Taipei, 18 Feb. (CNA) Serikat Buruh Industri Manufaktur (SEBIMA) Taiwan memperingati ulang tahun pertamanya di Taoyuan, Selasa (17/2), dengan rapat tahunan sambil mengevaluasi kerja organisasi setahun terakhir dan proyeksi di tahun kedua ini, disampaikan Ketua SEBIMA Ignas kepada CNA, Rabu.
Ignas mengatakan bahwa beberapa isu yang jadi evaluasi dan proyeksi serikatnya ke depan masih berkutat terkait dengan sejumlah isu klasik yang, menurutnya, sayangnya belum memiliki penyelesaian yang pasti.
Isu-isu tersebut di antaranya tingginya pungutan biaya untuk pemberangkatan ke Taiwan yang dibebankan oleh pihak Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) hingga batasan masa kerja yang pada akhir tahun lalu jadi tuntutan SEBIMA dalam pawai akbar pekerja migran.
Menurut SEBIMA, tingginya biaya yang harus dikeluarkan oleh pekerja migran Indonesia (PMI) untuk bekerja ke Taiwan sangat besar, sekitar Rp60 juta sampai Rp80 juta. Padahal, sepengetahuan Ignas, total biaya wajarnya adalah Rp 25 juta.
Situasi ini, kata Ignas, membuat banyak PMI terjerat utang dan terlibat kerja berlebih yang tidak sehat karena memiliki beban yang harus dibayarkan.
"Sementara di sini tidak jarang teman-teman juga menghadapi ketidakpastian di tempat kerja. Misalnya PHK sepihak," kata Ignas.
Selain itu, rapat tahunan juga fokus pada pembenahan internal dan program-program ke depan dalam mengajak PMI sektor formal untuk lebih sadar perlunya serikat, kata Ignas.
SEBIMA, menurut Ignas, telah memiliki 57 orang anggota di ulang tahun pertamanya ini, naik dari 43 saat pawai akbar tahun lalu dan sudah hampir mencapai dua kali lipat dibanding saat mereka dimulai, yakni 33.
"Kami secara langsung terus melakukan penyadaran ke kawan-kawan pentingnya berserikat. Terkait target angka tentu sebanyak-banyaknya. Tetapi yang jadi perhatian kami, selama ini SEBIMA ini terfokus di wilayah tengah ke utara Taiwan. Sementara ke bagian selatan, belum terlalu kelihatan. Jadi kami akan terus mendalami menggaungkan perlunya berserikat agar pekerja migran dan calon pekerja migran menyadari hak-hak mereka," kata dia.
Selesai/JC