Oleh Joseph Yeh dan Muhammad Irfan, reporter dan penulis staf CNA
Tidak seperti sebagian besar negara di dunia, Taiwan bukan anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan hanya diakui oleh sekitar selusin negara di seluruh dunia, di tengah marginalisasi internasional yang dihadapinya akibat tekanan dari Tiongkok.
Banyak dari sekutu Republik Tiongkok (ROC), nama resmi Taiwan, terletak jauh dari negara tersebut dan relatif tidak dikenal oleh masyarakatnya.
Ketidakakraban masyarakat Taiwan dengan teman-teman internasional ini memicu rasa ingin tahu Pegiat YouTube perjalanan Ben Wu (吳宇堯), yang memutuskan untuk memulai misi ambisius mengunjungi semua sekutu negara tersebut di seluruh dunia, pada 2018.
Wu mengatakan kepada CNA dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa ide untuk bepergian ke negara-negara yang jarang dikunjungi ini muncul hanya beberapa bulan setelah ia meluncurkan kanalnya pada Maret 2018, jauh sebelum mencapai popularitasnya saat ini dengan 668.000 pengikut.
"Saya sedang berada di kereta Trans-Siberian Railway dan membaca sebuah artikel berita tentang bagaimana kita (Taiwan) baru saja kehilangan Panama sebagai sekutu. Artikel itu juga mencantumkan 18 sekutu yang tersisa."
Sebagai seorang pelancong yang telah mengunjungi 85 negara, ia terkejut mengetahui bahwa ia hanya mengenal tiga di antaranya -- Haiti, Eswatini, dan Vatikan.
Ia merasa agak sedih karena kebanyakan orang di Taiwan hanya mendengar tentang sekutu negara ketika ada berita tentang putusnya hubungan bilateral.
"Saya berharap dengan mengunjungi sekutu-sekutu ini dan merekam keindahan alam serta makanan lezat mereka, masyarakat Taiwan bisa mengenal mereka."
Selain mengunjungi sekutu-sekutu ini untuk membantu masyarakat Taiwan lebih memahami mereka, Wu juga mengatakan kepada CNA bahwa ia ingin melihat secara langsung bagaimana pemerintah Taiwan membelanjakan uang pembayar pajak untuk mendukung mereka. "Saya ingin melihat sendiri apakah uangnya digunakan dengan baik."
Sebelum memulai perjalanannya, Wu mengirim surel ke Kementerian Luar Negeri (MOFA) untuk memberitahu lembaga pemerintah tersebut tentang rencana kunjungannya, meskipun ia tidak mengharapkan balasan.
Secara mengejutkan, ia menerima surel balasan, memintanya untuk mengunjungi MOFA untuk rapat terkait misi yang direncanakan.
Ironisnya, pada hari yang sama, 21 Agustus 2018, saat ia mengunjungi MOFA untuk rapat, Menteri Luar Negeri saat itu Joseph Wu (吳釗燮) baru saja mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan berakhirnya hubungan diplomatik Taiwan dan El Salvador yang telah berlangsung puluhan tahun.
"Jadi satu tujuan lebih sedikit untuk dikunjungi sebelum perjalanan dimulai."
Pada September 2018, Wu memulai tur besarnya, yang, karena logistik dan pengaturan transportasi, dibagi menjadi beberapa tahap.
Dari September hingga Oktober 2018, ia memulai kunjungan pertamanya ke sekutu Taiwan di Pasifik Selatan, yaitu, Tuvalu, Nauru (mengakhiri hubungan pada 2024), Kiribati (mengakhiri hubungan pada 2019), Kepulauan Marshall, dan Kepulauan Solomon (mengakhiri hubungan pada 2019).
Pada tahap kedua, ia mengunjungi satu-satunya sekutu diplomatik Taiwan di Afrika, Eswatini, dari November hingga Desember 2018.
Untuk tahap terakhir, ia mengunjungi sekutu Taiwan di Amerika Latin dan Karibia, termasuk Paraguay, Haiti, Saint Kitts and Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent and Grenadines, Belize, Guatemala, Honduras (mengakhiri hubungan pada 2023), dan Nikaragua (mengakhiri hubungan pada 2021) antara Maret dan Mei 2019.
Sebagai penutup, ia berbalik ke utara menuju satu-satunya sekutu diplomatik Taiwan di Eropa, Takhta Suci Vatikan, sebelum mengakhiri tur dengan kunjungan ke destinasi wisata Palau pada Oktober 2019, sebagai hadiah untuk merayakan pencapaian bersejarah tersebut.
Secara total, ia menghabiskan 387 hari untuk menyelesaikan perjalanan ke 17 negara.
Ketika ditanya negara mana yang paling berkesan, Wu mengatakan kepada CNA bahwa ia sangat menyukai masyarakat Eswatini, khususnya persahabatan dan kehangatan yang tulus antara masyarakat Taiwan dan lokal di sana.
Ia juga menyukai Pasifik Selatan, dan paling mengingat Kepulauan Marshall karena banyak orang Taiwan dan Jepang di sana, bahkan ada supermarket Formosa yang dimiliki warga negara Taiwan.
Wu mengenang satu anekdot menarik tentang perjalanannya ke Haiti, sebelum negara itu dilanda krisis politik, ekonomi, dan keamanan yang meluas setelah pembunuhan mantan Presiden Haiti Jovenel Moïse di rumahnya pada Juli 2021.
Kalimat pertama yang diucapkan Duta Besar Taiwan Hu Cheng-hao (胡正浩) kepadanya bukanlah kata-kata sambutan, melainkan "Apakah Anda perlu mengisi daya ponsel dan laptop Anda?"
Hal ini karena Haiti kekurangan jaringan listrik yang stabil, dan kedutaan Taiwan adalah salah satu dari sedikit tempat yang menyediakan listrik yang aman, katanya.
Bertahun-tahun setelah tur besarnya pada 2018-19, Wu kembali mengunjungi beberapa sekutu ini pada Oktober 2024 bersama Menteri Luar Negeri Lin Chia-lung (林佳龍), yaitu, St. Vincent and the Grenadines, Guatemala, St. Lucia, Belize, dan St. Kitts and Nevis.
Beberapa bulan kemudian, ia bergabung dengan TaiwanICDF, lembaga bantuan luar negeri yang didanai MOFA, ke Paraguay, pada September 2025.
Pengeluaran yang baik
Mengenai bagaimana uang pembayar pajak Taiwan digunakan di negara-negara sekutu ini, Wu mengatakan apa yang ia temukan cukup meyakinkan.
Misalnya, saat mengunjungi Paraguay dengan selang waktu enam tahun, ia melihat sendiri bagaimana ibu kotanya, Asunción, menjadi jauh lebih modern, sebagian berkat bantuan dari Taiwan.
Ia juga menyaksikan Sistem Informasi Kesehatan (HIS) yang dibangun Taiwan, yang memodernisasi sistem kesehatan masyarakat Paraguay dengan memperkenalkan sistem manajemen informasi kesehatan yang terkomputerisasi.
Wu mengatakan kepada CNA bahwa karena isolasi Taiwan di panggung dunia, Taiwan membutuhkan sekutunya untuk menyuarakan dukungan atas partisipasi internasionalnya.
Demikian pula, Taiwan membantu sekutu-sekutunya untuk berkembang lebih baik di segala bidang demi kesejahteraan rakyat mereka. Faktanya, bukan hanya Taiwan, setiap negara di dunia melakukan upaya diplomatik dan berusaha sebaik mungkin membantu mitra yang membutuhkan dan kurang berkembang."
"Saya pikir kerja sama dengan negara-negara sekutu seperti ini saling menguntungkan dan saling melengkapi satu sama lain," tambahnya.
Selesai/JC