Taoyuan, 18 Jan. (CNA) Pemerintah Kota Taoyuan memperluas program skrining kanker paru gratis pada 2026 dengan menargetkan 28.000 warga berisiko tinggi, termasuk tenaga medis, melalui pemeriksaan Low-Dose CT (LDCT) dan layanan bus CT keliling untuk meningkatkan deteksi dini.
Wali Kota Taoyuan Chang San-cheng (張善政) mengatakan perluasan ini mencakup warga yang pernah menderita tuberkulosis, penderita kanker payudara beserta keluarga hingga derajat kedua, warga berusia di atas 40 tahun yang tinggal di sekitar pembangkit listrik dan krematorium, serta tenaga medis dan keperawatan berprestasi yang untuk pertama kalinya dimasukkan dalam program skrining.
Chang menjelaskan, program skrining kanker paru menggunakan teknologi LDCT gratis bagi warga berusia di atas 40 tahun yang berisiko tinggi telah berjalan sejak Februari 2023 dan kini memasuki hampir tahun ketiga pelaksanaannya.
Menurutnya, perluasan sasaran skrining didasarkan pada bukti ilmiah yang menunjukkan kelompok-kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker paru, termasuk warga yang tinggal di sekitar delapan pembangkit listrik dan fasilitas pembakaran sampah di Taoyuan.
Hingga akhir tahun lalu, program ini telah melayani 57.935 orang dan berhasil mendeteksi 350 kasus positif kanker paru, dengan hampir 90 persen di antaranya ditemukan pada tahap awal. Untuk tahun ini, Pemerintah Kota Taoyuan menargetkan pemeriksaan terhadap 28.000 orang.
Chang juga menyoroti keunggulan layanan “Bus Skrining CT Keliling” milik Taoyuan, yang merupakan satu-satunya di Taiwan. Bus tersebut memungkinkan layanan skrining menjangkau daerah terpencil, seperti wilayah pesisir Guanyin dan kawasan pegunungan Fuxing.
Ia menambahkan, sejak mulai beroperasi pada November tahun lalu, bus CT keliling telah melakukan 16 kunjungan dan menskrining hampir 300 warga, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan layanan medis antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Selain itu, program skrining ini juga bekerja sama dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat National Taiwan University dengan memanfaatkan analisis data besar untuk menentukan kelompok berisiko tinggi secara lebih ilmiah dan tepat sasaran.
(Oleh Yeh Chen dan Agoeng Sunarto)