Taipei, 25 Jun. (CNA) Rektor National Taiwan University (NTU) Chen Wen-chang (陳文章) memaparkan aksi-aksi keberlanjutan mereka di sebuah kongres internasional di Indonesia, yang mengumumkan universitas tersebut menempati peringkat kesepuluh dunia dalam Peringkat Dampak Keberlanjutan Times Higher Education (THE) 2026.
THE, majalah pendidikan tinggi dari Inggris, Rabu (24/6) mengumumkan peringkat tersebut dalam Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 di Indonesia Convention Exhibition. NTU mencatatkan rekor peringkat terbaiknya, yakni urutan kesepuluh global, naik empat dari posisi ke-14 tahun lalu.
Dalam pertemuan itu, Chen menerima sertifikat penghargaan dan menyampaikan pidato utama, di mana ia memperkenalkan berbagai pencapaian NTU dalam tata kelola berkelanjutan, inovasi akademik, dan kontribusi sosial selama beberapa tahun terakhir, menurut rilis pers universitas tersebut.
Seiring dengan semakin mudahnya memperoleh pengetahuan di era kecerdasan buatan, kata Chen, nilai yang tidak tergantikan dari manusia terletak pada empati, kreativitas, tanggung jawab sosial, dan semangat altruistis. Ia pun membagikan "empat dimensi inti keberlanjutan" serta "tiga aksi utama" yang diterapkan NTU.
Aksi pertama, kata Chen, adalah "berinovasi", di mana NTU "secara aktif" mengubah kekuatan akademiknya menjadi solusi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Contohnya, ujarnya, adalah terapi gen dekarboksilase asam amino aromatik L yang dikembangkan tim NTU selama 15 tahun, serta bagaimana pihak kampus mendirikan berbagai platform lintas disiplin tingkat pendidikan tinggi dan mendorong pembentukan pusat kerja sama internasional tiga universitas.
Aksi berikutnya adalah "menginspirasi", di mana NTU menjadikan keberlanjutan bagian dari kehidupan sehari-hari kampus, kata Chen.
Di antaranya, kata Chen, NTU berkomitmen untuk membangun kampus hijau dan cerdas melalui reformasi organisasi, dengan rektor menjabat sebagai ketua "komite penggerak pembangunan berkelanjutan" yang menetapkan berbagai target.
Selain menerapkan "meteran listrik pintar" dan memperluas penggunaan energi hijau di seluruh kampus, kata Chen, NTU juga membuka lebih dari 4.000 mata kuliah terkait keberlanjutan setiap tahun.
Melalui inisiatif yang menjadikan fasilitas universitas sebagai laboratorium terbuka, seperti inventarisasi penyerapan karbon pohon kampus dan program kampus ramah menstruasi, tambahnya, keberlanjutan dijadikan bagian dari aktivitas sehari-hari mahasiswa dan staf.
Aksi terakhir yang dijabarkan Chen adalah "integrasi", di mana NTU mengupayakan kemajuan bersama masyarakat dengan melampaui batas kampus, termasuk melalui pengabdian masyarakat hingga kerja sama dalam berbagai bentuk dengan universitas lainnya, yayasan, perusahaan, dan lembaga swadaya masyarakat.
Menutup pidatonya, Chen menegaskan bahwa sebagai "universitas terkemuka di Taiwan", NTU memikul tanggung jawab sosial yang besar, dengan tidak boleh hanya berfokus pada kemajuannya sendiri, tetapi juga harus mendorong kemajuan industri dan masyarakat secara bersama-sama.
Menjelang perayaan 100 tahun berdirinya NTU, tambah Chen, universitas tengah menjalankan sebuah inisiatif dengan target membangun dana keberlanjutan senilai NT$100 miliar (Rp56,4 triliun) untuk mendukung pembangunan infrastruktur kampus cerdas, pengembangan talenta unggul, serta penelitian masa depan.
Dalam rilis pers, NTU menyebut bahwa pencapaian masuk 10 besar dunia di Peringkat Dampak Keberlanjutan serta pengakuan khusus dari THE merupakan hasil kerja keras seluruh dosen, staf, dan mahasiswa.
NTU mengatakan pihaknya akan terus memperkuat penelitian akademik, tata kelola universitas, keterhubungan sosial, dan praktik pendidikan, guna memperluas dampak nyata pengetahuan dan riset bagi masyarakat, serta bekerja erat bersama mitra internasional untuk berkontribusi pada transformasi keberlanjutan global dengan kekuatan Taiwan.
Peringkat Dampak Keberlanjutan THE 2026 mengukur bagaimana 1.646 universitas dari 116 negara dan wilayah mendorong keberlanjutan sejalan dengan ke-17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, menurut situs webnya.
THE menggunakan "indikator yang dirancang dan dikalibrasi secara cermat" untuk menyediakan "perbandingan yang komprehensif dan seimbang" mengenai kinerja keberlanjutan di empat bidang utama: penelitian, tata kelola, pengabdian dan keterlibatan masyarakat, serta pengajaran, menurut situs tersebut.
Di samping NTU, peraih 100 besar global dari Taiwan juga mencakup National Yang Ming Chiao Tung University (ke-49), Tunghai University (ke-85), dan National Cheng Kung University (ke-100).
Sementara itu, GSDC 2026 mempertemukan lebih dari 5.000 pelaku dunia penelitian, bisnis, pemerintahan, dan pendidikan tinggi dari lebih dari 100 negara untuk mempercepat transformasi berkelanjutan, menurut situs webnya.
Di antara para pembicara juga ada Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Stella Chistie, yang hari Selasa menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan kemajuan teknologi, menurut rilis pers kementerian..
Perguruan tinggi harus terus menjadi ruang untuk mengembangkan kapasitas intelektual, menjaga warisan pengetahuan dan peradaban, dan menumbuhkan budaya ilmiah yang memungkinkan generasi mendatang memahami, menciptakan, dan memanfaatkan pengetahuan bagi kemajuan masyarakat, ujarnya.
Selesai/ja