Taipei, 24 Mei (CNA) Menanggapi visi Presiden Lai Ching-te (賴清德) agar Taiwan dapat melahirkan setidaknya tiga peraih Penghargaan Nobel, Kementerian Pendidikan Taiwan (MOE) tengah menyusun rencana pendirian Taiwan Advanced Academy of Science (TAAS) bersama empat universitas ternama untuk membina talenta riset ilmiah sejak dini.
Lai pada Maret lalu dalam acara National Chair Professorships ke-29 mengatakan pemerintah tidak hanya harus “membangun jembatan bagi talenta”, tetapi juga “membuka jalan bagi dunia akademik” di tengah persaingan global memperebutkan sumber daya manusia unggul.
Ia berharap Taiwan dalam 30 tahun mendatang dapat melahirkan sedikitnya tiga peraih Nobel di bidang fisika, kimia, dan kedokteran melalui penyediaan sumber daya dan lingkungan penelitian yang lebih baik.
Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan angka kelahiran dan perubahan struktur industri membuat banyak pelajar berprestasi lebih memilih bidang industri teknologi tinggi atau kedokteran dibandingkan riset dasar.
Karena itu, MOE menggagas TAAS sebagai model pembinaan talenta riset ilmiah bertaraf internasional yang berbeda dari sistem pendidikan dan jalur seleksi masuk perguruan tinggi saat ini.
Berdasarkan rancangan awal, menurut MOE, TAAS tidak akan memiliki kampus fisik.
Lembaga tersebut akan dibentuk sebagai aliansi antara National Taiwan University, National Tsing Hua University, National Yang Ming Chiao Tung University, National Cheng Kung University, dan Academia Sinica guna mengintegrasikan sumber daya penelitian ke dalam satu platform kolaboratif, ujar MOE.
TAAS direncanakan menggunakan sistem penerimaan bersama berdasarkan bidang keahlian seperti matematika, fisika, kimia, biologi, dan ilmu kebumian.
Seleksi akan dilakukan dalam dua tahap, yakni ujian tertulis kemampuan sains dasar pada tahap pertama, lalu penilaian dokumen, praktik, dan wawancara pada tahap kedua.
Sekretaris Jenderal MOE Lin Po-chiao (林伯樵) mengatakan kepada CNA bahwa seluruh rencana TAAS masih belum diputuskan secara final, termasuk mekanisme dan jadwal penerimaan mahasiswa.
Lin menjelaskan TAAS berbeda dengan program sarjana lintas disiplin yang telah diterapkan sejumlah universitas. Jika program tersebut mendorong eksplorasi lintas bidang, TAAS dirancang bagi siswa yang sejak awal telah memiliki minat dan bakat akademik yang sangat spesifik agar memperoleh jalur belajar lebih fleksibel dan ruang penelitian mandiri yang lebih luas.
Ia menegaskan TAAS tidak akan menerima mahasiswa dalam jumlah besar dan tidak akan mengganggu jalur pendidikan SMA maupun perguruan tinggi yang sudah ada.
Menurut Lin, meskipun lulusan TAAS nantinya tidak berkarier di dunia akademik, pengalaman penelitian ilmiah yang diperoleh selama masa belajar tetap akan bermanfaat ketika memasuki dunia kerja profesional.
(Oleh Chen Chih-chung dan Agoeng Sunarto)