Taipei, 5 Agu. (CNA) Taiwan harus segera memperkuat kemampuan manufaktur pertahanan dalam negerinya agar menjadi lebih mandiri dalam menghadapi krisis dan memberikan waktu lebih banyak bagi sekutu potensial untuk merespons, kata seorang mantan pejabat pertahanan Amerika Serikat yang sedang berkunjung.
Jedidiah Royal, mantan Wakil Asisten Sekretaris Pertahanan Utama untuk Urusan Keamanan Indo-Pasifik, mengatakan kepada CNA di Taipei hari Selasa (4/8) bahwa pengembangan industri pertahanan dalam negeri Taiwan adalah prioritas yang sensitif terhadap waktu.
Royal mengatakan banyak pihak di Washington kecewa setelah Legislatif Taiwan yang dikuasai oposisi mengesahkan anggaran khusus pertahanan pada bulan Mei yang menghapus pendanaan untuk produksi pertahanan dalam negeri yang awalnya diusulkan oleh Kabinet.
Keputusan oposisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian pihak di Taiwan tidak merasakan "urgensi yang sama seperti yang saya rasakan saat ini mengenai pentingnya mengembangkan kapasitas manufaktur pertahanan dalam negeri Taiwan," ujarnya.
"Tapi mudah-mudahan, kita bisa melihat hal itu diperbaiki dalam beberapa bulan mendatang," kata Royal.
Setelah pengesahan anggaran khusus yang menyetujui pendanaan sebesar NT$780 miliar (Rp433,5 triliun) untuk membeli senjata buatan AS, Kabinet Taiwan mengusulkan anggaran khusus terpisah selama enam tahun dengan total NT$210 miliar untuk pengadaan drone produksi dalam negeri.
Partai oposisi Kuomintang (KMT) dan Partai Rakyat Taiwan (TPP) menanggapi dengan mengusulkan anggaran NT$240 miliar untuk drone buatan Taiwan, namun mereka ingin pendanaan tersebut diambil dari anggaran umum, bukan dari anggaran khusus terpisah yang didanai dengan menerbitkan utang.
Royal mengatakan bahwa jika terjadi krisis atau konflik di sepanjang First Island Chain -- yang membentang dari Jepang melalui Taiwan hingga Filipina dan Malaysia -- pasukan AS kemungkinan akan terlebih dahulu dikerahkan ke Jepang, Filipina, Korea Selatan, dan Australia sebelum menentukan langkah selanjutnya.
"Kita harus mengandalkan kapasitas industri pertahanan yang sudah ada di kawasan. Kita tidak bisa menciptakannya secara mendadak," ujarnya.
"Itulah basis industri pertahanan maju yang menurut saya perlu terus mendorong cara kita berkomunikasi dengan sekutu dan mitra tentang kebutuhan keamanan nasional kita sendiri dan apa yang kita harapkan dari hal ini," menurut Royal.
Taiwan harus terus memperkuat kemampuannya untuk menghadapi potensi kampanye pendaratan amfibi gabungan oleh Tiongkok, memperlambat setiap pasukan penyerang sebelum mereka dapat bergerak lebih jauh ke daratan, katanya.
Selain itu, Taiwan perlu memastikan dapat mempertahankan jalur komunikasi laut dan udara serta melindungi infrastruktur penting, ujarnya.
"Jadi menurut saya, kemampuan Taiwan untuk menciptakan waktu dengan strategi militernya sangatlah krusial. Dan selama Taiwan fokus pada hal itu, maka saya pikir Anda telah memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi dunia untuk datang dan bekerja sama bersama Anda dalam skenario yang paling menantang itu," kata Royal.
Royal mengunjungi Taiwan untuk pertama kalinya untuk berbicara di Forum Ketagalan ke-10, sebuah konferensi satu hari tentang keamanan Indo-Pasifik yang diselenggarakan bersama pada Selasa oleh Kementerian Luar Negeri dan Institut Riset Ekonomi Taiwan.
Selesai/ja