Dokter Chiayi pelajari bahasa Indonesia demi layani pekerja migran

06/04/2026 17:59(Diperbaharui 06/04/2026 17:59)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Dokter Hsu Ming-en (kanan). (Sumber Foto : St. Martin De Porres Hospital)
Dokter Hsu Ming-en (kanan). (Sumber Foto : St. Martin De Porres Hospital)

Taipei, 6 Apr. (CNA) Hsu Ming-en (許明恩), seorang dokter di Kota Chiayi, berinisiatif mempelajari bahasa Indonesia dan Vietnam guna memberikan layanan medis yang lebih sesuai dengan kebutuhan pekerja migran, menurut pihak rumah sakit.

Melalui rilis pers St. Martin De Porres Hospital hari Senin (6/4), Hsu yang bertugas di rumah sakit tersebut menyatakan bahwa dalam praktik kedokteran okupasi yang dijalaninya, hubungan antara riwayat pekerjaan dan gejala sangat diperhatikan.

Jika dalam praktik klinis ditemukan pekerja migran yang tidak dapat menjelaskan kondisi kesehatan maupun situasi kerja mereka dalam bahasa Mandarin, hal ini tidak hanya memakan waktu dalam komunikasi, tetapi juga mudah menimbulkan kesenjangan informasi yang dapat memengaruhi penilaian medis, ucapnya.

Hsu menjelaskan bahwa sejak menetapkan tujuan untuk menekuni spesialisasi kedokteran okupasi, ia mengikuti les privat daring untuk mempelajari bahasa Indonesia dan Vietnam.

Ini dijalaninya untuk dapat langsung merespons kebutuhan kesehatan pekerja migran saat konsultasi, sekaligus dengan harapan agar bisa memberikan layanan medis yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, ucapnya.

Menurut pihak rumah sakit, saat Hsu menanyakan dalam bahasa Indonesia atau Vietnam tentang pekerjaan, jam kerja, dan kondisi kepada para pekerja migran yang berobat, mereka yang semula tegang dan cemas menjadi lebih rileks, serta dapat menyampaikan keluhan fisik mereka dengan lebih lengkap.

Pihak rumah sakit juga menyebutkan bahwa pernah ada seorang pekerja migran yang mengalami eksim berat berulang pada kedua tangan dan datang berobat, tetapi pendamping dari perusahaan tidak dapat berkomunikasi secara lengkap.

Namun, melalui pemeriksaan dalam bahasa Vietnam oleh Hsu, diketahui lebih lanjut jenis pekerjaan dan zat yang sering terpapar padanya, sehingga kondisinya dipastikan sebagai penyakit kulit akibat kerja.

Setelah disarankan untuk menyesuaikan jenis pekerjaan, gejala yang telah lama mengganggu tersebut pun membaik, menurut pihak rumah sakit.

Hsu menambahkan bahwa pekerja migran di Taiwan umumnya bekerja di sektor dengan risiko kecelakaan kerja yang lebih tinggi. Seiring dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja asing, upaya pencegahan dan perawatan cedera serta penyakit akibat bekerja menjadi semakin penting, ucapnya.

Ia menyatakan harapannya agar melalui kemampuan bahasa yang dipahami pekerja migran, layanan pencegahan serta diagnosis dan pengobatan penyakit akibat kerja bagi mereka dapat terus dikembangkan.

(Oleh Huang Kuo-fang dan Jason Cahyadi)

Selesai/ja

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.