Taipei, 30 Juni (CNA) Infeksi HIV telah menurun secara stabil di antara warga Taiwan, namun tidak di antara warga negara asing di Taiwan, kata Direktur Jenderal CDC Lo Yi-chun (羅一鈞) hari Senin (29/6), dan ia berharap perubahan kebijakan akan memperbaiki tren tersebut bagi penduduk asing.
Lo berbicara pada peluncuran kampanye kesadaran publik keliling menjelang Hari U=U Taiwan pada 2 Juli. U=U, atau "Undetectable = Untransmittable" (Tidak Terdeteksi = Tidak Menular), mengacu pada konsensus ilmiah bahwa orang dengan HIV yang mempertahankan jumlah virus yang tidak terdeteksi tidak dapat menularkan virus secara seksual.
Menurut data CDC, kasus baru di antara warga Taiwan telah turun dari lebih dari 2.000 per tahun pada 2012 hingga 2017 menjadi 1.069 pada 2022 dan sekitar 850 pada 2025. Namun, Lo mengatakan kasus di antara warga negara asing tetap stabil, rata-rata 106 per tahun selama lima tahun terakhir.
Di bawah program yang ada di Taiwan bagi mereka yang didiagnosis HIV, CDC menanggung biaya pengobatan pasien HIV selama dua tahun pertama, setelah itu biaya ditanggung oleh sistem asuransi kesehatan nasional (NHI).
Saat ini, dukungan selama dua tahun pertama untuk menutupi biaya terapi antiretroviral sebesar NT$12.000 (Rp6,7 juta) hingga NT$18.000 per bulan hanya diberikan kepada tiga kategori warga negara asing yang merupakan penduduk legal.
Mereka adalah pasangan asing dari warga negara Taiwan, orang yang tercakup dalam program khusus untuk migran Tailan-Myanmar dan warga Tibet yang terdampar di Taiwan, serta mereka yang terinfeksi saat menjalani perawatan medis di Taiwan.
Pada bulan Mei, kata Lo, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan menyetujui usulan untuk memperluas cakupan kepada penduduk tetap asing dan anak-anak asing yang tinggal secara legal di bawah usia 18 tahun, yang akan memperluas kelayakan bagi sekitar dua hingga sebelas orang lagi setiap tahun.
Aturan kelayakan baru, yang dapat berlaku pada akhir tahun ini, akan menelan biaya tambahan bagi pemerintah sebesar NT$1 juta hingga NT$5,5 juta, yang dapat ditanggung dalam anggaran yang ada, kata Lo.
Menyebutnya sebagai "langkah kecil menuju kesetaraan" bagi orang dengan HIV, Lo mengatakan membawa lebih banyak warga negara asing ke dalam sistem pengobatan akan membantu mengurangi infeksi baru melalui U=U.
Ketua Perhimpunan AIDS Taiwan Lu Po-liang (盧柏樑) mengatakan studi klinis berskala besar secara konsisten menunjukkan bahwa orang dengan HIV yang mempertahankan viral load tidak terdeteksi melalui terapi antiretroviral memiliki risiko nol menularkan virus secara seksual.
Sekitar 8 persen orang dengan HIV di Taiwan belum diuji atau diobati, kata Lu, dan ia mendesak mereka untuk melakukan tes dan pengobatan, dengan catatan bahwa terapi modern hanya memerlukan satu pil sehari dengan efek samping yang lebih sedikit, memungkinkan mereka menjalani kehidupan normal.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Advokasi Hak ODHA Lin Yi-hui (林宜慧) mengatakan kesadaran publik tentang U=U masih terkonsentrasi di Taipei.
Kampanye tahun ini, kata Lin, akan berkeliling ke enam kota khusus di Taiwan untuk menyebarkan pesan lebih luas dan membantu mengurangi stigma HIV.
Selesai/ja