (CWLF).
Dari 10.345 murid SMP dan SMA yang disurvei awal tahun ini, 35,4 persen setuju dengan pernyataan bahwa mereka "memiliki kecemasan terhadap penampilan," kata yayasan tersebut pada 1 Oktober.
Namun, hasilnya sangat berbeda berdasarkan jenis kelamin, dengan 48,7 persen siswi mengatakan mereka mengalami kecemasan terhadap penampilan, dibandingkan hanya 20,6 persen siswa.
Menurut yayasan, 23,5 persen responden survei mengatakan mereka mengenakan masker wajah lebih dari setengah hari setiap hari karena alasan terkait penampilan, sementara hampir 40 persen mengenakan masker saat pelajaran olahraga atau berolahraga.
Sebagai respons terhadap perasaan ini, hampir 20 persen pelajar mengatakan mereka pernah mempertimbangkan untuk menjalani prosedur kosmetik, sementara hampir 10 persen mengatakan mereka tertarik pada suntikan GLP-1, yang dapat mengurangi nafsu makan.
CWLF menjelaskan bahwa kecemasan terhadap penampilan bukan sekadar masalah "berpikir berlebihan," tetapi sering kali berakar pada perasaan kesepian dan persepsi diri yang negatif.
Komentar dari keluarga dapat memperburuk perasaan ini, dengan 42,8 persen pelajar mengatakan mereka pernah dikritik orang tua mereka terkait penampilan, bentuk tubuh, atau pakaian mereka.
Selain itu, dari pelajar yang menggambarkan diri mereka memiliki "kecemasan penampilan yang parah," 10,8 persen mengatakan orang tua mereka secara teratur mengkritik penampilan mereka, sementara hanya 3,3 persen yang mengatakan orang tua mereka jarang melakukannya, menurut survei tersebut.
Terkait hubungan dengan kesehatan psikologis, survei menemukan bahwa 90,4 persen pelajar dengan kecemasan penampilan "rendah" tidak pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri, sementara 29,6 persen dari mereka yang mengaku memiliki kecemasan penampilan "tinggi" pernah memiliki pikiran seperti itu.
Teng Shan-ting (鄧善庭), seorang psikolog konseling, mengatakan dalam konferensi pers bahwa kecemasan terhadap penampilan melampaui keinginan manusia normal untuk tampil menarik, dan sering kali terkait dengan perasaan "saya tidak cukup baik" atau "tidak ada yang menyukai saya."
Pelajar yang mengenakan masker wajah dalam waktu lama sering melakukannya untuk mendapatkan rasa "keamanan psikologis." Orang tua sebaiknya mendekati perilaku ini dengan mencoba memahami kebutuhan emosional anak mereka, daripada hanya berfokus pada penggunaan masker itu sendiri, kata Teng.
Selesai/JC