Washington, 5 Feb. (CNA) Para pemimpin dua negara adidaya dunia membahas isu Taiwan dalam sebuah percakapan telepon pada Rabu (4/2), di mana Presiden Tiongkok Xi Jinping (習近平) mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menangani penjualan senjata ke Taipei "dengan kehati-hatian."
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan ia telah melakukan percakapan yang "sangat baik, panjang, dan menyeluruh" dengan Xi, membahas topik seperti perdagangan, urusan militer, rencana kunjungannya ke Tiongkok, dan Taiwan. Ia tidak merinci pembahasan mengenai Taiwan.
Trump juga mengatakan Xi akan mempertimbangkan untuk meningkatkan pembelian kedelai Tiongkok dari AS menjadi 20 juta metrik ton pada musim ini, naik dari kesepakatan sebelumnya sebesar 12 juta ton.
Sementara itu, menurut Xinhua News Agencyyang dikelola pemerintah Tiongkok, Xi mengatakan kepada Trump selama percakapan tersebut bahwa masalah Taiwan "adalah isu terpenting dalam hubungan Tiongkok-AS," dan bahwa Taiwan adalah bagian yang tak terpisahkan dari Tiongkok.
"Amerika Serikat harus menangani isu penjualan senjata ke Taiwan dengan kehati-hatian," kata Xi seperti dikutip kepada Trump.
Fokus Xi pada penjualan senjata ini terarah ke persetujuan Washington pada Desember lalu atas paket penjualan senjata senilai rekor US$11,1 miliar (Rp187 triliun) ke Taiwan.
Pada Rabu, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada CNA bahwa kebijakan AS terkait Taiwan tidak berubah.
"Kebijakan Satu Tiongkok AS, sebagaimana kebijakan lintas Selat kami secara kolektif dikenal, didasarkan pada Undang-Undang Hubungan Taiwan (TRA), tiga Komunike Bersama AS-RRT, dan Enam Jaminan kepada Taiwan," kata pejabat yang tidak disebutkan namanya itu, menanggapi permintaan komentar CNA mengenai isu tersebut. "Tidak ada perubahan pada kebijakan kami terkait Taiwan."
Di Taiwan, Presiden Lai Ching-te (賴清德) mengatakan kepada wartawan pada Kamis bahwa Washington dan Taipei selalu menjaga komunikasi yang erat.
Sejauh pengetahuannya, kata Lai, Trump menegaskan kembali sikap lama AS terhadap Taiwan, yang didasarkan pada TRA dan Enam Jaminan, dalam percakapan terbarunya dengan Xi.
"Hubungan Taiwan-AS sangat kokoh, dan semua proyek kerja sama yang sedang berjalan tetap berlanjut," kata Lai kepada wartawan saat kunjungan ke Kabupaten Changhua.
TRA, yang disahkan menjadi undang-undang oleh mantan Presiden AS Jimmy Carter pada 10 April 1979, berjanji untuk menyediakan perlengkapan dan layanan pertahanan kepada Taiwan guna membantu mempertahankan kemampuan pertahanannya sendiri.
Sementara itu, berdasarkan Enam Jaminan yang diperkenalkan oleh pemerintahan mantan Presiden AS Ronald Reagan pada 1982, AS sepakat untuk tidak berkonsultasi dengan Beijing mengenai penjualan senjata ke Taiwan dan tetap netral dalam isu klaim kedaulatan Tiongkok atas Taiwan.
Selesai/IF