WAWANCARA /Penyintas perang di Thailand kini jalani "pertempuran" berbeda demi marwah Taipei

23/02/2026 14:14(Diperbaharui 23/02/2026 14:14)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

Cha Tien-fu, penyintas perang di Thailand yang kini menjadi kepala regu di Tim Kebersihan Distrik Xinyi di Departemen Perlindungan Lingkungan Kota Taipei. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)
Cha Tien-fu, penyintas perang di Thailand yang kini menjadi kepala regu di Tim Kebersihan Distrik Xinyi di Departemen Perlindungan Lingkungan Kota Taipei. (Sumber Foto : Dokumentasi CNA)

Oleh Chen Yu-ting dan Jason Cahyadi, reporter dan penulis staf CNA

Tumbuh di perbatasan Thailand–Myanmar, setelah mengalami kekejaman perang, seorang pria datang dengan tekad bulatnya ke Taiwan. Kini, ia telah bertugas di tim kebersihan Taipei selama 25 tahun, "bertempur" melawan sampah demi menjaga marwah ibu kota. Pengabdian ini ia sebut "pekerjaan suci" dan membuat hidupnya tidak sia-sia.

Di Taiwan, sang penyintas ini dikenal sebagai Cha Tien-fu (查天富). Dengan topi putih dan rompi biru tua, dirinya yang bertugas sebagai kepala regu di Tim Kebersihan Distrik Xinyi Departemen Perlindungan Lingkungan Kota Taipei tersenyum malu-malu dan menceritakan kisah hidupnya dengan suara lembut.

"Saya seharusnya lahir di Myanmar. Saya mengikuti tentara berpindah-pindah tanpa tempat tinggal tetap. Belakangan tempat lahir saya didaftarkan di Thailand. Pada usia 8,5 tahun, saya sudah mulai menjadi tentara," ucapnya.

Sejak kecil, ia hidup bersama pasukan Nasionalis Tiongkok yang tertinggal di perbatasan Thailand–Myanmar setelah Perang Saudara Tiongkok. Meski bergabung dengan militer adalah keputusan yang ia ambil saat masih kecil, kini ketika menoleh ke belakang, ia tidak bisa mengatakan bahwa itu sepenuhnya sukarela.

Saat itu ada aturan di pasukan yang mewajibkan anggota-anggota keluarga masuk militer. Cha berpikir, karena ayahnya sudah bergabung dan dua kakaknya perlu membantu sang ibu merawat adik yang lebih kecil, maka lebih baik ia sendiri yang pergi. Jika terjadi sesuatu, menurutnya, dampaknya bagi keluarga akan paling kecil.

Di usia ketika seharusnya ia masuk sekolah dan berlari dengan bebas, Cha bersama ratusan anak seusianya tinggal di barak untuk menjalani pelatihan.

"Waktu itu kami tidur di ranjang susun tiga tingkat. Banyak yang malam-malam merindukan ayah dan ibu, menangis tersedu-sedu. Kalau yang di atas mengompol, yang di bawah juga kena tetesannya. Hidup sangat berat."

Hari-hari seperti itu ia jalani selama lima tahun, sampai pasukan bernegosiasi dengan pemerintah Thailand: sebagai syarat untuk memperoleh status legal, mereka ikut serta dalam operasi pemberantasan komunis. Pada masa itu, Cha berhadapan langsung dengan kematian dan menyaksikan kekejaman perang.

Ia mengenang bahwa tentara menghabiskan tiga tahun untuk sepenuhnya mengusir pasukan komunis dari perbatasan Thailand. "Dalam situasi seperti itu, tak ada yang bisa dipikirkan. Apa pun perintah atasan, itulah yang dilakukan."

"Siapa pun yang terlihat -- yang tua, yang lemah, perempuan, anak-anak -- akan ditembak, karena bagaimana kamu dapat mengetahui apakah dia mata-mata atau bukan? Saya rasa waktu itu saya membunuh cukup banyak orang yang seharusnya tidak dibunuh," ucapnya.

Saat mengingat masa lalu itu, matanya tak kuasa menahan haru. Beberapa detik kemudian, tisu yang segera ia ambil berhasil menahan air mata yang hampir runtuh -- seperti pada suatu malam bertahun-tahun kemudian, ketika gairahnya terhadap kehidupan kembali menyala dan menghentikannya dari menarik pelatuk.

Setelah perang usai, Cha dengan tekad bulat meninggalkan Thailand dan datang ke Taiwan. Keteguhan yang ditempa oleh darah dan air mata membantunya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan menengah pertama dalam lima tahun.

Dengan status sebagai Tionghoa perantauan, Cha juga diterima di Politeknik Industri Taipei (kini National Taipei University of Technology). Selama lima tahun, ia bekerja sambil belajar. Tidak hanya lulus, Cha juga berhasil membeli rumah dan memiliki anak.

Namun, saat kehidupannya sedang berjalan lancar, seorang teman yang ia jamin pinjamannya gagal membayar utang, dan ia pun ikut ditagih. Dengan nada ringan ia berkata, "Saya terpaksa menjual rumah. Hidup jadi sangat terpuruk, lalu saya mengemudikan taksi."

(Sumber Foto : Departemen Perlindungan Lingkungan Kota Taipei)
(Sumber Foto : Departemen Perlindungan Lingkungan Kota Taipei)

Keputusan Cha untuk kemudian beralih profesi juga datang secara tak terduga. "Suatu sore saya mendengar di radio bahwa Departemen Perlindungan Lingkungan Kota Taipei membuka perekrutan petugas kebersihan. Saya langsung menepi dan menelepon untuk bertanya."

Ia berhasil mendaftar sebelum batas waktu dan lulus seleksi. Sejak Desember tahun 2000, ia bergabung dengan tim kebersihan dan bertahan hingga kini.

Cha mengatakan, jika dulu ia masuk akademi militer di Taiwan, sekarang ia mungkin sudah menjadi perwira menengah dengan tanda pangkat bunga plum di pundaknya.

Namun, ia sama sekali tidak menyesal. Setelah melewati masa muda yang berkali-kali bersentuhan dengan hidup dan mati, kini bisa menjalani hari-hari dengan damai adalah anugerah dari Tuhan. "Saya sudah melewati pahit dan kini merasakan manisnya."

Mengenang 25 tahun kesehariannya, ia menyatakan dengan tegas, "Tim kebersihan adalah pekerjaan yang suci. Bisakah Anda membayangkan Taipei tanpa kami?" Ia juga sering berbagi kepada rekan-rekannya, "Hargai diri sendiri dulu, barulah orang lain akan menghormati Anda."

Dari tanah asing ke negeri rantau, lalu menjadikannya sebagai kampung halaman, Cha menanamkan rasa memiliki di Taiwan. Ia berkata, baginya, manusia seperti burung kecil: ketika tumbuh besar dan terbang keluar dari sarang, di mana pun ia menetap, di situlah rumahnya.

Selesai/IF

How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.