Taipei, 26 Apr. (CNA) Institut Keamanan Siber Nasional Taiwan telah memperingatkan bahwa komunitas daring berbasis hobi sedang menjadi fokus baru bagi penipuan, dan mendesak masyarakat untuk menganggap undangan bergabung ke grup yang diikuti dengan permintaan menambah kontak di aplikasi pesan sebagai risiko tinggi.
Dalam laporan mingguan terbarunya yang dirilis pada hari Kamis (23/4), institut tersebut mengatakan para penipu menargetkan komunitas yang berpusat pada minat bersama seperti agama, olahraga, vegetarianisme, dan kegiatan amal. Mereka sering memulai dengan mengirim pesan pribadi untuk menambah teman, lalu mengundang pengguna ke dalam grup atau meminta mereka mengisi survei.
Institut yang diawasi oleh Kementerian Urusan Digital ini mengatakan survei-survei tersebut tampak seperti mengumpulkan informasi gaya hidup, namun sebenarnya digunakan untuk mengumpulkan detail tentang pekerjaan, pendapatan, situasi keluarga, dan informasi kontak seseorang, sehingga memungkinkan penipu menilai target potensial sebelum mengarahkan percakapan ke topik keuangan.
Disebutkan bahwa pola ini -- dari kontak awal hingga "penipuan akhir" -- telah berulang kali terlihat dalam kasus penipuan investasi dan asmara. Skema semacam ini kini bergeser dari tema cinta atau imbal hasil tinggi ke ruang yang tampaknya aman seperti grup minat dan komunitas amal.
Institut tersebut menyarankan masyarakat untuk menganggap kombinasi "acara atau grup ditambah permintaan menambah kontak LINE atau lainnya" sebagai tanda peringatan. Jika percakapan melibatkan investasi, uang, atau transfer keuangan, masyarakat harus memverifikasi informasi melalui situs resmi atau hotline anti-penipuan pemerintah 165.
Ditambahkan bahwa investasi dalam jumlah besar sebaiknya hanya dilakukan melalui institusi keuangan berlisensi dan platform yang diatur. Setiap tawaran yang menekankan "grup eksklusif," "kesempatan pribadi," atau "jangan beri tahu orang lain" harus dianggap berisiko tinggi.
Bagi administrator komunitas, institut merekomendasikan untuk menetapkan aturan yang jelas, seperti melarang promosi investasi atau transaksi keuangan, serta mendorong anggota untuk melaporkan akun mencurigakan, termasuk melalui saluran anonim.
Institut juga menyarankan agar lembaga pemerintah memperkuat kerja sama dengan kelompok pemeriksa fakta dan operator platform untuk memungkinkan deteksi, peringatan, dan penghapusan konten penipuan secara lebih cepat.
Selesai/IF