Imam Masjid Taipei: Komunitas Islam Indonesia jadi wajah Islam di Taiwan

29/03/2026 10:32(Diperbaharui 29/03/2026 10:32)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Salat Idulfitri di Masjid Agung Taipei pada 21 Maret. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Salat Idulfitri di Masjid Agung Taipei pada 21 Maret. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Taipei, 29 Mar. (CNA) Salah satu imam dan khatib Masjid Agung Taipei, Abdullah Cheng (鄭平) menyebut komunitas Muslim Indonesia adalah bagian besar dari komunitas Muslim di Taiwan, bahkan wajah dari Islam di Taiwan sendiri, disampaikan dalam wawancara dengan CNA pada awal Maret.

"Muslim Indonesia membawa peran besar di Taiwan dan ia bisa bilang bahwa Muslim Indonesia sebagai wajah dari Islam di Taiwan," kata Cheng dalam wawancara terkait Hari Raya Idulfitri.

Menurut dia, mayoritas, mungkin di atas 90 persen Muslim di Taiwan adalah orang Indonesia. Tidak heran bahkan ketika orang lokal Taiwan melihat Muslim di jalan, mungkin mereka berasumsi kalau itu adalah orang Indonesia. 

Oleh karena itu ia berpendapat bahwa komunitas Muslim Indonesia memainkan peran besar pada masa depan Islam di Taiwan. "Karena di satu sisi ada pernikahan antar-bangsa antara orang Indonesia, yang mayoritas Muslim, dan orang Taiwan. Sehingga generasi selanjutnya juga Muslim," kata dia.

Dan di waktu yang sama, Cheng melanjutkan, ada juga orang Taiwan, yang tertarik belajar tentang Islam, karena mungkin perawat di rumah mereka, yang telah merawat mereka dengan baik, membuat mereka terkesan, dan mau belajar lebih banyak tentang kehidupan perawatnya.

Menurut Cheng, ketertarikan ini, dari yang semula sebatas ke budaya, jadi lebih jauh ke prinsip dan sumber keislaman.

"Jadi ini sesuatu yang cukup umum. Walaupun kita melihat perkembangannya pelan, tetapi saya bisa melihat dampak yang besar dan langsung setelah beberapa dekade. Saya ingin bilang Muslim Indonesia sangat penting saat ini," kata Cheng.

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Di momen Idulfitri yang masih hangat ini, Cheng pun berpesan untuk Muslim di seluruh dunia, terutama yang ada di Taiwan, untuk tidak sungkan berbaur dengan komunitas Islam lokal.  

"Terutama untuk Muslim di Taiwan, banyak dari kami menjalankan Ramadan jauh dari keluarga. Maka mungkin terasa berbeda dibanding merayakan di tanah air. Jadi saya mau bilang, selamat atas Ramadan kita. Selain itu, masjid di seluruh dunia adalah rumah kami. Jadi anggaplah komunitas Muslim ini sebagai keluarga dan meski keluarga kalian tidak di sini, kita bisa merayakannya bersama," kata Cheng.

Sementara itu, imigran baru asal Indonesia, Iman Adipurnama yang merupakan staf pengajar di National Taiwan University of Science and Technology, menyebut bahwa Taiwan memberikan pengalaman yang cukup menantang sekaligus terbuka bagi Muslim pendatang.

Iman mengungkapkan bahwa pada awal kedatangannya, tantangan utama yang dihadapi adalah terkait makanan halal dan pelaksanaan ibadah. Namun, seiring waktu, ia menilai masyarakat Taiwan cukup fleksibel dan memahami kebutuhan umat Muslim dalam beribadah.

Ia juga menambahkan bahwa saat pertama kali datang, isu terkait Islam seperti ISIS masih cukup ramai, sehingga memunculkan rasa penasaran di kalangan masyarakat Taiwan terhadap Muslim. Hal ini justru membuka ruang dialog dan pemahaman yang lebih luas.

Menurut Iman, Taiwan juga tergolong inklusif terhadap Muslim dan orang asing yang menetap di Taiwan, terutama dalam kerangka Kebijakan Baru ke Arah Selatan yang mendorong keterbukaan terhadap masyarakat dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ia menilai berbagai kebijakan di Taiwan cukup mengakomodasi kebutuhan warga asing, mulai dari kemudahan mencari pekerjaan hingga akses terhadap makanan halal, sehingga membuat para pendatang merasa lebih diterima.

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Lebih lanjut, ia menyoroti peran besar komunitas Muslim Indonesia di Taiwan, yang tidak hanya menjadi mayoritas, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial.

"Secara peta besarnya, tentu yang paling besar itu teman-teman Indonesia yang didominasi oleh pekerja migran Indonesia. Sejak awal saya datang ke sini, mereka sudah memiliki kegiatan yang rutin," ujar Iman.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mencakup berbagai aktivitas keagamaan, seperti pengajian, tablig akbar dengan menghadirkan ustaz, hingga acara komunitas yang turut memperkenalkan Islam melalui pendekatan budaya kepada masyarakat Taiwan.

Menurutnya, peran aktif komunitas ini tidak hanya memperkuat solidaritas antarsesama Muslim Indonesia, tetapi juga menjadi sarana dakwah yang lebih inklusif di tengah masyarakat multikultural Taiwan.

Di lingkungan akademik, Iman bersama rekan-rekannya juga berinisiatif membentuk asosiasi Muslim internasional di kampusnya yang kini telah diakui secara resmi oleh pihak universitas.

Selain itu, berbagai inisiatif juga dilakukan untuk mendukung kebutuhan Muslim, seperti pengembangan aplikasi informasi makanan halal yang pernah diajukan dalam berbagai kompetisi, hingga pengelolaan akun media sosial yang membagikan rekomendasi kuliner halal di Taiwan.

Menurut Iman, berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa komunitas Muslim Indonesia tidak hanya berperan sebagai bagian dari masyarakat, tetapi juga sebagai jembatan yang memperkenalkan Islam secara inklusif di Taiwan.

(Oleh Muhammad Irfan dan Jennifer Aurelia)

Selesai/JC

(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
(Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.