Taipei, 25 Sep. (CNA) Hasil tes akhir dari kasus keracunan makanan yang mengakibatkan tiga kematian dan sembilan orang dirawat di Kabupaten Taitung pekan lalu menemukan jejak pestisida beracun di sampel dari semua korban, kecuali satu, kata Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) pada Selasa (24/9).
Terbufos, senyawa kimia berbahaya yang ditemukan dalam beberapa pestisida, terdeteksi pada semua sembilan pasien yang telah dirawat serta pada tubuh dua korban yang meninggal, CDC mengkonfirmasi.
Salah satu korban yang diyakini telah meninggal dalam insiden keracunan makanan yang sama belum diuji karena sampel potensialnya tidak disimpan, menurut CDC.
Berbagai otoritas telah menyelidiki insiden yang dimulai pada 17 September ketika seorang wanita berusia 83 tahun bermarga Tseng (曾) meninggal setelah makan nasi ketan millet yang dibuatnya.
Malam yang sama, sekitar 30 kerabat dan teman berkumpul di rumah Tseng di Desa Binmao untuk melayat, di mana sisa nasi ketan millet tersebut disajikan.
Dua dari para pelayat telah meninggal dan sembilan dirawat di rumah sakit pada dini hari berikutnya, dengan dokter di Taitung Mackay Memorial Hospital mencurigai bahwa keracunan neurotoksin menjadi penyebab wabah tersebut.
Penyelidik awalnya mencurigai bahwa daging siput dalam nasi ketan millet tersebut mungkin mengandung pestisida, tetapi tes skrining cepat yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Makanan dan Obat-obatan Taiwan (TFDA) pada 19 September tidak menemukan kejanggalan dalam sampel daging siput yang diambil dari dapur Tseng.
Namun, tes TFDA mendeteksi terbufos, senyawa kimia yang ditemukan dalam beberapa pestisida yang berpotensi membunuh manusia, dalam sampel "Limbah makanan" dari nasi ketan millet tersebut.
Wakil Direktur Jenderal TFDA Lin Chin-fu (林金富) mencatat bahwa orang yang berat badannya 60 kg dapat mati dengan mengonsumsi 96 mg terbofus, insektisida organofosfat yang sangat beracun yang dapat menyebabkan gejala seperti pupil mata mengecil, salivasi berlebih, muntah, bau napas seperti bawang putih hingga koma.
TFDA kemudian mengesampingkan keracunan yang tidak disengaja yang disebabkan oleh residu pestisida, dan Lin mengatakan kepada wartawan pada hari Sabtu bahwa keracunan makanan tersebut "Bukan akibat dari praktik pertanian biasa."
Keesokan harinya, Kantor Kejaksaan Distrik Taitung Taiwan mengatakan mereka sedang menyelidiki sumber millet dan proses persiapan nasi ketan mematikan tersebut, setelah mendeteksi hingga 1.323 miligram per kilogram terbufos dalam lumpang beras yang ditemukan di rumah Tseng.
Dalam sebuah konferensi pers rutin hari Selasa, juru bicara CDC Lo Yi-chun (羅一鈞) menjelaskan bahwa terbufos terdeteksi dalam darah atau urin dari semua 11 individu yang diuji dan hasilnya telah dikonfirmasi oleh ahli forensik di National Taiwan University dan Taipei Veterans General Hospital.
Juru bicara tersebut mengatakan bahwa dua korban yang selamat dari insiden keracunan masih dirawat di rumah sakit, sementara tujuh lainnya sudah dipulangkan.
Selesai/ ML