Taipei, 23 Juni (CNA) Menteri Lingkungan Hidup Peng Chi-ming (彭啓明) mengatakan pada hari Selasa (23/6) bahwa kementerian berencana untuk mengadakan latihan tanggap "anti-panas" tahun ini dengan menyimulasikan suhu 40 derajat Celsius di tengah semakin seringnya kejadian panas ekstrem.
Setelah mengadakan latihan serupa untuk pertama kalinya pada Juli lalu, Kementerian Lingkungan Hidup (MOENV) berencana untuk memperluas latihan tahun ini dengan melibatkan koordinasi lintas kementerian dan memperkuat upaya respons dini terhadap panas ekstrem, kata Peng dalam sebuah unggahan singkat di Facebook.
Menteri tersebut tidak merinci detail atau waktu pelaksanaan latihan, namun mengatakan bahwa meskipun baru akhir Juni, insiden panas ekstrem telah terjadi lebih awal dari biasanya, tidak hanya di Taiwan tetapi juga di seluruh dunia.
Dalam unggahan tersebut, Peng mengutip laporan Reuters yang diterbitkan pada hari Senin yang menyebutkan bahwa setidaknya 18 orang telah meninggal di Prancis akibat gelombang panas, dengan suhu mencapai 41,9 derajat di Bordeaux dan 41,2 derajat di Poitiers. Beberapa kota di Italia telah mengeluarkan peringatan merah, sementara jaringan listrik Turin telah mengerahkan generator tambahan dan personel untuk mengatasi peningkatan permintaan listrik.
Peng menambahkan, isu ini melampaui sekadar mempertimbangkan hari libur karena panas dan justru mencakup berbagai bidang tata kelola dan kebijakan publik, termasuk kesehatan, pendidikan, transportasi, pasokan listrik, dan adaptasi perkotaan.
Stres panas global yang semakin intensif
Secara terpisah pada hari Selasa, Science Media Center (SMC) Taiwan mengutip laporan Nature Climate Change yang menyatakan bahwa stres panas global semakin intensif dan memengaruhi wilayah geografis yang semakin luas, dengan para ahli memperingatkan risiko yang meningkat akibat paparan panas ekstrem yang berkepanjangan.
Chen Cheng-ta (陳正達), seorang profesor di Departemen Ilmu Bumi National Taiwan Normal University (NTNU), mengatakan bahwa risiko kesehatan yang nyata sering kali berasal dari paparan panas kumulatif selama periode 24 jam, di mana suhu malam hari yang tinggi membuat tubuh tidak memiliki waktu pemulihan yang cukup.
Setelah mengalami beban panas tinggi di siang hari, kondisi malam hari yang tetap panas, lembap, dan berangin rendah dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk melepaskan panas serta memengaruhi tidur, regulasi kardiovaskular, dan pemulihan hidrasi, tambahnya.
Chen mengatakan bahwa di lingkungan perkotaan, panas malam hari dan efek pulau panas perkotaan sangatlah krusial. Di Taipei dan New Taipei, topografi cekungan dan pembangunan yang padat semakin sering menyebabkan suhu rata-rata di pusat kota tiga derajat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya.
Ini berarti adaptasi perkotaan seharusnya tidak hanya berfokus pada perlindungan dari panas di siang hari, tetapi juga menangani penahanan panas pada material bangunan di malam hari, koridor ventilasi, panas berlebih di dalam ruangan, dan limbah panas dari sistem pendingin udara, tambahnya.
Selesai/ML