Taipei, 1 Jan. (CNA) Kementerian Tenaga Kerja (MOL) Taiwan mengonfirmasi pada hari Rabu (31/12) bahwa mereka akan membuka pusat perekrutan luar negeri pertamanya di Manila, Filipina, dan melonggarkan aturan perumahan untuk memungkinkan pekerja migran tertentu mengatur akomodasi mereka sendiri.
Pusat rekrutmen tersebut akan berlokasi di Kantor Ekonomi dan Budaya Taipei di Filipina, di Manila, kata Su Yu-kuo (蘇裕國), seorang pejabat dari Badan Pengembangan Tenaga Kerja (WDA) MOL, dalam konferensi pers di Taipei.
Pusat ini akan memungkinkan para pemberi kerja Taiwan untuk merekrut langsung pekerja migran asal Filipina.
Ketika ditanya oleh CNA berapa banyak pejabat yang akan dikirim ke pusat baru tersebut dan berapa banyak kasus yang diperkirakan akan ditangani setelah peluncurannya yang direncanakan pada kuartal pertama 2026, Su mengatakan detailnya "masih dalam tahap perencanaan."
• MECO menyambut rencana Taiwan untuk mendirikan pusat rekrutmen di Filipina
Su juga mengumumkan perubahan regulasi yang akan berlaku pada tahun 2026, termasuk mengganti nama kategori "pekerja keterampilan menengah" menjadi "pekerja keterampilan asing."
Taiwan memperkenalkan "Program Retensi Jangka Panjang Pekerja Keterampilan Asing" pada tahun 2022 atau yang juga dikenal sebagai Pekerja Teknis Tingkat Menengah (PTTM), yang memungkinkan pekerja migran yang telah bekerja di Taiwan lebih dari enam tahun untuk diklasifikasikan ulang sebagai pekerja keterampilan menengah, sehingga mereka memenuhi syarat untuk upah yang lebih tinggi dan potensi jalur menuju residensi permanen.
Mulai tahun 2026, kata Su, pekerja keterampilan asing akan diizinkan untuk mengatur akomodasi mereka sendiri dan tidak lagi diwajibkan tinggal di tempat tinggal yang disediakan pemberi kerja.
Di bawah aturan baru, tanggung jawab pemberi kerja untuk hunian akan bergeser dari model perawatan berbasis kewajiban menjadi model berdasarkan kesepakatan bersama antara pemberi kerja dan pekerja. Perubahan ini diharapkan dapat memberikan pekerja otonomi yang lebih besar atas pengaturan tempat tinggal mereka dan mendorong mereka untuk tetap tinggal di Taiwan, kata Su.
Ketika ditanya apakah kebijakan ini dapat memungkinkan pemberi kerja menghemat uang dengan mengalihkan biaya hunian kepada pekerja, Su mengatakan bahwa kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk tujuan tersebut.
• Taiwan akan membuka pusat rekrutmen luar negeri pertama
Sambil mengakui bahwa pekerja yang memilih tinggal di luar asrama akan menanggung biaya tambahan, Su mengatakan beberapa mungkin lebih memilih tinggal bersama teman atau rekan kerja, karena kehidupan di asrama sering kali melibatkan rutinitas dan aturan komunal.
Ia menambahkan bahwa pekerja juga dapat memilih untuk tetap tinggal di asrama yang disediakan pemberi kerja.
Menurut Su, sebagian besar pemberi kerja membebankan biaya sekitar NT$2.000 (Rp 1 juta) hingga NT$3.000 per bulan kepada pekerja migran di Taiwan untuk makan dan tempat tinggal.
Selesai/