Taipei, 11 Agu. Pekerja migran Indonesia (PMI) perempuan mendominasi program acara Salimah Mendengar, sebuah acara konsultasi untuk warga negara Indonesia (WNI) perempuan di Taiwan yang memiliki masalah seputar kesehatan mental, wirausaha, kesehatan tubuh, keuangan dan hukum, ujar Sopikah ketua bidang program Salimah Mendengar kepada CNA.
Ketua Salimah (Persaudaraan Muslimah) Perwakilan Salimah Luar Negeri (PSLN) Taiwan, Dewi Nuraini Setyowati saat diwawancarai CNA belum lama ini dalam acara talkshow kesehatan mental yang diadakan di Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taipei mengatakan bahwa kegiatan Salimah Mendengar adalah acara reguler organisasinya.
“Kami memberikan kesempatan bagi semuanya yang punya permasalahan untuk difasilitasi dalam program tersebut. Hasilnya banyak yang tertarik, maka dari hasil rapat kami mengadakan kegiatan tentang talk show kesehatan mental," ujar Dewi
Baca berita sebelumnya https://indonesia.focustaiwan.tw/society/202607285005
Sopikah mengatakan program Salimah mendengar dimulai tahun 2023. Mulanya hanya diperuntukkan bagi para anggota dan pengurus Salimah saja. Namun selang beberapa waktu, banyak rekan-rekan dari pekerja migran Indonesia (PMI) yang mendengar program tersebut akhirnya meminta untuk ikut.
“Kami tidak bisa menolak ya, banyak rekan-rekan PMI yang ingin ikut sesi curhat atau konsultasi meskipun mereka bukan anggota dan pengurus Salimah. Jadilah program ini juga dibuka untuk umum, tetapi hanya khusus untuk perempuan saja,” ujar Sopikah yang kini telah bekerja di Taiwan selama 15 tahun ini.
Menurut Sopikah, bagi WNI yang ingin mengikuti program tersebut bisa mendaftar ke nomor WhatsApp +886 970-913-847. Setelah mendaftar, pengurus Salimah akan menentukan tema curhat yang disampaikan pendengar untuk mencarikan fasilitator yang sesuai dengan permasalahan mereka.
Sopikah menyebut, program ini difasilitasi oleh para dokter, psikiater, psikolog dan ahli hukum yang sedang bersekolah S3 di Taiwan maupun para ahli dari Indonesia, yaitu dari Universitas Airlangga dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya menerima sesi berbagi tentang kesehatan mental saja, melainkan juga menerima konsultasi mengenai masalah keuangan, hukum, wirausaha dan keagamaan. Ini merupakan konseling tertutup yang aman.
"Setiap hari kami membuka pendaftaran tidak ada libur, gratis tidak berbayar. Semua WNI boleh daftar,” sambung Sopikah.
Sopikah mengatakan banyak pekerja migran perempuan yang mendaftar. Dalam satu minggu sekitar 8-10 orang yang dilayani.
Sementara itu, salah seorang PMI perempuan yang ditemui CNA pada kegiatan talkshow kesehatan mental mengatakan, ia mengetahui adanya program Salimah Mendengar dari temannya, sesama PMI.
“Saya waktu itu ada banyak beban masalah keluarga dan pekerjaan di Taiwan. Stres banget pokoknya. Saya tidak tahu harus curhat kemana, akhirnya saya bisa berkonsultasi dengan Salimah. Alhamdulilah saya bisa menghadapi masalah saya dengan baik,” ujar PMI yang tidak mau disebutkan namanya ini.
Sementara itu seorang peserta yang berkuliah di Hsincu menyebut acara ini sangat membantu dirinya di Taiwan. Menurutnya, di awal ia merasa kurang bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya belajar di Taiwan. Ia sebelumnya pernah berkonsultasi dengan jasa konsultasi dari universitas tempatnya belajar, tetapi kurang sesuai karena perbedaan bahasa.
"Jadi kurang leluasa berkomunikasi. Setelah bergabung dengan konsultasi Salimah Mendengar, saya merasa sreg dan nyaman, akhirnya saya berkonsultasi selama 2 kali di sini. Saya merasa lebih baik," ujar pelajar yang baru setahun di Taiwan ini.