Taichung, 18 Feb. (CNA) Feng Chia University (FCU) baru-baru ini memperkenalkan teknologi integrasi energi limbah makanan matang yang mampu memproses hingga 300 ton limbah setiap harinya.
Teknologi ini menggunakan sistem hidrolisis atomisasi suhu tinggi untuk mengurai kandungan minyak dan garam pada sisa makanan matang, yang kemudian dikonversi menjadi listrik hijau dan arang hayati, kata FCU.
FCU dan Riqian Development Co. pada 12 Februari menandatangani kontrak kerja sama industri-akademisi serta program beasiswa bagi mahasiswa doktoral berprestasi, sekaligus mempublikasi teknologi yang diklaim memiliki tiga keunggulan utama: efisiensi tinggi, rendah polusi, serta implementasi yang cepat.
Profesor Chu Cheng-yeon (朱正永), peneliti utama dari Pusat Riset Produk Hijau FCU, mengatakan kepada CNA bahwa sebagian besar fasilitas pengolahan limbah makanan di Taiwan saat ini berfokus pada fermentasi anaerobik limbah makanan mentah.
Sementara itu, limbah makanan matang lebih sulit diproses karena mengandung minyak dan garam yang tinggi, kata Chu.
Jika langsung dimasukkan ke sistem anaerobik tradisional, diperlukan proses penghancuran, penghilangan minyak, dan penghilangan garam yang rumit, serta pembangunan tangki pencernaan biogas baru yang memakan biaya besar dan waktu lama, kata dia.
Chu menunjukkan bahwa teknologi baru ini memperkenalkan sistem hidrolisis atomisasi suhu tinggi yang secara efektif mampu memecah lemak dan senyawa organik kompleks pada makanan matang.
Setelah proses hidrolisis, produk sampingan cair akan masuk ke sistem fermentasi anaerob (IGPM) milik FCU untuk menghasilkan listrik melalui gas metana-hidrogen tanpa perlu membangun tangki pencernaan raksasa, ujarnya.
Sementara itu, produk sampingan padat akan dikonversi menggunakan sistem pembangkit listrik gasifikasi (OTWG) dari National Chung Hsing University, kata Chu.
Skema ini, menurut Chu, hanya membutuhkan waktu sembilan bulan pembangunan hingga siap beroperasi secara komersial.
Dengan kapasitas pengolahan 300 ton per hari, model percontohan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dalam upaya pemanfaatan sumber daya limbah organik dan pengembangan energi berkelanjutan, ujarnya.
Menurut rilis pers FCU, teknologi energi biomassa mereka telah berhasil di transfer ke luar negeri, termasuk Indonesia dan Thailand.
(Oleh Chao Li-yen dan Agoeng Sunarto)
Selesai/JC