Kamp budaya musim dingin anak imigran baru digelar 10 hari di Yunlin

09/02/2026 19:16(Diperbaharui 09/02/2026 19:16)

Untuk mengaktivasi layanantext-to-speech, mohon setujui kebijakan privasi di bawah ini terlebih dahulu

(Sumber Foto : China Youth Corps)
(Sumber Foto : China Youth Corps)

Taipei, 9 Feb. (CNA) Sebuah acara kamp budaya musim dingin untuk anak-anak imigran baru telah ditutup hari Jumat (6/2) setelah diselenggarakan selama sepuluh hari di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Yunlin, kata organisasi masyarakat China Youth Corps selaku pendukung terselenggaranya acara.

Rangkaian kegiatan dirancang dengan tema "Satu Hari, Satu Negara", di mana melalui pengalaman multikultural, para peserta diajak untuk mengenal budaya berbagai negara secara mendalam dari aspek kehidupan sehari-hari, bahasa, makanan, pakaian, hingga seni, kata China Youth Corps dalam rilis pers.

Materi kursus mencakup budaya dari Korea, Thailand, Jepang, Taiwan, Indonesia, Kamboja, Tiongkok, Malaysia, dan Vietnam, serta dikombinasikan dengan pembelajaran bahasa, pengalaman mengenakan pakaian tradisional, pembuatan kuliner khas, dan kegiatan kreatif lainnya, kata mereka.

(Sumber Foto : China Youth Corps)
(Sumber Foto : China Youth Corps)

Dengan pendekatan praktik dan interaksi dalam acara yang digelar asosiasi 社團法人雲林縣幼獅青年志願服務協會 melalui bantuan Dana Pengembangan Imigran Baru dari Direktorat Jenderal Imigrasi ini, anak-anak belajar secara alami sekaligus memperluas wawasan mereka, menurut China Youth Corps.

Kepala Sekolah Dasar Min Sheng, Tsai Cheng-lung (蔡正龍) menyatakan rasa terima kasih atas perhatian asosiasi terhadap pendidikan keluarga dan siswa pendatang baru, serta atas keterlibatan aktif mereka dalam menyediakan sumber daya pendidikan dan promosi multikultural.

Asosiasi memberikan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan kaya pengalaman, sehingga anak-anak memiliki lebih banyak kesempatan belajar yang beragam dan bermakna, kata Tsai.

Po Li-wei (薄力瑋), ketua asosiasi, menyampaikan bahwa kamp ini menjawab kebutuhan nyata anak pendatang baru terkait sumber daya pendidikan, identitas budaya, dan motivasi belajar.

Melalui kurikulum multikultural, kesenjangan sumber belajar dapat dikurangi, penguatan identitas diri berhasil dilakukan, dan kemampuan pemahaman lintas budaya dan wawasan internasional dapat dikembangkan, kata Po.

(Sumber Foto : China Youth Corps)
(Sumber Foto : China Youth Corps)

Po mengatakan anak-anak membangun rasa percaya diri melalui pembelajaran yang menyenangkan dan meletakkan dasar yang baik untuk masyarakat yang inklusif di masa depan.

Melalui kegiatan ini, kata China Youth Corps, para pelajar di Desa Linnei, Yunlin dapat memperluas wawasan mereka melalui pengalaman multikultural selama sepuluh hari, sekaligus menunjukkan perhatian dan dukungan berbagai pihak terhadap pendidikan dan promosi budaya bagi anak imigran baru.

Anak-anak, melalui proses belajar yang menghargai dan memahami keberagaman budaya, diharapkan dapat menjadi kekuatan penting dalam mendorong terciptanya masyarakat inklusif di masa depan, kata China Youth Corps.

(Oleh Jason Cahyadi)

Selesai/ML

(Sumber Foto : China Youth Corps)
(Sumber Foto : China Youth Corps)
How mattresses could solve hunger
0:00
/
0:00
Kami menghargai privasi Anda.
Fokus Taiwan (CNA) menggunakan teknologi pelacakan untuk memberikan pengalaman membaca yang lebih baik, namun juga menghormati privasi pembaca. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebijakan privasi Fokus Taiwan. Jika Anda menutup tautan ini, berarti Anda setuju dengan kebijakan ini.
Diterjemahkan oleh AI, disunting oleh editor Indonesia profesional.