Taipei, 17 Sep. (CNA) Taiwan akan memperpanjang cuti menikah berbayar bagi pekerja dari delapan menjadi 14 hari mulai 1 Oktober, termasuk bagi pekerja asing yang dicakup Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan, kata Kementerian Ketenagakerjaan (MOL) pada Kamis (17/9).
Perubahan ini diajukan pada Kamis melalui amandemen Peraturan Pengambilan Cuti Pekerja, yang akan menjalani masa pemberitahuan publik selama tujuh hari, kata Huang Chi-ya (黃琦雅), kepala Departemen Standar Ketenagakerjaan dan Kesetaraan Kerja MOL, dalam konferensi pers di Taipei.
"Untuk hari tambahan, dari hari kesembilan hingga hari ke-14, pemberi kerja masih diwajibkan membayar upah oleh undang-undang," kata Huang. "Namun, setelah melakukan pembayaran, mereka dapat mengajukan subsidi kepada pemerintah."
Aturan baru ini diperkirakan mulai berlaku pada 1 Oktober setelah masa pemberitahuan publik, dengan rincian subsidi upah akan diumumkan pada waktu yang sama, katanya.
Huang mengatakan perluasan cuti ini akan berlaku sama bagi warga negara Taiwan maupun asing selama mereka tercakup dalam Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan.
Itu berarti warga negara asing yang bekerja di Taiwan, termasuk pekerja kerah putih dan pekerja migran formal yang dicakup undang-undang tersebut, juga berhak atas 14 hari cuti menikah berbayar.
Penata laksana rumah tangga dan perawat domestik migran tidak memenuhi syarat karena mereka tidak dicakup Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan.
Ketika ditanya setelah konferensi pers mengapa pekerja asing dimasukkan dalam kebijakan yang diperkenalkan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi tingkat kelahiran rendah di Taiwan ini, Huang mengatakan MOL juga harus mempertimbangkan "prinsip-prinsip hak asasi manusia dasar."
"Meskipun tujuan kebijakan kami adalah untuk mengatasi tingkat kelahiran yang rendah, kami tidak akan menciptakan perbedaan diskriminatif dalam undang-undang ketenagakerjaan antara pekerja lokal dan asing karena hal itu," kata Huang.
Langkah ini merupakan bagian dari kebijakan dukungan keluarga yang lebih luas dari pemerintah yang diumumkan pada Mei, yang juga mencakup rencana untuk memperpanjang cuti melahirkan dan cuti ayah.
Data dari Kementerian Dalam Negeri menunjukkan bahwa angka fertilitas total Taiwan, rata-rata jumlah anak yang diperkirakan akan dimiliki seorang wanita selama hidupnya, turun menjadi 0,695 pada tahun 2025, salah satu yang terendah di dunia.
Jumlah kelahiran juga turun selama sepuluh tahun berturut-turut menjadi rekor terendah 107.812.
Menurut MOL, pekerja dapat mengambil cuti menikah berbayar dalam sepuluh hari sebelum mereka mendaftarkan pernikahan mereka jika mereka memberikan "dokumen pendukung yang relevan," seperti undangan pernikahan.
Seluruh 14 hari cuti harus diambil dalam waktu dua bulan dan 20 hari setelah mendaftarkan pernikahan, meskipun ini dapat diperpanjang hingga satu tahun atas kebijakan pemberi kerja.
Pekerja yang mendaftarkan pernikahan mereka sebelum 1 Oktober juga dapat memenuhi syarat untuk cuti yang diperluas jika periode cuti yang memenuhi syarat melampaui tanggal tersebut dan mereka belum menggunakan seluruh delapan hari hak cuti yang ada, kata Huang.
Selesai/