Taipei, 26 Juni (CNA) Presiden Lai Ching-te (賴清德) hari Kamis (25/6) mengatakan bahwa Tiongkok, dan bukannya Taiwan, yang merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan Indo-Pasifik, serta menegaskan kembali memperkuat kemampuan pertahanan diri Taiwan bukanlah provokasi melainkan langkah yang diperlukan untuk melindungi demokrasi.
Berbicara di pertemuan kedelapan Komite Ketahanan Pertahanan Masyarakat Semesta, Lai mengatakan Beijing dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan aktivitas di zona abu-abu, pemaksaan, dan infiltrasi yang menargetkan negara-negara tetangga, termasuk Jepang, Taiwan, dan Filipina, sehingga memicu kekhawatiran di seluruh Indo-Pasifik dan secara internasional.
"Dari ekspansi otoriter Tiongkok, jelas bahwa Tiongkoklah yang mengubah status quo di Selat Taiwan dan merusak perdamaian serta stabilitas di Indo-Pasifik," kata Lai. "Upaya Taiwan untuk memperkuat kemampuan pertahanan diri, menjaga status quo yang damai, dan melindungi cara hidup demokratis kita sama sekali bukan tindakan provokatif."
Ia mengatakan operasi maritim terbaru Beijing di Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan, dan sekitar Selat Taiwan, yang dilakukan dengan dalih penegakan hukum, patroli, atau survei, tidak lagi sekadar aktivitas teknis melainkan upaya untuk memperluas pengaruhnya sambil merusak perdamaian regional dan tatanan internasional berbasis aturan.
Lai juga mengutip konferensi tingkat tinggi para pemimpin Grup Tujuh (G7) pekan lalu, dengan mengatakan pernyataan bersama mereka menegaskan kembali pentingnya Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum serta menentang segala upaya sepihak untuk mengubah status quo di Laut Cina Timur, Laut Cina Selatan, atau Selat Taiwan dengan kekuatan atau paksaan.
Taiwan akan menjawab seruan G7 dengan menjunjung tinggi prinsip pertahanan kolektif dan pembagian tanggungan, kata Lai, seraya menambahkan bahwa Taiwan akan terus bekerja sama erat dengan negara-negara yang sejalan untuk memperkuat daya tangkal dan bersama-sama menjaga perdamaian serta stabilitas di Indo-Pasifik.
Lai mengucapkan terima kasih kepada anggota angkatan bersenjata dan Direktorat Jenderal Penjaga Pantai atas respons mereka terhadap aktivitas Tiongkok di garis depan, dan menekankan bahwa menjaga kedaulatan dan keamanan nasional adalah tanggung jawab seluruh masyarakat, bukan hanya militer.
Ia menegaskan pentingnya kemampuan untuk melanjutkan operasi pemerintahan dan fungsi sosial secara normal selama krisis.
"Kesiapsiagaan membawa keamanan yang lebih besar," kata Lai, seraya menambahkan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan ketahanan pertahanan Taiwan melalui kerja sama, latihan, dan peninjauan antarlembaga dan lintas sektor untuk memperkuat kemampuan negara dalam merespons ancaman hibrida.
Selesai/