Taipei, 21 Jan. (CNA) Seorang anak perempuan berusia belasan tahun di Taichung diduga terinfeksi virus Parvovirus B19 dan meninggal dunia akibat miokarditis akut, sehingga otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap infeksi virus tersebut.
CNA telah merangkum pengertian, cara penularan, gejala, penanganan, serta langkah pencegahan virus Parvovirus B19 untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh kepada masyarakat, sebagai berikut:
Apa itu Virus Parvovirus B19?
Dokter epidemiologi dari Pusat Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, Lin Yung-ching (林詠青), menjelaskan bahwa Parvovirus B19 merupakan penyebab eritema infeksiosa, yang di Jepang dikenal sebagai “penyakit apel”. Ia menekankan bahwa meskipun sebagian besar kasus menunjukkan gejala ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya, infeksi ini dalam kondisi tertentu berpotensi menimbulkan komplikasi serius, termasuk gangguan pada organ vital.
Cara Penularan
Berdasarkan keterangan Pusat Pengendalian Penyakit, virus Parvovirus B19 menular dengan cara yang serupa dengan sebagian besar penyakit infeksi saluran pernapasan, yaitu melalui percikan droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Masa inkubasi virus ini umumnya berkisar antara empat hingga 14 hari, dan penderita sudah dapat menularkan virus sebelum munculnya gejala khas berupa ruam.
Gejala
Gejala infeksi Parvovirus B19 pada umumnya bersifat ringan, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot, yang menyerupai gejala influenza dan dapat sembuh dengan sendirinya. Ciri khas infeksi ini adalah munculnya ruam merah cerah pada kedua pipi, sementara area sekitar mulut biasanya tidak terdampak, sehingga dikenal sebagai “penyakit apel”.
Dalam beberapa hari, ruam dapat menyebar ke batang tubuh dan anggota gerak, membentuk pola kemerahan menyerupai jaring. Pada orang dewasa, ruam relatif jarang ditemukan, sementara nyeri sendi dan peradangan sendi lebih sering terjadi dan umumnya bersifat sementara.
Lin Yung-ching menjelaskan bahwa dalam kasus tertentu, virus ini dapat menyerang sistem organ lain. Pada penderita penyakit darah, infeksi dapat mengganggu pembentukan sel darah dan memperberat kondisi anemia. Pada individu dengan daya tahan tubuh rendah, infeksi dapat berlangsung lebih lama dan menunjukkan gejala yang lebih berat. Sementara itu, pada ibu hamil, infeksi berisiko menyebabkan anemia janin, edema, hingga kematian janin dalam kandungan.
Komplikasi
Menurut hasil penelitian sebelumnya, Parvovirus B19 juga dapat menimbulkan komplikasi pada jantung, sistem saraf, hati, dan ginjal. Komplikasi berat yang dapat terjadi antara lain miokarditis, ensefalitis atau meningitis, serta peradangan hati dan ginjal. Otoritas kesehatan mencatat bahwa kasus kematian paling sering berkaitan dengan komplikasi miokarditis, dengan tingkat fatalitas yang relatif tinggi dan perkembangan penyakit yang cepat.
Penanganan
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus maupun vaksin untuk Parvovirus B19. Penanganan medis dilakukan melalui terapi suportif, dengan fokus pada perawatan gejala dan pemantauan kondisi pasien sesuai tingkat keparahan.
Pencegahan
Pusat Pengendalian Penyakit mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk mencuci tangan secara teratur dan menggunakan masker saat berada di luar rumah. Kelompok berisiko tinggi, seperti penderita penyakit darah kronis, individu dengan sistem kekebalan tubuh rendah, serta ibu hamil, disarankan menghindari kontak dengan orang yang menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan.
(Oleh Yu Hsiao-han dan Agoeng Sunarto)