Taipei, 3 Agu. (CNA) National Pingtung University of Science and Technology (NPUST) mendorong pertukaran ekowisata antara Taiwan dan Indonesia dengan mengundang organisasi terkait serta para pemimpin komunitas dari Indonesia untuk datang ke sejumlah lokasi representatif di wilayah selatan.
Tim pengabdian masyarakat NPUST mendorong kerja sama dan pertukaran dengan Indonesian Ecotourism Network (INDECON), yang mengundang lima pemimpin komunitas dari Indonesia ke Kaohsiung dan Kabupaten Pingtung hingga Minggu (2/8).
Selama kunjungan, rombongan mengunjungi sejumlah lokasi, antara lain Suai-A-Ka Cultural Space di Distrik Liugui, Kaohsiung; kebun konservasi plasma nutfah dan museum budaya di kampung adat Kabalelradhane, Pingtung; pusat pengunjung kantor pengelola Taman Nasional Kenting; pengamatan kelomang malam hari di Wanlitong, Kelurahan Hengchun; serta perkebunan teh Gangkou, Desa Manzhou.
Profesor NPUST Chen Mei-hui (陳美惠) mengatakan pengalaman Taiwan yang layak dibagikan kepada rekan-rekan dari Indonesia adalah pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara matang.
Sebagai contoh, kantor pengelola Taman Nasional Kenting setiap tahunnya menggelar pelatihan bagi pemandu wisata komunitas serta memiliki mekanisme sertifikasi yang lengkap, dan mereka nantinya turut berperan sebagai petugas patroli dan pemantauan lingkungan yang menjalankan tugas konservasi alam, ucapnya.
Taiwan, kata Chen, pernah mengalami kerusakan lingkungan akibat pembangunan pesat, sehingga ia berharap Indonesia dapat menghindari jalan yang pernah ditempuh negara tersebut dengan menerapkan konsep ekonomi yang mengedepankan keberlanjutan, untuk menjaga kelestarian alam dan budaya yang berharga.
Chen juga mengatakan hubungan antara lembaga pengelola lahan, lembaga pengelola sumber daya hutan, dan masyarakat di Taiwan sangat baik. Model konservasi melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat juga merupakan pengalaman yang layak dibagikan, tambahnya.
Di sisi lain, Indonesia telah mengembangkan ekowisata selama lebih dari 30 tahun, memiliki keunggulan dalam pemasaran merek, membangun jaringan antarkomunitas, serta menarik wisatawan internasional, yang dapat dipelajari Taiwan dari Indonesia, kata Chen.
Manajer program INDECON Arifah Mufaradiba Daulay mengatakan kekuatan utama lembaga tersebut terletak pada jaringannya yang luas.
Seluruh komunitas mitra yang bekerja sama memiliki kecintaan yang besar terhadap kampung halaman mereka, ucapnya. Dengan berlandaskan pada pelestarian budaya dan perlindungan alam, mereka kemudian menambahkan nilai ekonomi melalui pengembangan ekowisata.
Selama kunjungan di Taiwan, ujarnya, ia juga mempelajari banyak hal, termasuk perhatian masyarakat setempat terhadap detail, nilai artistik dalam pengemasan produk, serta keramahan yang ditunjukkan pelaku industri pariwisata, yang membuat para peserta merasa disambut hangat.
Seorang peserta dari komunitas mitra INDECON, Andika, mengatakan bahwa dalam kegiatan pengamatan kelomang pada malam hari, ia sangat terkesan melihat bagaimana pelaku ekowisata berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap konservasi sehingga mereka terdorong untuk menjaga alam di kampung halamannya.
Model kerja sama antara kantor pengelola Taman Nasional Kenting dan masyarakat setempat juga memberinya banyak inspirasi, menurut Andika.
Andika mengatakan komunitasnya juga berada di sekitar taman nasional dan memiliki kekayaan ekosistem alam. Setelah kembali ke Indonesia, ia berharap dapat menerapkan mekanisme pemantauan berbasis relawan serta memperluas kerja sama dengan pemerintah.
(Oleh Huang Yu-jing dan Jason Cahyadi)
Selesai/IF